Para Nabi Penjaga Nurani: Mengapa Peradaban Selalu Membutuhkan Petunjuk Ilahi

KHAMENEI.ID– Peradaban manusia sering dibanggakan sebagai kisah panjang tentang kemajuan. Kita menciptakan teknologi yang melampaui imajinasi, menjelajahi ruang angkasa, dan membangun kota-kota yang menjulang. Namun, sejarah juga memperlihatkan ironi yang terus berulang: semakin tinggi kemampuan manusia menguasai alam, semakin besar pula kemungkinan ia kehilangan arah dalam menguasai dirinya sendiri.

Di sinilah para nabi hadir. Mereka bukan sekadar tokoh agama yang datang membawa seperangkat aturan. Mereka adalah penunjuk jalan bagi fitrah manusia, penjaga agar perjalanan panjang sejarah tidak berubah menjadi arak-arakan tanpa tujuan.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s dalam salah satu khutbahnya yang terkenal menggambarkan tugas para nabi dengan ungkapan yang sangat indah:

لِيَسْتَأْدُوهُمْ مِيثَاقَ فِطْرَتِهِ وَيُذَكِّرُوهُمْ مَنْسِيَّ نِعْمَتِهِ… وَيُثِيرُوا لَهُمْ دَفَائِنَ الْعُقُولِ

“Agar mereka mengingatkan manusia pada perjanjian fitrahnya, menyadarkan mereka akan nikmat yang terlupakan, dan membangkitkan harta karun akal yang terpendam”

Kalimat itu mengandung gagasan yang amat mendasar. Para nabi tidak menciptakan kebenaran baru. Mereka membangunkan sesuatu yang sejak awal telah ditanamkan Allah di dalam diri manusia: fitrah dan akal.

Bayangkan sejarah manusia sebagai sebuah kafilah besar yang bergerak menembus waktu. Setiap generasi adalah rombongan yang meneruskan perjalanan generasi sebelumnya. Dalam perjalanan sepanjang ribuan tahun itu, manusia sering tersesat, terpecah oleh hawa nafsu, atau berhenti karena merasa telah sampai. Pada saat-saat seperti itulah para nabi tampil sebagai pemimpin kafilah. Mereka menunjukkan arah sekaligus menghidupkan kembali kemampuan manusia untuk mengenali arah itu sendiri.

Perbedaan ini penting. Seorang penunjuk jalan hanya memberi peta. Namun seorang nabi juga membangunkan kompas yang ada di dalam hati manusia.

Dalam konteks yang lebih luas, inilah mengapa Al-Qur’an dan sejarah kenabian tidak pernah memandang manusia sebagai makhluk yang sepenuhnya bodoh. Yang terjadi justru sebaliknya: manusia sering kali lupa. Ia memiliki potensi mengenali kebenaran, tetapi potensi itu tertutup oleh kesombongan, kepentingan, ketakutan, atau kenikmatan dunia yang sementara.

Baca Juga  Air Mata Imam Ali untuk Umat Nabi: Keluh Kesah Seorang Ayah yang Terluka

Karena itu, tugas kenabian bukan sekadar mengajarkan, melainkan mengingatkan.

Khutbah Imam Ali a.s kemudian membawa kita menengok asal-usul manusia. Allah menciptakan langit, bumi, lautan, bintang, dan seluruh keteraturan alam semesta. Dari berbagai jenis tanah; yang keras dan lembut, subur dan tandus, Allah membentuk Adam. Setelah itu Dia meniupkan ruh-Nya sehingga manusia menjadi makhluk yang mampu berpikir, membedakan yang benar dari yang salah, mengenali warna, rasa, bentuk, dan makna kehidupan.

Manusia lahir dengan kemampuan intelektual yang luar biasa. Namun kemampuan itu tidak otomatis menjadikannya bijaksana. Iblis sendiri mengetahui keberadaan Tuhan, tetapi kesombongan membuatnya menolak bersujud kepada Adam. Pengetahuan ternyata tidak selalu melahirkan kebenaran jika hati kehilangan kerendahan.

