عَنِ المُفَضَّلِ بنِ عُمَرَ قالَ سَمِعتُ اَبا عَبدِ اللهِ جَعفَرَ بنَ مُحَمَّدٍ عَلَیهِمَا السَّلام یَقولُ: لا یَکمُلُ ایمانُ العَبدِ حَتّى یَکونَ فیهِ خِصالٌ اَربَعٌ: یُحسِنُ خُلُقَهُ وَ تَسخُو نَفسُهُ وَ یُمسِکُ الفَضلَ مِن قَولِهِ وَ یُخرِجُ الفَضلَ مِن مالِه
“Mufadhdhal bin Umar berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ja‘far bin Muhammad a.s bersabda: Iman seorang hamba tidak akan sempurna hingga terdapat pada dirinya empat sifat: memperbaiki akhlaknya, memiliki jiwa yang dermawan, menahan ucapan yang berlebihan, dan mengeluarkan kelebihan dari hartanya.’”
KHAMENEI.ID— Ada orang yang rajin ke masjid, tekun mengaji, aktif dalam kegiatan sosial, bahkan dikenal saleh di lingkungan sekitarnya. Tetapi di rumah, suaranya tinggi. Wajahnya mudah masam. Anak-anak takut berbicara dengannya. Pasangan hidup merasa sedang tinggal bersama hakim, bukan teman hidup.
Fenomena ini bukan hal baru. Barangkali justru terlalu akrab dalam kehidupan modern hari ini: agama tampak megah di ruang publik, tetapi kehilangan kehangatan di ruang paling dekat. Kita hidup di zaman ketika kesalehan sering diukur dari apa yang tampak, bukan dari bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain saat tidak ada sorotan.
Dalam sebuah riwayat, Imam Ja‘far ash-Shadiq a,s menyampaikan kalimat yang terasa sederhana, tetapi sebenarnya menghantam inti kehidupan beragama:
“Iman seorang hamba tidak akan sempurna sampai ada empat sifat dalam dirinya.”
Empat sifat itu lalu disebutkan satu per satu: akhlak yang baik, jiwa yang dermawan, kemampuan menahan ucapan berlebihan, dan kesediaan mengeluarkan kelebihan harta.
Riwayat ini menarik karena tidak berbicara tentang ritual besar. Tidak tentang panjangnya doa, banyaknya hafalan, atau simbol-simbol kesalehan yang sering dipamerkan manusia. Ukuran kesempurnaan iman justru diletakkan pada sesuatu yang sangat sehari-hari: cara berbicara, cara memberi, cara bersikap kepada orang lain, dan cara mengendalikan diri.
Seolah-olah agama sedang berkata: ukuran iman bukan hanya apa yang kau yakini di dalam hati, tetapi bagaimana keyakinan itu mengubah perilakumu terhadap manusia lain.
Yang pertama disebut adalah husnul khuluq, akhlak yang baik.
Ini penting. Sebab agama tampaknya memahami satu hal mendasar tentang manusia: orang tidak pertama-tama merasakan iman kita lewat ceramah, tetapi lewat sikap kita. Lewat nada suara. Lewat cara kita memperlakukan orang yang lebih lemah. Lewat kemampuan menahan emosi ketika marah.
Hari ini, mungkin tidak sulit menemukan orang baik. Tetapi menemukan orang yang baik sekaligus menyenangkan, itu lain perkara. Ada orang yang ibadahnya tekun, tetapi kehadirannya membuat rumah terasa tegang. Ada yang rajin berdakwah, tetapi sulit mendengar pendapat orang lain. Ada yang aktif membela agama, tetapi gagal membela perasaan keluarganya sendiri.
Padahal akhlak buruk bisa merusak pahala yang dibangun dengan susah payah. Seseorang mungkin terlihat saleh di luar rumah, tetapi jika di dalam rumah ia menjadi sumber luka, maka ada yang belum selesai dengan imannya.
Imam Ja‘far a.s seakan sedang mengingatkan: kesalehan yang tidak melahirkan kelembutan hanya akan berubah menjadi formalitas spiritual.
Sifat kedua adalah jiwa yang dermawan.
