Produksi adalah Jihad: Ketika Bekerja Menjadi Bentuk Perlawanan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika bekerja dipandang sekadar cara mencari nafkah. Orang berangkat pagi, pulang petang, menerima upah, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Namun sejarah menunjukkan, ada situasi ketika bekerja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah ikhtiar untuk mempertahankan martabat bangsa, menjaga kehidupan masyarakat, bahkan menjadi bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Di tengah tekanan ekonomi, sanksi, dan berbagai upaya untuk melumpuhkan kemampuan sebuah negara berdiri di atas kakinya sendiri, aktivitas produksi tidak lagi sekadar urusan pabrik, mesin, atau angka pertumbuhan. Ia menjelma menjadi garis depan perjuangan. Di sanalah makna produksi adalah jihad menemukan relevansinya.

Dalam tradisi Islam, jihad tidak pernah dimaknai sesempit peperangan bersenjata. Jihad adalah perjuangan yang dilakukan ketika ada ancaman nyata terhadap kehidupan, nilai, dan masa depan. Ia menuntut kesungguhan menghadapi tekanan, bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa.

Makna itu tergambar dalam salah satu bagian Ziarah Aminullah, doa yang dinisbatkan kepada Imam Ali a.s:

أَشْهَدُ أَنَّكَ جَاهَدْتَ فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ وَعَمِلْتَ بِكِتَابِهِ وَاتَّبَعْتَ سُنَنَ نَبِيِّهِ

“Aku bersaksi bahwa engkau telah berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, mengamalkan Kitab-Nya, mengikuti sunnah Nabi-Nya, hingga Allah memanggilmu ke sisi-Nya. Dengan perjuanganmu itu, hujah Allah ditegakkan atas seluruh manusia”

Doa ini mengingatkan bahwa jihad bukan sekadar keberanian di medan perang. Jihad adalah keteguhan menjalankan amanah ketika menghadapi tekanan dan permusuhan. Ia adalah kesediaan tetap berdiri ketika orang lain berharap kita menyerah.

Di titik inilah makna jihad bertemu dengan dunia kerja dan produksi.

Musuh sebuah bangsa pada zaman modern tidak selalu datang dengan pasukan dan senjata. Kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi: embargo ekonomi, pembatasan perdagangan, sanksi finansial, hingga upaya memutus akses terhadap pasar dan teknologi. Serangannya tidak menghancurkan bangunan secara langsung, tetapi perlahan menggerus kemampuan masyarakat untuk hidup mandiri.

Baca Juga  Menghidupkan Ajaran Ahlul Bait: Ketika Sebuah Majelis Menjadi Penjaga Peradaban

Ketika sumber devisa ditekan, perdagangan dipersempit, investasi dipersulit, dan akses terhadap kebutuhan produksi dibatasi, sasaran akhirnya bukan sekadar angka-angka ekonomi. Yang ingin dilemahkan adalah kemampuan suatu bangsa untuk menghasilkan, mencipta, dan memenuhi kebutuhannya sendiri.

Karena itu, setiap orang yang tetap memproduksi, berinovasi, membuka lapangan kerja, dan menjaga roda ekonomi agar terus bergerak sesungguhnya sedang melakukan lebih dari sekadar aktivitas bisnis. Ia sedang mempertahankan daya hidup masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, produksi adalah cara sebuah bangsa mengatakan bahwa ia tidak akan menyerah.

Pandangan ini mengubah cara kita melihat pekerjaan sehari-hari. Seorang petani yang terus menanam meski biaya produksi naik, seorang nelayan yang tetap melaut ketika pasar sedang lesu, seorang pengusaha kecil yang mempertahankan usahanya di tengah krisis, hingga para insinyur yang terus menciptakan teknologi baru, semuanya mengambil bagian dalam perjuangan yang sering kali tidak disadari.

Mereka mungkin tidak mengenakan seragam militer. Mereka tidak berdiri di garis depan peperangan. Namun kerja keras mereka menjaga agar masyarakat tetap memiliki pangan, pekerjaan, dan harapan.

Gagasan ini kemudian menyentuh satu dimensi yang lebih dalam: niat.

Dalam Islam, nilai sebuah amal tidak hanya ditentukan oleh bentuk pekerjaannya, tetapi juga oleh tujuan yang melandasinya. Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, tetapi memperoleh makna spiritual yang berbeda. Yang satu bekerja semata demi keuntungan pribadi, sementara yang lain bekerja dengan kesadaran bahwa usahanya adalah pelayanan kepada masyarakat dan bentuk syukur kepada Allah.

Ketika produksi dilakukan dengan niat melayani manusia, mengurangi ketergantungan bangsa, menciptakan kesejahteraan bersama, dan mencari ridha Tuhan, pekerjaan itu melampaui statusnya sebagai aktivitas ekonomi. Ia berubah menjadi ibadah.

Baca Juga  Mencari Musuh di Cermin 

Pandangan ini menghadirkan etika yang menarik. Seorang produsen tidak cukup hanya menghasilkan barang sebanyak mungkin. Ia juga dituntut menjaga kualitas, kejujuran, keadilan dalam memperlakukan pekerja, serta memastikan produknya benar-benar membawa manfaat. Sebab jihad tidak pernah dapat dipisahkan dari akhlak.

Di sisi lain, konsep ini juga mengkritik budaya konsumtif yang hanya bangga menjadi pengguna tanpa pernah berusaha menjadi pencipta. Sebuah masyarakat akan sulit memiliki kemandirian jika lebih banyak mengimpor gagasan, teknologi, maupun barang daripada menghasilkan sendiri.

Produksi bukan hanya tentang membuat barang. Produksi juga berarti melahirkan ilmu, inovasi, karya seni, teknologi, hingga gagasan-gagasan yang memperkuat peradaban. Bangsa yang produktif adalah bangsa yang mampu menawarkan solusi, bukan sekadar membeli solusi dari pihak lain.

Dalam dunia yang saling terhubung seperti sekarang, ketahanan ekonomi menjadi bagian dari ketahanan nasional. Krisis global, konflik geopolitik, hingga perang dagang menunjukkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari jumlah tentaranya, tetapi juga dari kemampuannya memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri.

Karena itu, menghargai para pelaku produksi bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia adalah penghormatan terhadap mereka yang menjaga denyut kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, pesan tentang produksi adalah jihad mengajak kita melihat pekerjaan dengan cara yang lebih bermakna. Bekerja bukan hanya soal memperoleh penghasilan, melainkan juga tentang mengambil bagian dalam membangun masa depan bersama. Setiap usaha yang lahir dari kejujuran, ketekunan, dan niat melayani dapat menjadi bentuk perjuangan yang senyap, tetapi dampaknya nyata.

Barangkali tidak semua orang akan dikenang sebagai pahlawan di medan perang. Namun banyak orang dapat menjadi pejuang melalui bengkel, sawah, laboratorium, ruang kelas, kantor, atau pabrik tempat mereka berkarya. Di sanalah kerja memperoleh martabatnya yang paling tinggi: ketika ia tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menjaga harapan, kemandirian, dan kehidupan.

Baca Juga  Benarkah Generasi Muda Iran Kehilangan Harapan?
Bagikan:
Terkait
Komentar