Pesan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Imam Mojtaba Khamenei kepada Jemaah Haji 2026

KHAMENEI.ID – Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, dalam pesan tertulisnya menyambut tibanya musim Haji Ibrahimi, mengategorikan rangkaian ritual dan zikir haji yang sarat misteri serta makna sebagai tanda-tanda abadi bagi umat manusia guna berhijrah menuju Allah Swt., membebaskan diri dari belenggu setan beserta sekutunya, serta melakukan ikhtiar tanpa henti dalam menunaikan taklif (kewajiban) Ilahi, melepaskan diri dari hawa nafsu, dan menggapai kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi. Seraya menyoroti kepatuhan bangsa Iran yang besar terhadap tanda-tanda ini—khususnya persenjataan spiritual “Allahu Akbar” sejak era Gerakan Islam, kemenangan Revolusi, masa Pertahanan Suci, hingga Perang Skenario Kedua (Perang Imposisi Kedua) dan Perang Skenario Ketiga (Perang Imposisi Ketiga) yang berhasil menggagalkan upaya musuh untuk menundukkan Iran, serta merefleksikan peristiwa kebangkitan spiritual bangsa yang menakjubkan—Beliau menegaskan: “Tahun ini, isu bara’ah (pernyataan sikap berlepas diri) dari kaum musyrik memiliki urgensi yang berlipat ganda. Kedalaman dan cakupan esensi bara’ah terhadap Amerika Serikat dan rezim Zionis telah melampaui batas ritual formal musim haji semata. Mulai saat ini, slogan ‘Mampuslah Amerika’ (Death to America) dan ‘Mampuslah Israel’ (Death to Israel) akan menjadi syiar yang lazim digaungkan oleh umat Islam dan kaum tertindas di dunia, khususnya generasi muda.”

Teks lengkap pesan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam kepada Umat Islam, yang dibacakan pagi ini oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Seyyed Abdul Fattah Navvab, Perwakilan Wali Faqih sekaligus Pemimpin Jemaah Haji Iran di Padang Arafah, adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim

Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik, Innal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk…
“Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat, dan seluruh kerajaan serta kekuasaan adalah milik-Mu dan bersumber dari-Mu…”

Musim haji tahun ini telah tiba. Para jemaah haji umat Islam telah mengenakan pakaian ihram penghambaan diri dan mengikrarkan kalimat talbiah guna berhijrah dari dimensi kehidupan materi dan fana menuju fase kehidupan Ilahi yang penuh kebahagiaan; sebuah tatanan hidup bertauhid yang berporos pada penghambaan kepada Allah swt Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi, serta menolak, menafikan, sekaligus berlepas diri dari segala bentuk tandingan-tandingan-Nya. Kendati demikian, momentum hijrah spiritual ini tidak hanya eksklusif bagi para ziarah dan jemaah haji Baitullah tahun ini semata, melainkan mencakup seluruh saudara-saudari muslim di Iran dan di segenap penjuru dunia; baik mereka yang telah dianugerahi gelar haji pada tahun-tahun sebelumnya, maupun mereka yang belum mendapatkan taufik untuk menunaikan ritual haji.

Prasyarat utama dari hijrah ini adalah mengenakan ihram secara permanen di atas poros zikir kepada Allah (Dzikrullah); melakukan tawaf yang berkesinambungan mengitari poros kebenaran; menegakkan sa’i yang kontinu di antara puncak-puncak krusial kewajiban Ilahi; melempar jumrah (rami) secara terus-menerus terhadap setan yang terkutuk beserta manifestasi tipu dayanya yang menyesatkan dan seluruh sekutunya; melakukan wukuf yang disertai konsentrasi penuh dan kepasrahan mutlak; memberikan pangan kepada fakir miskin yang lumpuh dan kaum musafir; mengorbankan hawa nafsu serta kecenderungan yang menyimpang; serta membersihkan noda batin di dalam diri. Di atas semua kondisi tersebut, prasyarat ini menuntut kesiapan untuk selalu mengabdi dan mengibarkan panji pembelaan terhadap kebenaran.

Baca Juga  Haji; Deklarasi Penolakan Tegas Islam Terhadap Diskriminasi

Atas dasar filosofi inilah, bangsa Iran di bawah miqat Revolusi Islam mengayunkan langkah di jalan hijrah ini, menyambut seruan Ibrahimi dari Khomeini yang Agung, menanggalkan pakaian ketundukan terhadap hegemoni asing, mengenakan ihram kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, serta dengan mengumandangkan talbiah dan berlari kecil (harwalah), berikhtiar melakukan tawaf di atas poros makrifat Islam murni yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., guna mendekatkan diri pada cahaya keadilan global yang menyinari dunia serta wilayah agung (kepemimpinan suci). Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd, Allahu Akbar ‘Alaa Maa Hadaanaa.

Benar, Allahu Akbar… dan melalui persenjataan spiritual Allahu Akbar inilah bangsa muslim Iran empat puluh tujuh tahun yang lalu bangkit melakukan revolusi, menumbangkan rezim thaghut, diktator, dan dependen Pahlavi, memotong tangan-tangan Amerika yang serakah lagi takabur dari bumi pertiwi, serta memutuskan total jaringan pengaruh Zionisme.