Menariknya, riwayat ini tidak berbicara tentang jumlah harta. Yang dibicarakan adalah keluasan jiwa. Sebab kedermawanan bukan pertama-tama soal kaya atau miskin. Ada orang kaya yang hidupnya sempit. Ada pula orang yang pas-pasan tetapi tangannya ringan membantu.
Di banyak kampung, kita masih menemukan orang-orang sederhana yang tetap membuka pintu untuk tamu, tetap berbagi makanan meski seadanya, tetap membantu tetangga walau dirinya sendiri sedang sulit. Mereka mungkin tidak memiliki banyak uang, tetapi memiliki sesuatu yang lebih langka hari ini: hati yang tidak beku.
Di zaman yang makin individualistis, kemurahan hati menjadi bentuk perlawanan moral. Ketika semua orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing, orang yang masih mampu berbagi sebenarnya sedang menjaga kemanusiaan agar tidak runtuh.
Lalu sifat ketiga: menahan kelebihan bicara.
Ini terasa sangat relevan di era media sosial. Hari ini manusia hidup dalam kebisingan tanpa jeda. Semua orang ingin berbicara. Semua orang merasa perlu berpendapat tentang apa saja. Keheningan dianggap kelemahan. Padahal tidak semua hal harus dikomentari.
Riwayat itu menggunakan ungkapan yang indah: “menahan kelebihan ucapan.” Bukan berarti diam total. Sebab ada situasi ketika diam justru menjadi kesalahan. Ada ketidakadilan yang memang harus dilawan dengan suara. Ada kebenaran yang perlu diperjuangkan dengan kata-kata.
Tetapi problem manusia modern sering kali bukan kekurangan bicara, melainkan ketidakmampuan berhenti bicara.
Kita terlalu mudah menanggapi, terlalu cepat menghakimi, terlalu bernafsu menjelaskan diri sendiri. Akibatnya, percakapan kehilangan kedalaman. Kata-kata diproduksi tanpa perenungan. Orang berbicara bukan untuk memahami, tetapi untuk menang.
Karena itu, kemampuan menahan ucapan sebenarnya bukan sekadar etika sosial. Ia adalah tanda kedewasaan batin. Orang yang matang tidak merasa perlu mengomentari semuanya. Ia tahu bahwa tidak semua pikiran harus diucapkan, dan tidak semua emosi harus diumbar.
Sifat terakhir mungkin yang paling berat: mengeluarkan kelebihan harta.
Bukan seluruh harta. Bukan pula hidup miskin. Yang diminta hanyalah melepaskan apa yang sebenarnya sudah tidak diperlukan.
Tetapi justru di situlah manusia sering gagal. Kita hidup dalam budaya menumpuk. Rumah-rumah penuh barang yang jarang dipakai. Lemari sesak oleh sesuatu yang tidak dibutuhkan. Namun pada saat yang sama, masih banyak orang kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar.
Agama tampaknya ingin menghancurkan ilusi kepemilikan absolut. Bahwa apa yang berlebih pada kita, mungkin sebenarnya adalah hak orang lain yang sedang dititipkan.
Dan menariknya, riwayat ini menghubungkan semua itu dengan iman. Artinya, iman bukan sekadar urusan keyakinan metafisik antara manusia dan Tuhan. Iman juga menyangkut bagaimana seseorang hadir di tengah kehidupan sosial.
Mungkin karena itulah banyak orang merasa lelah terhadap wajah agama hari ini. Mereka melihat terlalu banyak simbol, tetapi terlalu sedikit kasih sayang. Terlalu banyak ceramah, tetapi terlalu sedikit keteladanan. Terlalu banyak suara keras, tetapi terlalu sedikit kelembutan.
Padahal inti dari riwayat ini sederhana: iman seharusnya membuat manusia menjadi lebih nyaman untuk dihadapi, lebih ringan memberi, lebih bijak berbicara, dan lebih rela berbagi.
Bukan sebaliknya.
Pada akhirnya, mungkin ukuran paling jujur dari iman seseorang bukan ada di tempat ibadah, melainkan di rumahnya sendiri; bukan pada seberapa sering ia berbicara tentang Tuhan, tetapi pada seberapa aman orang lain berada di dekatnya.
Sebab agama yang benar tidak hanya membuat manusia rajin beribadah. Ia juga membuat manusia lebih manusia.







