Di Zaman Semua Orang Ingin Terlihat Pintar, Ali bin Abi Thalib Mengajarkan Kerendahan Hati 

KHAMENEI.ID– Saat ini, dalam kehidupan modern: manusia semakin mudah mengakses informasi, tetapi semakin sulit menemukan kebijaksanaan. Kita hidup di zaman ketika orang bisa berbicara tentang apa saja hanya bermodal keberanian tampil, bukan kedalaman ilmu. Media sosial dipenuhi pendapat yang diucapkan dengan penuh keyakinan, bahkan ketika pengetahuan sebenarnya nyaris tidak ada. Pada saat yang sama, manusia modern juga makin mudah cemas, takut kehilangan pekerjaan, takut masa depan, takut gagal, takut miskin, takut tertinggal.

Di tengah kegaduhan itu, ada lima kalimat pendek dari Ali bin Abi Thalib a.s yang terasa seperti suara dari tempat yang jauh, tetapi anehnya sangat dekat dengan problem manusia hari ini. Dalam sebuah riwayat, Ali a.s berkata:

“Ambillah dariku beberapa kalimat. Seandainya kalian mengelilingi dunia dengan kendaraan sampai hewan tunggangan itu kelelahan, kalian tidak akan menemukan hikmah yang lebih baik dari ini.”

Kalimat pembuka itu sendiri sudah terasa kuat. Seolah Ali ingin mengatakan: manusia boleh menjelajah sejauh apa pun, teknologi boleh berkembang setinggi apa pun, tetapi ada prinsip-prinsip dasar kehidupan yang tak pernah usang.

Nasihat pertama berbunyi:

اَلا لا یَرجو اَحَدٌ اِلَّا رَبَّهُ
“Janganlah seseorang berharap kepada selain Tuhannya.”

Kalimat ini bukan ajakan meninggalkan ikhtiar atau menolak sebab-akibat dunia. Yang disasar Ali a.s justru ketergantungan berlebihan manusia kepada hal-hal yang tampak di permukaan. Jabatan, relasi, uang, popularitas, dan sistem sering dianggap sebagai penentu mutlak nasib manusia. Padahal berkali-kali hidup menunjukkan bahwa semua itu rapuh.

Betapa sering seseorang memiliki semua syarat untuk berhasil, tetapi hasilnya tetap gagal. Dan betapa sering pula ada orang yang tampaknya tak memiliki apa-apa, tetapi jalan hidupnya terbuka dengan cara yang tak diduga.

Baca Juga  Ahlul Bait dalam Islam: Mengapa Cinta Saja Tidak Cukup?

Ali a.s mengingatkan bahwa di balik seluruh sebab material, ada kehendak yang lebih besar yang bekerja. Bahwa manusia boleh menggenggam dunia, tetapi jangan sampai hatinya menggantung sepenuhnya kepada dunia. Sebab ketika harapan hanya disandarkan pada benda, manusia akan mudah hancur ketika benda itu hilang.

Nasihat kedua bahkan lebih menohok:

وَ لا یَخافَنَّ اِلَّا ذَنبَه
“Jangan takut kepada apa pun selain dosamu sendiri.”

Di zaman modern, manusia takut pada banyak hal: algoritma, ekonomi, kompetitor, opini publik, dan masa depan. Namun Ali a.s justru mengarahkan ketakutan kepada sesuatu yang lebih mendasar: kesalahan diri sendiri.

Al-Qur’an menggambarkan:

وَما أَصابَكُم مِن مُصيبَةٍ فَبِما كَسَبَت أَيديكُم وَيَعفو عَن كَثيرٍ
Musibah yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri, meski banyak pula yang diampuni” (QS. ASy-Syura`: 30)

Ayat itu tidak sedang menyederhanakan seluruh penderitaan manusia sebagai hukuman langsung. Tetapi ia mengingatkan bahwa banyak kerusakan lahir dari kesalahan yang dipelihara terus-menerus: keserakahan, kemalasan, ego, keputusan yang buruk, dan hawa nafsu yang dibiarkan mengendalikan hidup.

Sering kali manusia sibuk mencari kambing hitam, padahal akar kehancuran ada pada dirinya sendiri. Rumah tangga runtuh bukan hanya karena keadaan, tetapi karena komunikasi yang lama diabaikan. Bangsa mundur bukan semata karena musuh luar, melainkan juga karena korupsi, kebodohan, dan mentalitas malas yang dipelihara bertahun-tahun.

