Keadilan Imam Mahdi: Ketika Sejarah Menemukan Tujuan Akhirnya

KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang diam-diam selalu mengikuti perjalanan manusia sejak peradaban pertama berdiri: ke mana sesungguhnya sejarah bergerak? Apakah seluruh perang, revolusi, penemuan, pergantian kerajaan, hingga lahir dan runtuhnya ideologi hanyalah rangkaian peristiwa tanpa arah? Ataukah semuanya sedang menuju sebuah titik yang telah dijanjikan?

Dalam tradisi keagamaan, terutama Islam, sejarah bukanlah lingkaran yang berputar tanpa tujuan. Ia adalah perjalanan panjang menuju satu puncak: tegaknya keadilan yang sempurna. Di sinilah gagasan tentang kemunculan Imam Mahdi a.s memperoleh maknanya yang paling mendalam. Ia bukan sekadar kisah tentang hadirnya seorang penyelamat, melainkan tentang keyakinan bahwa sejarah pada akhirnya berpihak kepada keadilan.

Jika perjalanan umat manusia diibaratkan sebuah kafilah besar, maka sepanjang ribuan tahun ia telah melewati jalan-jalan yang terjal. Kadang harus menembus lembah yang gelap, mendaki pegunungan yang curam, melintasi padang berduri, bahkan terjebak dalam lumpur peperangan dan penindasan. Itulah wajah sejarah yang kita kenal: penuh kemajuan, tetapi juga sarat luka.

Namun perjalanan itu, menurut pandangan Islam, tidak berhenti di sana. Jalan yang berliku bukanlah tujuan. Ia hanyalah fase menuju sebuah jalan raya yang lapang, tempat manusia akhirnya dapat berjalan tanpa ketakutan dan tanpa penindasan. Jalan raya itu adalah masa kemunculan Imam Mahdi a.s.

Harapan semacam ini ternyata bukan milik Islam semata. Hampir seluruh agama besar mengenal gagasan tentang datangnya masa ketika kejahatan berakhir dan dunia dipenuhi kedamaian. Yang berbeda hanyalah cara masing-masing tradisi menggambarkannya. Akan tetapi, ada satu titik temu yang sulit dibantah: semua manusia, apa pun keyakinannya, merindukan keadilan.

Keinginan terhadap keadilan adalah naluri yang tidak pernah usang. Zaman boleh berubah, sistem politik boleh berganti, bahkan standar moral bisa mengalami pergeseran. Tetapi manusia tetap merasa terluka ketika menyaksikan ketidakadilan. Seorang anak kecil yang melihat temannya diperlakukan semena-mena pun sudah memahami bahwa ada sesuatu yang keliru. Seolah-olah keadilan memang telah ditanamkan sebagai bahasa universal dalam hati manusia.

Baca Juga  Tiga Teladan Rasulullah: Sabar, Adil, dan Akhlak yang Mengubah Peradaban

Karena itulah, hadis-hadis tentang Imam Mahdi a.s selalu menempatkan keadilan sebagai inti misinya. Salah satu sabda yang paling dikenal berbunyi:

يَمْلَأُ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Allah akan memenuhi bumi melalui dirinya dengan keadilan dan keseimbangan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi kezaliman dan penindasan”

Kalimat ini menarik bukan hanya karena menjanjikan datangnya keadilan, tetapi juga karena mengakui kenyataan bahwa dunia memang pernah dipenuhi ketidakadilan. Islam tidak mengajarkan optimisme yang naif. Ia mengakui bahwa sejarah sering kali dipenuhi darah, keserakahan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Namun pada saat yang sama, ia menolak pesimisme yang menganggap semua itu adalah akhir cerita.

Di titik inilah konsep Mahdawiyah menjadi lebih dari sekadar keyakinan eskatologis. Ia adalah cara memandang sejarah dengan penuh harapan. Sebab jika tujuan akhir sejarah adalah keadilan, maka setiap upaya menegakkan keadilan pada hari ini sesungguhnya sedang berjalan searah dengan arus besar sejarah itu sendiri.