Melalui senjata Allahu Akbar pula, pasca-agresi rezim Ba’ats Saddam terhadap wilayah kedaulatan Iran, para pejuang yang gagah berani dan pemuda yang rela berkorban mengukir epos kepahlawanan delapan tahun Pertahanan Suci. Meskipun rezim Ba’ats kala itu disokong secara penuh oleh seluruh kekuatan Blok Timur dan Blok Barat, para pejuang berhasil memukul mundur agresi mereka. Resistensi tersebut dipertahankan secara kokoh dan teguh hingga bertahun-tahun kemudian dalam menghadapi blokade ekonomi, upaya kudeta, sanksi-sanksi unilateral yang zalim, serta gelombang serangan politik, propaganda, dan ekonomi para musuh terhadap Republik Islam.

Wallahu Akbar… senjata Allahu Akbar inilah yang memperkuat tali simpul pengikat umat Islam dan generasi muda pejuang Front Perlawanan; mulai dari Iran, Lebanon, Palestina, Irak, hingga Suriah; dari Afrika dan Yaman, hingga Afghanistan dan Pakistan, serta seluruh bangsa yang merdeka di dunia. Tali yang kokoh (Hablul Matin) ini bangkit membela kehormatan umat Islam dalam menghadapi para agresor perampas Zionis, meremukkan eksistensi ISIS, menggerakkan epos Thufan al-Aqsa, dan membuat napas rezim Zionis yang rapuh berada di ujung tanduk.

Allahu Akbar; benar, Allah tabaaraka wa ta’ala Maha Besar dari segala bentuk deskripsi manusia… Senjata Allahu Akbar ini menjadi tumpuan bagi Republik Islam Iran sehingga berhasil melumpuhkan rezim Zionis di bawah hantaman pukulannya yang dahsyat pada Perang Skenario Kedua (Juni 2025 / Khordad 1404), memberikan tamparan keras kepada agresor Amerika Serikat, dan menggagalkan total target musuh untuk menundukkan kedaulatan Iran.

Senjata Allahu Akbar pula yang menginjeksikan energi dan kekuatan sedemikian besar kepada bangsa Iran, sehingga pasca-peristiwa tragis gugurnya Pemimpin Agung kita, keturunan Baginda Nabi Besar saw., yakni Yang Mulia Ayatullah Agung Sayyid Ali Husseini Khamenei (Semoga Allah Meninggikan Kedudukannya yang Mulia) di tangan manusia-manusia paling durjana di dunia saat ini, bangsa ini mengalami kebangkitan Ilahi (Ba’tsat-e Elahi). Melalui kehadiran total di setiap lini yang membutuhkan perjuangan, mereka berhasil memukau mata dunia atas capaian-capaian yang membanggakan.

Baca Juga  Pesan Pemimpin Revolusi dalam Rangka Memperingati Hari Buruh dan Hari Guru

Allahu Akbar; sesungguhnya Allah tabaaraka wa ta’ala Maha Besar dari segala bentuk deskripsi manusia… Melalui senjata Allahu Akbar inilah para pejuang yang gagah berani dan personel angkatan bersenjata yang siap mengorbankan jiwa di Iran Islami, bersama-sama dengan para pejuang Front Perlawanan—khususnya Lebanon yang terkasih—meraih kemenangan yang gemilang berhadapan dengan dua kekuatan militer teroris yang bersenjata lengkap hingga ke gigi, yaitu koalisi Amerika-Zionis dalam Perang Skenario Ketiga. Berlandaskan tawakal kepada Zat Yang Maha Pengasih, serta memanfaatkan rudal dan pesawat nirawak (drone) mereka di sektor darat, udara, dan laut, mereka melakukan pelemparan jumrah (rami) terhadap Setan Besar—yaitu Amerika Serikat—dan hewan peliharaannya, rezim Zionis, sekaligus menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri pembuktian janji benar Ilahi terkait kemenangan bagi para mujahid di jalan Allah.

Dan sekali lagi, Allahu Akbar; tanpa ragu Allah tabaaraka wa ta’ala Maha Besar dari segala bentuk deskripsi manusia dan bala tentara-Nya (Junuduhu) pasti mengungguli kekuatan apa pun… Melalui senjata Allahu Akbar inilah, menyusul kebangkitan bangsa Iran dan Front Perlawanan, roda kebangkitan umat Islam universal akan terwujud. Sikap bara’ah terhadap kaum musyrik akan bertransformasi, meluas dari ritual pelemparan jumrah pada ibadah haji menuju realitas kehidupan personal, sosial, dan politik kaum muslimin di berbagai pelosok dunia.

Umat Islam dan bangsa-bangsa di kawasan ini memiliki potensi serta kepentingan bersama yang sangat besar, yang akan membentuk tatanan baru (new order) serta arsitektur masa depan kawasan dan global. Saya dengan ketulusan dan keikhlasan, menyerukan kepada seluruh negara dan pemerintahan Islam untuk menjalin persahabatan, kooperasi, dan kemitraan dalam kebajikan, demi melangkah bersama dalam koridor kemajuan umat Islam serta penyelesaian problematika dunia Islam.

