Universitas Bukan Sekadar Pabrik Gelar: Ketika Ilmu Kehilangan Arah

KHAMENEI.ID – Universitas sering dibayangkan sebagai tempat orang-orang berilmu berkumpul. Di sana mahasiswa belajar, dosen mengajar, laboratorium melakukan penelitian, dan para akademisi mengejar penemuan baru. Namun, bagi Syahid Ayatollah Ali Khamenei qs, pengertian universitas tidak berhenti pada aktivitas akademik semata.

Universitas, katanya, adalah tempat ilmu.

Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi di dalamnya terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar: ilmu untuk apa?

Sebab sebuah universitas tidak cukup hanya menghasilkan orang-orang pintar. Ia juga tidak cukup sekadar melahirkan penelitian yang memenuhi jurnal ilmiah. Lebih jauh dari itu, ilmu dan orang-orang berilmu harus memiliki arah yang benar.

Di sinilah Imam Khamenei merumuskan tiga tugas mendasar universitas: melahirkan ilmuwan, menghasilkan ilmu, dan memberikan arah yang benar kepada ilmu serta ilmuwan.

Tiga hal ini, dalam pandangannya, harus berjalan bersama.

Universitas yang hanya menghasilkan lulusan tanpa melahirkan ilmuwan akan kehilangan daya dorongnya. Universitas yang hanya menghasilkan ilmu tanpa melahirkan inovasi akan berjalan di tempat. Dan universitas yang menghasilkan ilmu serta ilmuwan tanpa arah moral dapat berubah menjadi mesin yang justru membahayakan manusia.

Persoalan terakhir inilah yang sering terlupakan.

Ilmu yang maju, tetapi manusia yang mundur

Kemajuan ilmu pengetahuan sering dianggap sebagai ukuran kemajuan peradaban. Semakin tinggi teknologi, semakin maju sebuah masyarakat. Semakin canggih laboratorium, semakin tinggi pula tingkat peradabannya.

Namun sejarah modern memberikan gambaran yang lebih rumit.

Ilmu pengetahuan telah membawa manusia pada pencapaian yang luar biasa. Ia membantu menyembuhkan penyakit, mempercepat komunikasi, memperpanjang usia, membuka ruang angkasa, dan mengubah cara manusia menjalani kehidupan.

Tetapi ilmu yang sama juga dapat digunakan untuk menciptakan kehancuran.

Pengetahuan tentang fisika dapat melahirkan pembangkit energi, tetapi juga bom atom. Kemajuan kimia dapat menghasilkan obat-obatan, tetapi juga senjata kimia. Biologi dapat digunakan untuk menyelamatkan kehidupan, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menciptakan ancaman biologis.

Baca Juga  Menjadi Syiah Tidak Cukup dengan Cinta Sebab di Hadapan Tuhan, Tidak Ada “Orang Dalam” 

Di sinilah pertanyaan tentang arah menjadi penting.

Ilmu tidak memiliki kehendak moralnya sendiri. Ia adalah alat yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Persoalannya bukan semata-mata seberapa jauh manusia mampu mengembangkan ilmu, melainkan ke mana ilmu itu diarahkan.

Manusia bisa saja menjadi semakin pintar, tetapi belum tentu menjadi semakin bijaksana.

Teknologi bisa menjadi semakin canggih, tetapi belum tentu kehidupan menjadi semakin manusiawi.

Karena itu, universitas tidak hanya dituntut untuk bertanya, apa yang bisa kita ciptakan? Ia juga harus berani bertanya, untuk apa kita menciptakannya?

Tiga tugas universitas

Dalam pandangan Imam Khamenei, tugas pertama universitas adalah menghasilkan ilmuwan. Bukan sekadar orang yang memiliki gelar akademik, tetapi manusia yang benar-benar memiliki kapasitas untuk berpikir, meneliti, menemukan, dan mengembangkan pengetahuan.

Tugas kedua adalah menghasilkan ilmu.

Sebuah negara tidak akan menjadi maju hanya dengan mengonsumsi pengetahuan yang diproduksi negara lain. Ia harus mampu menciptakan pengetahuan sendiri. Karena itu, universitas harus menjadi tempat untuk mendorong batas-batas ilmu pengetahuan, menembus garis depan penelitian, dan menemukan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui.

Imam Khamenei mengakui bahwa perjalanan itu tidak mudah. Masih terdapat ketertinggalan yang harus dikejar. Tetapi ia menekankan bahwa kemajuan ilmiah harus menjadi agenda yang berkelanjutan.