Sebuah riwayat dari Imam Muhammad al-Jawad a.s memberikan gambaran yang lebih dalam mengenai sosok Imam Mahdi a.s. Ketika ditanya tentang Al-Qa’im, beliau menjelaskan:

إِنَّ الْقَائِمَ مِنَّا هُوَ الْمَهْدِيُّ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يُنْتَظَرَ فِي غَيْبَتِهِ وَيُطَاعَ فِي ظُهُورِهِ… فَيَمْلَأَ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

“Al-Qa’im dari kalangan kami adalah Al-Mahdi. Pada masa gaibnya ia wajib dinantikan, dan ketika ia muncul wajib ditaati. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman. Sekalipun dunia hanya tersisa satu hari, Allah akan memanjangkan hari itu hingga janji tersebut terwujud”

Riwayat ini menyimpan pesan yang sering luput dari perhatian. Imam Mahdi a.s bukan sekadar tokoh masa depan yang ditunggu tanpa melakukan apa pun. Justru penantian itu sendiri adalah sebuah sikap moral. Karena itu, pada akhir hadis tersebut Imam al-Jawad a.s menegaskan, “Amalan terbaik para pengikut kami adalah menanti datangnya kelapangan”

Baca Juga  Islamofobia dan Proyek Islam Kaffah: Mengapa Dunia Takut pada Kebangkitan Islam

Menunggu, dalam pengertian ini, jelas bukan berdiam diri.

Seorang petani yang menunggu musim panen tetap mengolah sawahnya. Seorang pelaut yang menunggu angin baik tetap memperbaiki kapalnya. Begitu pula seorang mukmin yang menanti kemunculan Imam Mahdi a.s tidak menghabiskan waktunya dengan spekulasi tentang kapan beliau datang, melainkan sibuk membangun masyarakat yang lebih adil, lebih jujur, dan lebih manusiawi.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini menjadi kritik terhadap dua kecenderungan ekstrem. Di satu sisi, ada orang yang kehilangan harapan sehingga menganggap dunia tidak mungkin berubah. Di sisi lain, ada pula yang merasa mampu menghadirkan masyarakat sempurna hanya dengan kekuatan manusia semata. Konsep Mahdawiyah berada di antara keduanya. Ia mengajarkan bahwa perubahan adalah keniscayaan, tetapi kesempurnaan akhirnya merupakan bagian dari janji Tuhan.

Bahkan cara kemunculan Imam Mahdi a.s sendiri mengandung pelajaran penting. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Allah dapat mempersiapkan segala urusan beliau hanya dalam satu malam, sebagaimana Nabi Musa a.s berangkat mencari api untuk keluarganya, tetapi pulang sebagai seorang nabi.

Perubahan besar ternyata tidak selalu didahului oleh tanda-tanda yang mudah dikenali. Kadang sejarah berbelok dalam waktu yang sangat singkat. Apa yang selama ini tampak mustahil, tiba-tiba menjadi kenyataan ketika kehendak Tuhan bekerja.

Di tengah dunia yang masih dipenuhi perang, kesenjangan ekonomi, eksploitasi manusia, dan krisis moral, keyakinan akan datangnya masa keadilan bukanlah pelarian dari kenyataan. Justru ia adalah energi untuk tetap menjaga harapan ketika fakta-fakta sehari-hari sering kali membuat manusia putus asa.

Barangkali inilah makna terdalam dari penantian terhadap Imam Mahdi a.s. Bukan sekadar menunggu hadirnya seorang penyelamat, melainkan menjaga agar api keadilan tidak pernah padam di dalam diri. Sebab sejarah, menurut keyakinan ini, memang sedang berjalan menuju cahaya. Dan setiap langkah kecil yang membela kebenaran sesungguhnya telah menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju hari ketika bumi benar-benar dipenuhi keadilan.

Baca Juga  Imam Mahdi dan Keadilan yang Dinanti Dunia
Bagikan:
Terkait
Komentar