Nasihat ketiga terasa sangat penting di era pencitraan:

وَ لا یَستَحیِی العَالِمُ اِذا لَم یَعلَم اَن یَتَعَلَّم
“Orang berilmu jangan malu belajar ketika ia tidak tahu.”

Ada penyakit modern yang diam-diam berbahaya: gengsi intelektual. Banyak orang lebih takut terlihat bodoh daripada benar-benar bodoh. Mereka enggan bertanya karena citra diri sudah telanjur dibangun sebagai sosok yang tahu segalanya.

Baca Juga  Peradaban Tidak Dibangun oleh Amarah: Refleksi tentang Strategi, Kesabaran, dan Perlawanan

Ali a.s justru memuliakan kerendahan hati dalam belajar.

Dalam penjelasan para ulama, diceritakan seorang marja besar, Haji Agha Husain Qomi, pernah duduk seperti murid di hadapan seorang ahli astronomi yang secara usia dan kedudukan berada di bawahnya. Ketika sadar lawan bicaranya lebih memahami persoalan arah kiblat, ia meminta penjelasan dengan penuh hormat.

Di situlah letak kebesaran ilmu: bukan pada seberapa banyak yang diketahui, melainkan pada kesediaan untuk terus belajar.

Masalahnya, dunia hari ini sering mengukur manusia dari seberapa meyakinkan ia berbicara, bukan seberapa jujur ia mengakui keterbatasan. Padahal hampir semua kemajuan ilmu lahir dari keberanian berkata: “Saya belum tahu.”

Nasihat keempat melanjutkan kritik itu:

وَ لا یَستَحیی اِذا سُئِلَ عَمّا لا یَعلَمُ اَن یَقولَ اللهُ اَعلَم
“Jangan malu mengatakan ‘Allah lebih tahu’ ketika memang tidak tahu.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat langka. Hari ini terlalu banyak orang berbicara di luar bidangnya. Sedikit membaca artikel, merasa menjadi pakar. Sedikit viral, merasa layak memberi fatwa tentang segala hal.

Ali a.s memperingatkan bahaya mencampur ilmu dengan kebodohan. Sebab ketika orang tak tahu tetapi tetap memaksa bicara, yang lahir bukan pengetahuan, melainkan kekacauan.

Mungkin inilah salah satu tragedi terbesar era digital: manusia kehilangan keberanian untuk berkata “saya tidak tahu”. Padahal pengakuan itu justru tanda kedewasaan intelektual.

Dan nasihat terakhir menjadi penutup yang seperti mengikat semuanya:

وَ اعلَموا اَنَّ الصَّبرَ مِنَ الایمانِ بِمَنزِلَةِ الرَّأسِ مِنَ الجَسَدِ وَ لا خَیرَ فی جَسَدٍ لا رَأسَ لَه
“Ketahuilah, kesabaran dalam iman itu seperti kepala bagi tubuh. Tubuh tanpa kepala tidak memiliki nilai”

Ali a.s tidak memaknai sabar sebagai pasrah tanpa daya. Sabar di sini adalah kemampuan bertahan di jalan yang benar, meski berat, lambat, dan melelahkan.

Baca Juga  “Orang-Orang yang Tergelincir dari Jalan Lurus Sebelum Sampai ke Akhirat” 

Dan mungkin itulah kualitas yang paling hilang pada manusia modern: daya tahan. Semua ingin cepat. Cepat kaya, cepat terkenal, cepat berhasil, cepat dihormati. Akibatnya, manusia mudah menyerah ketika kenyataan bergerak lebih lambat daripada keinginannya.

Padahal hampir semua hal besar dalam hidup dibangun oleh kesabaran yang panjang: ilmu, keluarga, peradaban, bahkan iman itu sendiri.

Lima nasihat Ali bin Abi Thalib a.s itu terasa seperti cermin yang memantulkan wajah zaman kita hari ini. Tentang manusia yang terlalu berharap kepada dunia, terlalu takut kepada keadaan, terlalu gengsi untuk belajar, terlalu sombong untuk mengakui ketidaktahuan, dan terlalu rapuh untuk bersabar.

Mungkin karena itulah Ali a.s berkata: sejauh apa pun manusia mengembara, mereka tak akan mudah menemukan hikmah yang lebih berharga daripada ini.

Bagikan:
Terkait
Komentar