Sekilas Kenangan Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei tentang Sang Pemimpin yang Syahid (Bagian 1)

Sosok yang menjalani hidup sederhana sepanjang hayatnya, namun mampu mengguncang fondasi angkuh kesombongan dan dominasi global.

Berikut ini adalah kutipan dari satu-satunya wawancara yang pernah diberikan oleh Pemimpin Revolusi Islam, Imam Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, hingga saat ini. Selama bertahun-tahun, beliau senantiasa menghindari sorotan media maupun bentuk wawancara apa pun. Bahkan pada kesempatan yang luar biasa ini—yang dilakukan menjelang peringatan untuk menghormati kedudukan ilmiah dan spiritual Ayatullah Sayyid Javad Khamenei ra—beliau bersedia diwawancarai semata-mata untuk menunaikan kewajiban dan memberikan penghormatan kepada mendiang kakek beliau, Ayatullah Haj Sayyid Javad Khamenei.

Wawancara yang berlangsung pada tahun 2021 ini memakan waktu selama beberapa jam. Dalam perbincangan mengenai mendiang Ayatullah Sayyid Javad Khamenei, berbagai topik muncul—termasuk kenangan pribadi serta sejumlah kualitas luar biasa dan tak tertandingi dari sang Pemimpin Revolusi Islam yang syahid, Imam Ali Khamenei qs. Namun, bahkan saat menjawab pertanyaan, beliau berulang kali menekankan bahwa fokus utama percakapan tersebut adalah sosok ulama yang saleh dan bertakwa itu, serta terus mengarahkan kembali diskusi ke subjek utamanya. Oleh karena itu, pada dasarnya beliau tidak berniat untuk mendeskripsikan atau menguraikan berbagai dimensi kepribadian sang Pemimpin Revolusi Islam yang syahid. Meskipun demikian, wawancara ini memuat pernyataan-pernyataan yang sangat menarik dan patut untuk disimak. Atas dasar itulah, kami memilih bagian-bagian tersebut—yang sebagian besar berkaitan dengan sang Pemimpin Revolusi Islam yang syahid—untuk disajikan kepada para pembaca KHAMENEI.ID. Insya Allah, teks lengkap dari wawancara ini akan diterbitkan dalam buku peringatan untuk menghormati Ayatullah Sayyid Javad Khamenei (semoga jiwanya disucikan), yang berjudul Sahifeh-ye Parsayi, melalui penerbit Islamic Revolution Publications.

Berikut isi wawancara dengan Imam Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei hf yang disadur dari khamenei.ir berbahasa Inggris:

Pertanyaan: Salah satu poin yang sering disebutkan dalam kenangan lisan paman dan saudara-saudara Anda adalah kekaguman dan kedekatan istimewa yang dimiliki almarhum Ayatullah Sayyid Javad terhadap Imam Khamenei. Apakah Anda juga mengingat kejadian atau detail khusus mengenai hal ini?

Imam Sayyid Mojtaba Khamenei: Sang Pemimpin memiliki hubungan yang sangat penuh kasih dan dekat dengan ayahnya. Tentu saja, hubungan antara ayah dan anak biasanya memang memiliki ikatan emosional yang erat, namun seperti yang Anda catat, hubungan antara almarhum Ayatullah [Sayyid Javad Khamenei] dan ayah saya tampaknya bukan sekadar ikatan emosional; hubungan itu melampaui hal tersebut.

Mungkin alasan utamanya berkaitan dengan hal-hal tertentu yang pernah dilakukan ayah saya yang, seperti yang mereka katakan, sangat mengesankan bagi almarhum Ayatullah. Misalnya, tampaknya pada usia yang sangat muda, ayah saya memiliki dua orang murid—yang keduanya lebih tua darinya—yang datang kepadanya untuk belajar. Dan rupanya, salah satu dari orang ini kemudian mengundang ayah saya untuk berbicara dan menjelaskan hukum-hukum agama di sebuah majelis taklim perempuan.

Baca Juga  Mukjizat Darahmu: Dari Kesedihan Personal ke Ketangguhan Kolektif

Pada masa itu, di majelis semacam itu, seseorang biasanya membacakan hukum agama dari buku-buku yang ditulis dalam format tanya-jawab. Gaya modern Risalah-ye Tawzih al-Masaʾil belum menjadi hal yang umum. Rupanya, format itu baru meluas pada masa Ayatollah Borujerdi. Saya sendiri pernah memiliki dua buku tanya-jawab dari perpustakaan kakek dari pihak ibu saya. Bagaimanapun, kakek saya adalah seorang pebisnis di Bazaar dan memiliki buku-buku ini—salah satunya adalah karya tanya-jawab dari almarhum Ayatullah Sayyid Abul-Hasan, dan yang lainnya milik Ayatullah Syekh Abdul-Karim Haeri. Singkatnya, ayah saya tampaknya mengambil salah satu buku tanya-jawab tersebut dari almarhum ayahnya, yang kemudian memberikan bimbingan dan penjelasan kepadanya. Ia lalu pergi ke majelis tersebut dan berhasil menangani tugas itu dengan baik. Saat itu, ayah saya berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Secara alami, peristiwa seperti ini pasti meninggalkan kesan mendalam di benak almarhum Ayatullah [Sayyid Javad Khamenei].