Satu hal yang telah menjadi kepastian dalam konteks ini: jarum jam waktu tidak akan berjalan mundur, dan bangsa-bangsa serta wilayah di kawasan ini tidak akan lagi sudi menjadi tameng bagi pangkalan-pangkalan militer Amerika. Amerika Serikat, selain tidak akan lagi memiliki zona aman untuk melakukan destruksi dan menempatkan pangkalan militernya di kawasan ini, juga akan semakin terdegradasi dari posisi hegemonik masa lalunya hari demi hari. Rezim Zionis yang rapuh dan kanker ganas Israel pun telah mendekati fase-fase akhir dari usia mereka yang terkutuk. Atas karunia Ilahi dan selaras dengan pernyataan tegas serta visioner sepuluh tahun yang lalu dari Pemimpin Agung kita yang Syahid (Semoga Allah Menyucikan Jiwanya yang Bersih), rezim tersebut tidak akan menyaksikan waktu dua puluh lima tahun sejak tanggal deklarasi tersebut, Insya Allah.

Oleh karena itu, tahun ini isu bara’ah dari kaum musyrik memegang urgensi yang berlipat ganda. Kedalaman dan dimensi bara’ah terhadap Amerika Serikat dan rezim Zionis telah melampaui batas formalitas ritual di musim dan miqat haji, serta akan menggema di berbagai titik di Iran dan dunia. Pasca-hari-hari penuh berkah ini, pekikan “Mampuslah Amerika” dan “Mampuslah Israel” akan menjadi syiar yang lazim bagi umat Islam dan kaum tertindas di dunia, khususnya generasi muda.

Baca Juga  Kesetaraan Penuh Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Quran

Masa depan adalah milik umat Islam dan Peradaban Baru Islam. Masing-masing dari kita dapat mengambil peran sesuai dengan kadar tekad, kapasitas, dan tanggung jawab kita dalam merealisasikan serta mendekatkan masa depan tersebut.

Para ziarah dan jemaah haji Iran dalam penyelenggaraan haji tahun ini memikul peran yang efektif dan menonjol dalam menarasikan kemenangan Perang Skenario Ketiga kepada saudara-saudari muslim lainnya, guna menumbuhkan optimisme mereka akan masa depan yang cerah.

Saya mengimbau kepada seluruh jemaah haji yang terhormat untuk bersungguh-sungguh dalam memanjatkan doa demi disegerakannya kemunculan Juru Selamat Umat Manusia (Semoga Allah Menyegerakan Kemunculannya), serta berdoa bagi persatuan umat Islam, pembebasan Palestina dan Masjidil Aqsa, hilangnya penderitaan besar kaum muslimin, dan tercapainya kemenangan akhir menghadapi keangkuhan global (Istikbar Jahani). Saya pun memohon agar sudi menyertakan saya dalam doa-doa kebaikan Anda sekalian.

Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, serta curahkanlah pandangan kasih dan sayang-Mu kepada para jemaah haji dan seluruh umat Islam. Anugerahkanlah kepada mereka taufik untuk meraih haji yang mabrur, sinarilah hati mereka dengan cahaya makrifat dan bimbingan (bashirah), serta kokohkanlah tekad dan kehendak mereka untuk bergerak di jalan perbaikan kondisi umat serta kemenangan akhir atas musuh-musuh Islam.

Ya Allah! Turunkanlah karunia dan rahmat-Mu yang luas kepada arwah suci para martir di jalan Allah, khususnya para syuhada Front Perlawanan yang dipelopori oleh Pemimpin Agung kita yang Syahid (Semoga Allah Meninggikan Kedudukannya yang Mulia). Alirkanlah bagian pahala yang melimpah ke dalam ruh malakuti beliau dari ibadah haji para jemaah, peribadahan kaum ahli ibadah, serta ikhtiar para pejuang yang berada di bawah petunjuk dan kepemimpinan Sang Panglima Umat. Bantulah bangsa Iran dan umat Islam dalam melanjutkan jalan dan cita-cita luhur beliau.

Ya Allah! Turunkanlah selawat dan salam terbaik-Mu kepada junjungan dan pemimpin kami, Yang Mulia Al-Mahdi yang Dinantikan (Shalawat Allah dan Salam-Nya Tercurah Kepadanya dan kepada Para Leluhurnya yang Suci). Jadikanlah kami semua dan umat Islam berada di bawah naungan doa-doa beliau yang bersih lagi dikabulkan, serta sinarilah sekaligus hiasilah dunia ini dengan kedatangan beliau yang penuh berkah, sebagaimana yang telah Engkau janjikan; janji di mana hati kami dipenuhi dengan keyakinan mutlak atas kepastiannya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

Wassalamu ‘Alaa Jami’i Ikhwaninal Muslimin Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Sayyid Mujtaba Hosseini Khamenei
5 Khordad 1405 / 9 Dzulhijjah 1447 (26 Mei 2026)

Bagikan:
Terkait
Komentar