KHAMENEI.ID– Ada kebiasaan yang tanpa sadar kita lakukan setiap pagi: membuka mata, melihat kalender, lalu menganggap hari itu sekadar kelanjutan dari kemarin. Senin, Selasa, atau Rabu terasa hanya pergantian nama. Padahal, dalam pandangan spiritual, setiap hari bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah tamu yang datang membawa amanah, lalu pergi sambil membawa catatan tentang siapa diri kita.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s meriwayatkan sebuah pesan yang begitu puitis sekaligus mengguncang kesadaran. Dalam hadis yang diriwayatkan melalui Imam Ja’far ash-Shadiq a.s, setiap hari digambarkan seolah berbicara kepada manusia:
مَا مِنْ يَوْمٍ يَمُرُّ عَلَى ابْنِ آدَمَ إِلَّا قَالَ لَهُ ذَلِكَ الْيَوْمُ: يَا ابْنَ آدَمَ، أَنَا يَوْمٌ جَدِيدٌ وَأَنَا عَلَيْكَ شَهِيدٌ، فَقُلْ فِيَّ خَيْرًا وَاعْمَلْ فِيَّ خَيْرًا، أَشْهَدُ لَكَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَإِنَّكَ لَنْ تَرَانِي بَعْدَهُ أَبَدًا.
“Tidaklah satu hari berlalu atas anak Adam, melainkan hari itu berkata kepadanya: Wahai anak Adam, aku adalah hari yang baru, dan aku akan menjadi saksi atasmu. Maka ucapkanlah yang baik dan lakukanlah kebaikan pada hari ini, agar kelak aku menjadi saksi yang membelamu pada Hari Kiamat. Sebab setelah aku pergi, engkau tidak akan pernah bertemu denganku lagi.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan cara pandang yang sama sekali berbeda tentang waktu. Hari bukan benda mati. Ia bukan sekadar angka dalam kalender atau lembar yang kita sobek setiap pagi. Setiap hari adalah kesempatan yang memiliki identitasnya sendiri. Ia datang hanya sekali, lalu menghilang untuk selamanya.
Kita sering berharap bisa mengulang masa lalu. Andaikan bisa kembali ke kemarin, mungkin ada ucapan yang tak akan kita lontarkan. Ada kemarahan yang ingin kita redam. Ada kesempatan berbuat baik yang ingin kita ambil. Namun hidup tidak mengenal tombol mundur. Yang telah lewat tidak pernah kembali.
Di titik inilah hadis tersebut menghadirkan harapan. Hari yang baru bukan kelanjutan mutlak dari kesalahan kemarin. Ia adalah ruang yang bersih, tempat seseorang dapat memulai lagi. Seberat apa pun dosa yang pernah dilakukan, selalu ada peluang untuk memutus rantainya melalui pilihan-pilihan baru yang dibuat hari ini.
Karena itu, masa lalu memang penting sebagai pelajaran, tetapi ia tidak boleh menjadi penjara. Yang menentukan masa depan bukan kemarin, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan hari yang sedang berada di tangannya.
Namun jika ditarik lebih jauh, pesan hadis ini bukan hanya tentang memanfaatkan waktu, melainkan tentang kesadaran bahwa seluruh alam semesta sedang merekam kehidupan manusia. Tidak ada satu hari pun yang benar-benar berlalu begitu saja.
Al-Qur’an menggambarkan suasana itu dengan sangat kuat:
ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65)
Ayat itu menghadirkan gambaran yang nyaris tak terbayangkan. Anggota tubuh yang selama ini diam akan berbicara. Tangan, kaki, bahkan bumi tempat manusia berpijak akan menjadi saksi. Maka mengapa hari tidak ikut bersaksi? Bukankah justru hari adalah ruang yang menaungi seluruh peristiwa hidup kita?
Setiap Senin, Selasa, atau Jumat yang pernah kita lalui sesungguhnya menyimpan jejak. Ia mengetahui kepada siapa kita menyakiti hati, kepada siapa kita menolong, doa apa yang kita panjatkan, dan fitnah apa yang mungkin pernah kita sebarkan. Ketika semuanya tampak terlupakan oleh manusia, waktu tetap menyimpannya.
Gagasan ini kemudian menyentuh sisi kehidupan yang paling sederhana. Hadis itu tidak meminta manusia melakukan sesuatu yang luar biasa. Pesannya justru sangat membumi: ucapkan yang baik dan lakukan yang baik.
Barangkali yang dimaksud bukan hanya ibadah besar yang mengundang decak kagum. Bisa jadi justru sebuah senyum yang menguatkan seseorang yang hampir putus asa. Menahan diri agar tidak ikut bergunjing ketika kesempatan terbuka lebar. Menghapus air mata seorang sahabat. Membantu orang lain tanpa berharap balasan. Menolak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Kebaikan-kebaikan kecil yang sering dianggap sepele itulah yang kelak mungkin menjadi kesaksian paling berharga.
Yang membuat pesan ini semakin menyentuh adalah kenyataan bahwa hari ini sebenarnya tidak pernah dijanjikan untuk siapa pun. Begitu banyak orang yang kemarin masih menyusun rencana, tetapi pagi ini namanya tinggal kenangan. Kita sendiri bisa saja termasuk di antara mereka. Bahwa kita masih membuka mata pagi ini bukanlah sesuatu yang otomatis, melainkan karunia.
Karena itulah, setiap hari sejatinya adalah hadiah yang tak boleh diperlakukan seperti sesuatu yang pasti akan datang lagi. Besok memang mungkin hadir, tetapi tidak ada seorang pun yang memiliki kepastian untuk menjumpainya.
Kalimat penutup hadis itu terasa begitu sunyi sekaligus menggetarkan: “Engkau tidak akan pernah melihatku lagi.” Hari ini akan pergi tanpa bisa dipanggil kembali. Tak ada negosiasi, tak ada kesempatan kedua untuk tanggal yang sama. Yang tersisa hanyalah kesaksiannya.
Mungkin kita tidak benar-benar mendengar hari berbicara dengan telinga. Tetapi hati yang jernih, akal yang sadar, dan nurani yang hidup akan selalu menangkap bisikan itu. Setiap fajar seolah mengulang kalimat yang sama: aku adalah hari yang baru, manfaatkanlah aku sebelum aku pergi.
Pada akhirnya, kehidupan bukan terutama diukur dari berapa banyak hari yang kita miliki, melainkan dari bagaimana setiap hari mengenang kita. Sebab ketika seluruh lembar kalender telah habis, yang berdiri di hadapan Allah bukan lagi angka-angka, melainkan saksi-saksi yang pernah menemani perjalanan hidup kita dan salah satunya adalah hari ini.







