KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang begitu besar hingga kata-kata terasa kehilangan maknanya. Namun, ada pula keyakinan yang membuat duka tidak berhenti sebagai air mata. Dalam tradisi spiritual Islam, kepergian seorang syahid bukan sekadar akhir kehidupan, melainkan sebuah perjumpaan dengan janji Tuhan yang melampaui seluruh imajinasi manusia.
Ketika Jenderal Qasem Soleimani gugur pada awal 2020, jutaan orang memenuhi jalan-jalan di berbagai kota Iran. Bagi banyak orang, itu adalah luapan cinta kepada seorang tokoh yang mereka kenal karena keberanian, kesederhanaan, dan pengabdiannya. Namun di balik lautan manusia yang mengiringi kepergiannya, terdapat pelajaran yang jauh lebih dalam daripada sekadar prosesi pemakaman. Ada pesan tentang bagaimana Tuhan memperlihatkan sebagian kecil dari kemuliaan seorang hamba, sementara bagian terbesar justru disembunyikan dari pandangan manusia.
Duka memang tak terelakkan. Kehilangan sosok yang dicintai selalu menyisakan ruang kosong dalam kehidupan. Bahkan bagi mereka yang memahami makna syahadah, menerima kenyataan tetap bukan perkara mudah. Kesedihan adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, iman mengajarkan bahwa kesedihan bukanlah tempat menetap, melainkan jembatan yang harus dilalui dengan kesabaran.
Dalam suasana berkabung itulah muncul sebuah harapan agar Allah menurunkan sakinah ketenangan yang tidak lahir dari hilangnya masalah, tetapi dari keyakinan bahwa setiap ketentuan-Nya mengandung hikmah yang lebih luas daripada apa yang mampu dijangkau oleh mata manusia.
Di titik ini, menarik untuk memperhatikan satu fenomena yang menyertai wafatnya Qasem Soleimani. Kota Kerman, tanah kelahirannya, memang dipenuhi oleh masyarakat yang mengenalnya secara langsung. Itu bisa dipahami. Namun yang lebih mengejutkan justru gelombang cinta yang muncul dari kota-kota lain. Tabriz, misalnya, dipenuhi jutaan orang yang turun ke jalan, menangis, dan memberikan penghormatan kepada seseorang yang sebagian besar dari mereka bahkan tidak pernah bertemu secara pribadi.
Peristiwa semacam itu bukan sekadar ekspresi emosional masyarakat. Ia menjadi isyarat bahwa ada bentuk penghargaan yang Allah tampakkan di dunia kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Seolah-olah Tuhan sedang memperlihatkan kepada manusia bahwa pengorbanan tidak pernah hilang begitu saja. Ada kemuliaan yang kadang sengaja diperlihatkan agar manusia belajar menghargai nilai sebuah pengabdian.
Namun jika ditarik lebih jauh, penghormatan jutaan manusia itu sesungguhnya hanyalah bagian yang paling kecil dari seluruh nikmat yang diterima seorang syahid.
Dalam pandangan Islam, penghormatan manusia bukanlah tujuan akhir. Kemuliaan sejati justru berada di sisi Allah. Apa yang terlihat di dunia hanyalah secercah cahaya dari sesuatu yang jauh lebih besar dan sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan bahasa manusia.
Rasulullah saw meriwayatkan sabda Allah:
قال الله تعالى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Allah berfirman: Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan bahkan belum pernah terlintas dalam hati manusia”
Hadis ini mengubah cara kita memandang kehidupan. Selama ini manusia terbiasa mengukur keberhasilan dari apa yang bisa dilihat: jabatan, popularitas, penghargaan, atau kekayaan. Padahal ukuran-ukuran itu sangat terbatas. Ada dunia yang tidak bisa dijangkau oleh indra. Ada karunia yang bahkan belum pernah muncul dalam imajinasi manusia.
Mungkin inilah sebabnya mengapa Al-Qur’an dan hadis berulang kali mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Apa yang tampak besar di mata manusia belum tentu bernilai besar di sisi Allah. Sebaliknya, pengorbanan yang mungkin tidak dikenal luas justru bisa menjadi sebab datangnya anugerah yang tak terhingga.
Gagasan ini kemudian menyentuh sisi yang sangat personal dari perjalanan hidup Qasem Soleimani. Bagi orang-orang terdekatnya, syahid bukanlah cita-cita yang datang menjelang akhir hayat. Itu adalah kerinduan yang telah lama tumbuh di dalam dirinya. Berkali-kali ia kehilangan sahabat seperjuangan di berbagai medan konflik. Kepergian mereka tidak membuatnya gentar, tetapi justru menumbuhkan harapan agar suatu hari ia dapat menyusul mereka.
Dikisahkan bahwa kerinduannya kepada syahadah begitu mendalam hingga sering kali membuatnya menangis. Air mata itu bukan lahir dari rasa takut menghadapi kematian, melainkan dari kerinduan bertemu dengan Tuhan melalui jalan yang diyakininya sebagai puncak pengabdian.
Karena itu, ketika kematian akhirnya datang, ia tidak sedang kehilangan sesuatu. Sebaliknya, ia diyakini sedang memperoleh apa yang selama ini ia dambakan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara cara pandang dunia dan cara pandang iman. Dunia melihat kematian sebagai kehilangan mutlak. Iman melihatnya sebagai perpindahan menuju kehidupan yang lebih luas, terutama bagi mereka yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah.
Tentu tidak semua orang dipanggil menjadi syahid di medan perang. Namun semangat yang melandasinya dapat hidup dalam setiap manusia. Syahadah pada hakikatnya adalah puncak dari kehidupan yang sepenuhnya diabdikan kepada kebenaran, keadilan, dan penghambaan kepada Allah. Jalan menuju Allah selalu dimulai dari kesetiaan dalam menjalankan amanah sehari-hari, sekecil apa pun bentuknya.
Mungkin kita tidak akan pernah mengetahui balasan yang Allah siapkan untuk setiap amal yang dilakukan dengan tulus. Mungkin pula sebagian besar karunia itu memang sengaja disembunyikan agar manusia tetap beramal karena cinta, bukan karena ingin segera melihat hasilnya.
Itulah sebabnya, ketika seorang hamba yang saleh berpulang, orang-orang beriman tidak hanya menangis karena kehilangan. Mereka juga menyimpan harapan bahwa di balik kesedihan yang tampak, ada kebahagiaan yang sedang dibukakan Allah bagi orang yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya dengan baik.
Barangkali penghormatan jutaan manusia hanyalah sebutir pasir di tepi samudra. Sementara lautan nikmat yang sesungguhnya telah Allah siapkan berada di alam yang tak mampu dijangkau mata, telinga, maupun khayalan manusia. Dan jika benar demikian, maka kepergian seorang syahid bukanlah kisah tentang akhir kehidupan, melainkan tentang tibanya seseorang di tujuan yang sejak lama ia rindukan.







