KHAMENEI.ID– Ada satu penyakit yang diam-diam menggerogoti banyak masyarakat modern: keyakinan bahwa keadaan tidak mungkin berubah.
Kita melihat perang yang tak kunjung usai, ketimpangan ekonomi yang semakin lebar, korupsi yang terus berulang, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang seolah menjadi bagian permanen dari kehidupan. Di tengah pemandangan itu, banyak orang mulai kehilangan harapan. Mereka tidak lagi bertanya bagaimana memperbaiki keadaan, melainkan kapan harus menyerah menerimanya.
Dalam suasana seperti itu, konsep intizar atau menunggu dalam ajaran Islam sering kali disalahpahami. Banyak orang mengira menunggu berarti pasif. Duduk diam. Tidak melakukan apa-apa. Menanti keajaiban datang dari langit.
Padahal makna sejati intizar justru sebaliknya.
Dalam tradisi Islam, menunggu datangnya pertolongan Tuhan atau faraj bukanlah sikap menyerah kepada keadaan. Ia adalah keyakinan bahwa tidak ada jalan buntu yang bersifat abadi. Selalu ada kemungkinan terbukanya pintu yang hari ini tampak tertutup rapat.
Karena itu, konsep menunggu kemunculan penyelamat akhir zaman sesungguhnya lebih luas daripada sekadar menanti satu peristiwa besar di masa depan. Ia adalah cara pandang terhadap kehidupan. Cara memandang sejarah. Cara memahami bahwa kezaliman bukanlah takdir terakhir dunia.
Sejarah manusia berkali-kali membuktikannya.
Tidak ada kekuasaan zalim yang bertahan selamanya. Tidak ada sistem penindasan yang benar-benar abadi. Firaun pernah tampak tak terkalahkan. Imperium-imperium besar pernah menganggap diri mereka penguasa dunia. Namun semuanya akhirnya menjadi catatan sejarah.
Yang bertahan justru nilai-nilai yang diperjuangkan para pembela kebenaran.
Karena itulah ajaran tentang faraj atau keterbukaan jalan mengajarkan sesuatu yang sangat relevan bagi manusia modern: jangan pernah menganggap keadaan buruk sebagai nasib yang tidak bisa diubah.
Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, ia mungkin merasa hidupnya berakhir. Ketika sebuah bangsa mengalami krisis panjang, rakyatnya bisa merasa masa depan telah tertutup. Ketika seseorang berkali-kali gagal, ia dapat meyakini bahwa tidak ada lagi kesempatan.
Padahal inti dari intizar adalah keyakinan bahwa selalu ada kemungkinan bagi perubahan.
Faraj secara harfiah berarti terbukanya kesempitan. Jalan keluar dari kebuntuan. Terbitnya cahaya setelah gelap yang panjang.
Menariknya, dalam banyak riwayat Islam, menunggu datangnya pertolongan Tuhan disebut sebagai salah satu amal yang paling utama.
Nabi Muhammad saw bersabda:
أَفْضَلُ أَعْمَالِ أُمَّتِي انْتِظَارُ الْفَرَجِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Amal terbaik umatku adalah menantikan pertolongan dan kelapangan dari Allah.”
Mengapa menunggu bisa disebut sebagai amal?
Karena yang dimaksud bukanlah menunggu secara pasif.
Menunggu dalam pengertian ini adalah sebuah tindakan batin yang melahirkan gerak lahir. Ia adalah penjaga harapan ketika semua alasan untuk berharap tampak hilang. Ia adalah tetap bekerja ketika hasil belum terlihat. Ia adalah tetap menanam meski musim panen belum tiba.
Orang yang benar-benar menunggu masa depan yang lebih baik akan mempersiapkan dirinya untuk masa depan itu.
Seorang pelajar yang menunggu kelulusan tetap belajar. Seorang petani yang menunggu panen tetap merawat tanamannya. Seorang pejuang keadilan yang menunggu perubahan tetap berusaha memperbaiki masyarakatnya.
Harapan yang sejati selalu melahirkan tindakan.
Karena itu, intizar bukan keadaan diam. Ia adalah energi. Ia adalah dorongan untuk terus bergerak meski hasil belum tampak di depan mata.
Al-Qur’an menggambarkan semangat ini dalam sebuah janji yang sangat kuat:
وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ
“Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka pewaris.” (QS. Al-Qasas: 5)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia berbicara tentang pola sejarah. Bahwa mereka yang hari ini tertindas belum tentu akan selamanya berada di bawah. Bahwa kelemahan bukanlah identitas permanen.
Dalam ayat lain, Nabi Musa a.s menghibur kaumnya yang sedang berada di bawah tekanan Firaun:
إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya bumi ini milik Allah. Dia mewariskannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf: 128)
Pesan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Dunia mungkin sedang dipenuhi berita buruk. Ketidakadilan mungkin tampak lebih ramai daripada keadilan. Orang-orang baik kadang terlihat kalah dalam persaingan yang tidak sehat.
Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa yang terlihat hari ini bukanlah keseluruhan cerita.
Sejarah belum selesai ditulis.
Mungkin itulah sebabnya harapan menjadi salah satu kekuatan terbesar manusia. Bukan karena harapan membuat masalah hilang dengan sendirinya, melainkan karena harapan membuat manusia tetap memiliki alasan untuk bergerak.
Orang yang putus asa berhenti berusaha sebelum kekalahan datang. Sebaliknya, orang yang memiliki harapan sering menemukan jalan yang sebelumnya tidak terlihat.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, pelajaran terbesar dari konsep intizar adalah bahwa keputusasaan bukanlah pilihan seorang mukmin. Menunggu bukan berarti menyerah. Menunggu berarti percaya bahwa setiap malam memiliki fajar, setiap kesempitan memiliki kelapangan, dan setiap kebuntuan menyimpan kemungkinan untuk terbuka.
Sebab selama manusia masih percaya bahwa perubahan mungkin terjadi, selama itu pula harapan tetap hidup. Dan selama harapan hidup, masa depan belum pernah benar-benar tertutup.