Poin lainnya adalah kemampuan keilmuan ayah saya yang terlihat jelas di usia muda tersebut. Munculnya bakat akademisnya pasti juga memengaruhi persepsi almarhum Ayatollah terhadapnya. Tampaknya ketika almarhum Ayatollah mengajarinya Sharh al-Lumʿah, beliau memperhatikan jawaban ayah saya yang cepat dan berwawasan luas di kelas, lalu berkomentar bahwa “Ali-Agha adalah seorang mujtahid.” Tentu saja, pernyataan seperti itu pada usia tersebut tidak dimaksudkan sebagai konfirmasi harfiah atas ijtihad dalam arti konvensional, karena ayah saya kemudian menghabiskan waktu bertahun-tahun belajar di bawah bimbingan banyak ulama terkemuka. Sebaliknya, itu adalah bentuk pujian dan kekaguman atas kapasitas keilmuan ayah saya—artinya jika ia terus berada di jalan ini, ia kemungkinan besar akan mencapai tingkat ijtihad yang diakui dalam waktu yang relatif singkat.

Selain itu, ia menunjukkan kepatuhan yang luar biasa terhadap ayahnya dan menemaninya dalam berbagai urusan lain, seperti ziarah ke makam [Imam Ridha]. Tampaknya ketika almarhum Ayatollah hendak pergi berziarah, ayah saya—selama masa remajanya—terkadang ikut bersamanya. Di sepanjang jalan, orang-orang akan menyapa almarhum Ayatollah, tetapi karena beliau sering sibuk dengan salat sunnah atau melantunkan dzikir, ayah sayalah yang membalas sapaan mereka. Almarhum Ayatollah sangat berbakti pada salat sunnah (Nawafil) dan ibadah-ibadah yang dianjurkan (Mustahabbat). Ayah saya sering mengatakan bahwa ia telah membaca Ziyarat Jami’ah Kabirah begitu sering selama berziarah bersama ayahnya hingga akhirnya ia menghafalnya.

Bagaimanapun, hal ini memberikan ayah saya kesempatan yang lebih besar dibandingkan anak-anak lainnya untuk melayani ayahnya. Misalnya, ia berkomitmen untuk mengunjungi rumah ayahnya setiap hari. Mereka akan duduk bersama, membaca buku, dan terlibat dalam diskusi. Karena suasana kehidupan keilmuan yang mereka bagi, mereka juga memiliki hubungan intelektual yang lebih dalam. Jadi, di luar ikatan emosional, ada juga koneksi keilmuan yang alami di antara mereka.

Baca Juga  Haji: Manfaat Duniawi dan Ukhrawi dalam Perspektif Imam Ali Khamenei qs

Ayah saya pernah menceritakan sebuah kisah dari masa beliau menjabat sebagai Presiden. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menelepon orang tuanya setiap beberapa hari untuk berbicara dan menanyakan kabar mereka. Suatu hari, beliau berbicara dengan ayahnya selama beberapa menit sebelum berpamitan. Almarhum Ayatollah juga mengucapkan salam perpisahan. Kemudian, karena mengira panggilan telah berakhir, beliau berbicara dengan sangat lembut—seolah bergumam pada diri sendiri—dengan aksen Turki-nya yang manis: “Aku mencintaimu, Ali.” Beliau mengira telepon telah diletakkan, tetapi ayah saya masih memegang gagang telepon di tangannya dan mendengar kata-kata itu dengan jelas.

Secara keseluruhan, momen-momen seperti inilah yang, di luar hubungan ayah-anak yang biasa, menghasilkan dampak yang abadi. Semua hal ini berkontribusi pada ikatan emosional di antara mereka.

Tentu saja, mungkin faktor yang paling signifikan adalah peristiwa terkenal ketika almarhum Ayatullah mengalami kebutaan, yang membuat Imam Khamenei meninggalkan studinya di Qom dan kembali ke Mashhad untuk membantu ayahnya. Hal ini tentu memiliki pengaruh mendalam pada ikatan emosional di antara mereka. Pada awal 1960-an, kakek saya menderita katarak dan glaukoma, yang menimbulkan bahaya nyata dan mengharuskan seseorang untuk selalu berada di sisinya guna membantu, merawat, dan mengelola kebutuhannya. Paman saya, Mohammad, baru saja menikah. Bibi saya—yang lebih tua dari Paman Hadi—masih remaja. Putra-putra yang lebih muda, seperti Paman Hadi, juga masih terlalu kecil. Secara alami, orang pertama yang bisa memikul tanggung jawab itu adalah ayah saya. Namun, saat itu beliau berada di Qom dan berprestasi sangat baik secara akademis, belajar dengan serius, dan menghadiri berbagai pelajaran, termasuk pelajaran dari Ayatullah Borujerdi. Faktanya, dikatakan bahwa catatan beliau dari kelas Ayatullah Borujerdi termasuk di antara yang terpilih sebagai yang terbaik, dan beliau bahkan menerima pujian serta penghargaan untuk itu.

