KHAMENEI.ID –
Tafsir Imam Ali Khamenei tentang Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in, makna penghambaan yang justru membebaskan manusia
Di zaman yang menjadikan kebebasan sebagai ukuran tertinggi, kata hamba terdengar seperti istilah yang usang. Tidak ada orang yang ingin disebut budak. Manusia modern ingin merdeka, menentukan jalan hidupnya sendiri, dan bebas dari segala bentuk ketergantungan. Karena itu, ketika Surah Al-Fatihah mengajarkan doa إِيَّاكَ نَعْبُدُ (“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah”, QS. Al-Fatihah [1]: 5), muncul sebuah pertanyaan yang menarik: mengapa Al-Qur’an justru mengajarkan manusia untuk menjadi hamba?
Dalam salah satu ceramah tafsirnya, Imam Ali Khamenei (qs) mengajak kita melihat bahwa persoalan ini bukan sekadar soal istilah. Kata ibadah dalam Al-Qur’an memuat sebuah pandangan hidup yang membedakan Islam dari cara pandang yang berkembang di banyak peradaban. Menjadi hamba Allah, menurut beliau, bukanlah simbol kehinaan. Justru di sanalah manusia menemukan kemerdekaan yang sesungguhnya.
Imam Khamenei memulai penjelasannya dari akar kata ‘ibadah. Kata itu berasal dari ‘abd, yang berarti hamba. Dalam bahasa Persia maupun Arab, maknanya menunjuk kepada seseorang yang berada dalam ikatan atau berada di bawah kekuasaan sesuatu. Karena itu, ibadah pada dasarnya berarti menjalani kehidupan dalam penghambaan kepada sesuatu yang dianggap memiliki otoritas tertinggi.
Menariknya, menurut beliau, tidak semua bentuk penghambaan harus dipahami sebagai sesuatu yang buruk.
Manusia, sadar ataupun tidak, selalu mengabdi kepada sesuatu. Ada yang mengabdikan dirinya kepada ilmu pengetahuan, kepada kejujuran, kepada kesucian, kepada keadilan, atau kepada nilai-nilai luhur yang membuat hidupnya semakin bermakna. Bentuk penghambaan seperti ini tidak dipandang sebagai kehinaan. Sebaliknya, ia justru melahirkan penghormatan.
Namun ada pula penghambaan yang menjatuhkan martabat manusia. Ketika seseorang menyerahkan hidupnya kepada kekuasaan yang zalim, ketika ia tidak lagi mampu melepaskan diri dari hawa nafsu, atau ketika seluruh hidupnya dikendalikan oleh ambisi duniawi, sesungguhnya ia juga sedang menjadi hamba—tetapi hamba bagi sesuatu yang lebih rendah daripada dirinya.
Di sinilah Imam Ali Khamenei melihat letak perbedaan yang mendasar.
Menurut beliau, Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan manusia untuk menolak segala bentuk penghambaan. Yang diajarkan adalah memilih kepada siapa manusia harus mengabdi.
Jika manusia mengabdi kepada sesuatu yang terbatas, maka ia ikut menjadi terbatas. Jika ia mengabdi kepada sesuatu yang rendah, maka ia ikut direndahkan. Tetapi jika ia mengabdi kepada Allah, Yang Mahasempurna, Mahabenar, dan sumber segala kebaikan, maka penghambaan itu justru mengangkat derajatnya.
Dengan demikian, menjadi hamba Allah bukan berarti kehilangan kebebasan. Sebaliknya, manusia sedang menautkan dirinya kepada sumber seluruh kesempurnaan.
Dalam pandangan Imam Khamenei, Allah swt adalah sumber seluruh kebaikan, cahaya, dan kesempurnaan. Karena itu, menjadi hamba-Nya berarti memilih hidup dalam orbit kebaikan. Penghambaan kepada Allah swt bukanlah hubungan antara penguasa yang sewenang-wenang dengan bawahan yang tertindas, melainkan hubungan antara Sang Pencipta Yang Mahasempurna dengan makhluk yang sedang menempuh jalan menuju kesempurnaan.
Di sinilah makna ibadah menjadi jauh lebih luas daripada sekadar ritual.
Salat, puasa, zakat, dan berbagai bentuk ibadah lainnya merupakan manifestasi lahiriah dari sikap batin yang lebih mendasar, yaitu kesediaan untuk menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup. Ibadah bukan hanya dilakukan di masjid atau saat berdoa, tetapi hadir setiap kali manusia memilih nilai-nilai yang diridai Allah di atas kepentingan dirinya sendiri.
Cara pandang seperti ini sekaligus menjelaskan mengapa Al-Qur’an begitu sering menyebut para nabi dengan gelar ‘abd atau hamba Allah. Gelar itu bukanlah tanda kerendahan, melainkan kehormatan tertinggi. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin layak ia disebut sebagai hamba-Nya.
Dalam kehidupan modern, istilah “pengabdian” sering diasosiasikan dengan hilangnya kebebasan. Padahal kenyataannya, hampir tidak ada manusia yang benar-benar hidup tanpa mengabdi kepada sesuatu. Sebagian orang menghabiskan seluruh energinya demi mengejar kekayaan. Sebagian lagi rela mengorbankan prinsip demi jabatan. Ada pula yang hidup sepenuhnya demi pengakuan orang lain.
Tanpa disadari, semua itu adalah bentuk penghambaan.
Imam Ali Khamenei mengajak kita bertanya: jika manusia pasti mengabdi kepada sesuatu, bukankah lebih mulia mengabdikan diri kepada Allah swt daripada kepada sesuatu yang fana?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan pada masa ketika ukuran keberhasilan sering ditentukan oleh materi, popularitas, atau kekuasaan. Tidak sedikit orang yang merasa dirinya bebas, padahal seluruh keputusan hidupnya dikendalikan oleh tuntutan pasar, tekanan sosial, atau keinginan untuk terus dipuji.
Mereka tampak merdeka, tetapi sesungguhnya sedang diperbudak oleh sesuatu yang tidak mereka sadari.
Sebaliknya, seorang hamba Allah mungkin tampak tunduk dalam salat, tetapi ketundukan itu justru membebaskannya dari ketakutan kepada selain Allah swt. Ia tidak mudah diperbudak oleh opini manusia, tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup, dan tidak mengorbankan kebenaran demi memperoleh kedudukan.
Dalam tafsirnya, Imam Khamenei menegaskan bahwa inilah kemuliaan terbesar seorang manusia. Penghambaan kepada Allah bukanlah penolakan terhadap martabat manusia, melainkan jalan untuk menyempurnakan martabat itu. Sebab manusia hanya akan mencapai derajat tertinggi ketika ia mengikatkan dirinya kepada Dzat Yang Mahasempurna.
Karena itu, ketika seorang muslim membaca إِيَّاكَ نَعْبُدُ dalam setiap rakaat salat, ia sebenarnya sedang memperbarui sebuah ikrar. Ia mengakui bahwa hidup ini tidak akan diserahkan kepada hawa nafsu, ambisi, atau kekuasaan manusia. Ia memilih menjadikan Allah sebagai satu-satunya pusat orientasi hidup.
Pada ayat berikutnya dari tafsir ini, Imam Khamenei akan membawa pembahasan lebih jauh. Mengapa Islam memilih hubungan “hamba dan Tuhan”, bukan “anak dan ayah”? Dan mengapa konsep penghambaan kepada Allah swt justru menjadi fondasi kebebasan manusia? Jawaban atas pertanyaan itu akan memperlihatkan bahwa tauhid bukan sekadar keyakinan tentang keesaan Allah swt, tetapi juga jalan pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan.