Sebab ketika ilmu berkembang, teknologi ikut bergerak.

Ketika teknologi berkembang, dampaknya terasa dalam kehidupan.

Dan ketika sebuah negara mampu menghasilkan ilmu serta teknologi yang dibutuhkan dunia, negara itu tidak lagi hanya menjadi konsumen. Dunia mulai memperhatikannya. Orang lain mulai membutuhkan pengetahuannya. Di situlah ilmu berubah menjadi kekuatan strategis.

Karena itu, perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sekadar ambisi akademik. Ia menyangkut masa depan sebuah bangsa.

Baca Juga  Benteng Keamanan Dimulai dari Luar Perbatasan

Namun dua tugas itu masih belum cukup.

Ada tugas ketiga yang justru menentukan arah keduanya: memberikan orientasi yang benar kepada ilmu dan ilmuwan.

Ketika ilmu kehilangan kompas

Imam Khamenei mengingatkan bahwa dalam sejarah peradaban material, ilmu pengetahuan pernah digunakan untuk menghasilkan berbagai bentuk kehancuran.

Ilmu menjadi dasar bagi penciptaan senjata nuklir. Ilmu kimia digunakan dalam perang. Pengetahuan biologis dapat disalahgunakan untuk menciptakan ancaman yang membahayakan kehidupan manusia.

Ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan moral.

Sebuah masyarakat dapat memiliki universitas terbaik, laboratorium tercanggih, dan ilmuwan paling brilian, tetapi tetap menghasilkan penderitaan jika seluruh pengetahuan itu diarahkan untuk kepentingan yang salah.

Karena itu, universitas harus memiliki kompas.

Ilmu harus diarahkan pada manfaat. Teknologi harus diarahkan pada kemajuan manusia. Pengetahuan harus menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas kehidupan, bukan memperluas kemampuan manusia untuk menghancurkan sesamanya.

Dalam kerangka inilah Imam Khamenei melihat pendidikan tinggi bukan hanya sebagai proyek pembangunan sumber daya manusia. Universitas adalah bagian dari proyek peradaban.

Ia tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang mampu menjawab pertanyaan teknis. Ia juga harus membentuk manusia yang memahami konsekuensi dari jawabannya.

Seorang ilmuwan harus mampu menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga harus memahami dampak dari penemuannya.

Seorang insinyur harus mampu menciptakan teknologi, tetapi juga harus mempertimbangkan kehidupan manusia yang akan disentuh oleh teknologi tersebut.

Seorang peneliti harus mengejar kebenaran ilmiah, tetapi tidak boleh kehilangan kesadaran tentang nilai kemanusiaan.

Kampus dan masa depan peradaban

Karena itu, seluruh unsur universitas memiliki tanggung jawab yang sama. Pengelola pendidikan tinggi, para rektor, dosen, mahasiswa, kurikulum, proses pembelajaran, hingga laboratorium dan pusat penelitian, semuanya harus diarahkan pada tiga tujuan tersebut: menghasilkan ilmuwan, menghasilkan ilmu, dan memastikan keduanya bergerak ke arah yang benar.

Baca Juga  Kekuatan Rakyat: Mengapa Kekuasaan Besar Takut pada Kesadaran Massa

Gagasan ini membawa kita pada satu kesimpulan penting: krisis ilmu bukan hanya terjadi ketika sebuah bangsa tidak memiliki pengetahuan. Krisis juga dapat terjadi ketika ilmu yang dimiliki tidak tahu ke mana harus diarahkan.

Di zaman ketika kecerdasan buatan berkembang pesat, teknologi genetika terus maju, senjata semakin canggih, dan informasi bergerak tanpa batas, pertanyaan tentang arah ilmu menjadi semakin relevan.

Manusia kini memiliki kemampuan untuk melakukan lebih banyak hal daripada sebelumnya. Tetapi kemampuan yang semakin besar juga berarti tanggung jawab yang semakin besar.

Mungkin karena itu, universitas tidak boleh hanya menjadi tempat untuk memperbanyak pengetahuan. Ia harus menjadi tempat untuk memastikan bahwa pengetahuan tersebut memiliki tujuan.

Sebab peradaban tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi manusia mampu terbang dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh apakah ia tahu ke mana harus terbang.

Ilmu yang maju tanpa arah dapat menjadi ancaman.

Tetapi ilmu yang maju, berpihak pada kemaslahatan, dan diarahkan untuk kesempurnaan manusia, dapat menjadi salah satu jalan paling kuat menuju masa depan yang lebih baik.

Bagikan:
Terkait
Komentar