Beliau juga menghadiri kelas almarhum Imam [Khomeini] dan almarhum [Ayatullah] Damad, yang keduanya sangat beliau nikmati. Kelas Imam Khomeini sangat ramai, dan ayah saya sangat menyukainya. Kelas Ayatullah Damad lebih kecil, tetapi diskusinya sangat mendalam. Beliau juga menghadiri kelas almarhum [Ayatullah] Morteza Haeri yang sangat kecil. Pada satu titik, tampaknya hanya ada ayah saya sendiri. Artinya, kelas itu hanya memiliki satu siswa. Almarhum Tuan Haeri sangat menyukai ayah saya, dan beliau bahkan memberikan catatannya sendiri kepada ayah saya agar ia bisa memanfaatkannya.

Ketika ayah saya memutuskan untuk kembali ke Mashhad, beberapa gurunya, termasuk almarhum Haj Aqa Morteza, tidak senang dengan keputusannya untuk pergi. Tentu saja, beberapa ulama di Qom memuji beliau, dengan mengatakan bahwa beliau akan menjadi pemimpin utama atau pemimpin di Khorasan, yang maksudnya adalah sebagai Otoritas Keagamaan (Marjaʿiyyah). Hal-hal ini dengan jelas mencerminkan tingkat kemajuan dan pencapaian keilmuannya di Qom.

Baca Juga  Pembentukan Budaya Terkait Konsep Mendasar dan Utama Ibadah Haji

Oleh karena itu, beliau sempat tidak yakin tentang apa yang harus dilakukan. Pada saat yang sama, beliau merasakan tanggung jawab yang mendalam terhadap ayahnya. Selama periode itu, beliau pergi ke Teheran dan mengunjungi rumah almarhum Aqa Zia Amoli, putra dari Syekh Mohammad-Taqi Amoli, yang dengannya beliau menjalin kontak dan memiliki hubungan dekat. Ayah saya berkata kepadanya, “Setiap kali saya melihat masalah ini, saya melihat bahwa baik kehidupan duniawi maupun akhirat saya terletak di Qom. Tapi kondisi ayah saya seperti itu.” Almarhum Aqa Zia menjawab, “Jika Tuhan menghendaki, Dia akan mengatur baik kehidupan duniawi maupun akhirat Anda di Mashhad.” Ayah saya berkata bahwa begitu mendengar kata-kata itu, ia berpikir, “Betapa menariknya! Saya sebenarnya sudah mengetahui hal ini sendiri, tetapi mengapa saya tidak memperhatikannya?” Dan begitu saja, saat itu juga, beliau dapat dengan mudah memutuskan untuk kembali ke Mashhad.

Yang menarik adalah setelah membuat keputusan ini, pintu-pintu mulai terbuka baginya satu demi satu—dalam mengajar, di masjid-masjid, dalam menyampaikan khotbah, dan sebagainya.

Pertanyaan: Jadi, apakah setelah keputusan itulah aktivitas dakwah beliau di masjid-masjid Mashhad meningkat pesat?

Imam Sayyid Mojtaba Khamenei: Ya, sepanjang yang saya ingat, beliau aktif di dua masjid. Salah satunya adalah Masjid Karamat, yang memiliki posisi cukup sentral, dan yang lainnya adalah Masjid Imam Hassan as, yang kemudian diperluas. Masjid Imam Hassan as menjadi salah satu pusat utama berkumpulnya para aktivis di periode sebelum Revolusi—sebuah pusat perlawanan bagi para mahasiswa seminari (thalabah) dan mahasiswa universitas. Salah satu pemandangan yang terjadi berulang kali dan masih saya ingat dengan jelas adalah ketika ayah saya berdiri dan menyampaikan pidato, sementara banyak orang mengangkat alat perekam mereka tinggi-tinggi di udara untuk merekam suaranya. Setelah pidatonya selesai, orang-orang akan mengerumuninya dan suasana menjadi sangat ramai.

Pertanyaan: Jadi, apakah kembalinya Imam Khamenei ke Mashad demi ayahnya itulah yang meletakkan dasar bagi kesuksesan-kesuksesan beliau selanjutnya?

Imam Sayyid Mojtaba Khamenei: Secara alami, bantuan semacam itu tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Bagaimanapun, langkah yang beliau ambil demi ayahnya pasti akan membawa dampak dalam hidupnya, bahkan seandainya almarhum Ayatullah sendiri tidak menyadarinya—namun beliau tentu saja menyadarinya. Dampak dari berbakti kepada orang tua mungkin bermanifestasi secara berbeda bagi setiap orang. Sebagai contoh, Paman kami, Hassan, tetap tinggal di Mashad bersama almarhum Ayatullah dan istrinya ketika semua orang harus pindah ke Teheran. Beliau sendiri pernah mengatakan bahwa hasil dari pengabdiannya kepada orang tuanya adalah beliau menikmati kehidupan yang penuh kenyamanan dan ketenangan.

Bagikan:
Terkait
Komentar