Di titik inilah hubungan antara akal dan wahyu menjadi semakin jelas. Wahyu tidak datang untuk menggantikan akal. Ia datang agar akal bekerja sebagaimana mestinya. Akal yang sehat akan mengantarkan manusia kepada keadilan, sementara wahyu menjaga agar akal tidak dibajak oleh ego dan hawa nafsu.

Sejarah membuktikan bahwa ketika manusia memutus hubungan dengan petunjuk ilahi, ia justru menggunakan kecerdasannya untuk menghancurkan sesamanya. Perang, penjajahan, perbudakan, hingga eksploitasi alam lahir bukan karena manusia kekurangan ilmu, melainkan karena ilmu kehilangan arah moral.

Karena itulah Allah tidak pernah membiarkan manusia berjalan sendirian. Dari generasi ke generasi, Dia mengutus para rasul. Ketika sebagian manusia melupakan janji sucinya kepada Tuhan dan mengikuti bisikan-bisikan yang menyesatkan, datanglah para nabi untuk menghidupkan kembali kesadaran itu.

Mereka mengajak manusia memandang langit yang terbentang, bumi yang menjadi tempat berpijak, pergantian umur, datangnya penyakit, kematian, dan seluruh tanda kekuasaan Allah sebagai bahan renungan. Alam semesta bukan sekadar objek penelitian, melainkan kitab terbuka yang mengarahkan manusia kepada Sang Pencipta.

Baca Juga  Kepercayaan Pemimpin dan Rakyat: Ketika Tangan Tuhan Hadir dalam Kebersamaan

Puncak dari mata rantai kenabian itu adalah diutusnya Nabi Muhammad saw. Beliau hadir pada masa ketika manusia terpecah ke dalam berbagai keyakinan, fanatisme, dan penyimpangan. Sebagian menyerupakan Tuhan dengan makhluk, sebagian lain mengingkari-Nya, sementara yang lain menjadikan selain Allah sebagai pusat pengabdian.

Melalui beliau, manusia kembali diarahkan kepada tauhid yang memerdekakan. Dari masyarakat yang tercerai-berai lahirlah sebuah peradaban yang dibangun di atas ilmu, keadilan, dan kemuliaan akhlak.

Namun, Nabi Muhammad saw tidak meninggalkan umatnya dalam kebingungan. Sebelum wafat, beliau mewariskan Al-Qur’an sebagai petunjuk yang menjelaskan jalan hidup manusia: mana yang halal dan haram, mana yang wajib dan utama, mana yang bersifat umum dan khusus, mana yang harus dipahami secara mendalam dan mana yang cukup diterima sebagaimana adanya. Kitab suci itu menjadi kompas agar perjalanan manusia tidak kehilangan orientasi.

Gagasan ini terasa sangat relevan pada zaman sekarang. Dunia modern dipenuhi informasi, tetapi tidak selalu dipenuhi kebijaksanaan. Kita mampu mengetahui hampir segala sesuatu hanya melalui layar kecil di tangan, tetapi sering gagal memahami makna hidup itu sendiri. Kita bisa menentukan lokasi dengan satelit, tetapi kehilangan arah dalam menentukan tujuan hidup.

Barangkali inilah sebabnya pesan para nabi tidak pernah usang. Yang mereka bangunkan bukan sekadar peradaban luar, melainkan peradaban batin. Mereka menghidupkan fitrah, mempertajam akal, dan membersihkan hati agar manusia tetap menjadi manusia.

Pada akhirnya, kemajuan bukan hanya soal seberapa jauh kita melangkah, melainkan apakah langkah itu menuju cahaya atau justru menuju jurang. Para nabi mengingatkan bahwa perjalanan sejarah tidak diukur dari kecepatan, melainkan dari arah. Sebab peradaban yang kehilangan petunjuk mungkin tampak megah dari luar, tetapi perlahan runtuh dari dalam. Sebaliknya, peradaban yang dibimbing oleh fitrah, akal, dan wahyu akan selalu menemukan jalan pulang kepada kemanusiaannya.

Baca Juga  Rahasia Menjadi Siddiq: Mengapa Penghambaan kepada Allah Lebih Tinggi daripada Kemuliaan
Bagikan:
Terkait
Komentar