Takdir Sebuah Bangsa Ditulis oleh Mereka yang Bertahan 

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang menjadi kuat karena kekayaan alamnya. Ada yang besar karena luas wilayahnya. Ada pula yang bertahan bukan karena memiliki segalanya, melainkan karena tidak berhenti bekerja ketika keadaan memaksanya untuk berjuang lebih keras.

Di situlah arti sebuah bangsa diuji: bukan ketika jalan terbuka lebar, melainkan ketika jalan itu dipersempit dari segala arah.

Gagasan tentang kerja keras dan kemandirian menjadi penting ketika sebuah negara menghadapi tekanan. Sebab kemajuan tidak selalu lahir dari keadaan yang ideal. Kadang ia justru tumbuh dari keterbatasan, dari penolakan, bahkan dari situasi yang semula dimaksudkan untuk melemahkan.

Seruan Sayyid Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs tentang “tekad berlipat dan kerja berlipat” diletakkan sebagai arah bersama, hasilnya mulai terlihat. Tidak seluruhnya bisa diukur seketika, sebab sebagian perubahan membutuhkan waktu panjang. Tetapi tanda-tandanya sudah tampak: di laboratorium, di pabrik, di ladang produksi, di jalan-jalan yang menghubungkan wilayah, hingga pada upaya mengubah cara sebuah negara mengelola sumber dayanya.

Kemajuan itu mungkin tidak selalu menjadi berita besar. Namun justru di sanalah perubahan sering bekerja: perlahan, sunyi, dan terkadang baru terlihat setelah bertahun-tahun.

Salah satu bidang yang paling mencolok adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara yang ingin berdiri dengan kakinya sendiri tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam. Ia harus memiliki pengetahuan untuk mengolahnya dan manusia yang mampu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

Sebuah ungkapan lama menyebut, ilmu adalah kekuasaan. Maknanya sederhana tetapi dalam: bangsa yang menguasai ilmu memiliki daya tawar; bangsa yang tertinggal dalam pengetahuan akan lebih mudah bergantung kepada bangsa lain.

Karena itu, kemajuan dalam bioteknologi, kedirgantaraan, nanoteknologi, sel punca, obat-obatan, energi terbarukan, hingga superkomputer bukan sekadar daftar keberhasilan teknis. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih mendasar: siapa yang menguasai masa depan?

Baca Juga  Fatimah Zahra: Mukjizat Islam yang Terlupakan

Yang menarik, banyak orang yang berada di balik kemajuan itu adalah generasi muda. Mereka bekerja di ruang-ruang yang mungkin jauh dari sorotan publik, menghabiskan waktu untuk penelitian dan eksperimen, gagal berkali-kali, lalu mencoba lagi. Di titik ini, pembangunan tidak lagi semata-mata soal gedung dan mesin. Ia menjadi persoalan kepercayaan terhadap manusia.

Modal terpenting sebuah bangsa bukan selalu apa yang tersimpan di dalam tanah, melainkan apa yang tumbuh di dalam kepala dan watak manusianya.

Namun ilmu tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan. Pengetahuan yang hanya disimpan di laboratorium belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi. Ia harus bergerak menjadi teknologi, teknologi menjadi produk, produk masuk ke pasar, lalu menghasilkan nilai bagi masyarakat. Rantai inilah yang mengubah pengetahuan menjadi kekayaan nasional.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan itu menyentuh persoalan ekonomi. Sebuah negara tidak mungkin selamanya menggantungkan kehidupannya pada satu komoditas, betapapun melimpahnya komoditas tersebut. Ketergantungan pada minyak, misalnya, bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan kedaulatan.

Bayangkan sebuah negara yang memiliki minyak tetapi harus membeli kembali sebagian kebutuhan energinya dari luar. Di sana terdapat ironi: memiliki sumber daya, tetapi belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk mengolahnya.

Karena itu, peningkatan ekspor nonminyak dan pembangunan sektor-sektor produktif menjadi jalan untuk mengurangi ketergantungan. Tujuannya bukan sekadar memperoleh angka pertumbuhan yang lebih baik, melainkan membangun kemampuan untuk berdiri tanpa terus-menerus menunggu harga komoditas dunia.

Hal serupa terlihat dalam kebijakan pengelolaan subsidi. Reformasi semacam itu selalu mengandung risiko dan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat. Tetapi di balik perdebatan teknis tentang angka dan mekanisme, terdapat satu persoalan besar: bagaimana sumber daya publik digunakan secara lebih adil dan bagaimana masyarakat belajar mengelola konsumsi.

Baca Juga  Sabar Revolusioner: Pelajaran Imam Ali tentang Menahan Diri demi Kemenangan yang Lebih Besar

Air, energi, pangan semuanya terbatas. Ketika konsumsi tidak terkendali, pemborosan pada akhirnya menjadi beban bersama. Mengurangi pemborosan bukan sekadar tindakan ekonomi, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial.

Lalu datang tekanan dari luar.

Sanksi dan embargo dirancang untuk menciptakan ketergantungan, dengan harapan tekanan ekonomi pada akhirnya berubah menjadi tekanan politik. Salah satu titik lemahnya adalah ketergantungan pada impor bahan bakar. Ketika akses terhadap bensin hendak dijadikan alat tekanan, pilihan yang tersisa hanya dua: menyerah kepada ketergantungan atau memaksa diri untuk menemukan jalan keluar.

Yang terjadi justru yang kedua.

Keterbatasan memaksa para ahli memproduksi sendiri berbagai perangkat yang sebelumnya dibeli dari luar. Ketika pintu pemasok ditutup, mereka mulai membuatnya sendiri. Ketika sebuah teknologi tidak bisa diperoleh, mereka belajar merancangnya. Penolakan dari luar berubah menjadi alasan untuk mempercepat kemampuan di dalam negeri.

Di sinilah makna kemandirian menjadi lebih nyata. Kemandirian bukan berarti tidak membutuhkan bangsa lain. Dunia modern terlalu saling terhubung untuk memungkinkan itu. Kemandirian berarti memiliki kemampuan untuk tidak lumpuh ketika bantuan atau pasokan dari luar tiba-tiba dihentikan.

Namun semua itu membutuhkan satu hal yang sering kali tidak terlihat dalam statistik: daya tahan manusia.

Jalan raya, perumahan, jaringan komunikasi, lapangan kerja, teknologi, dan industri hanyalah wajah luar pembangunan. Di baliknya terdapat ribuan jam kerja, keputusan yang sulit, kesalahan yang diperbaiki, dan orang-orang yang memilih untuk terus mencoba ketika menyerah tampak lebih mudah.

Karena itu, sebuah bangsa tidak pernah benar-benar maju hanya karena satu tahun kerja keras. Tahun hanyalah penanda. Yang lebih penting adalah kebiasaan yang terbentuk setelahnya.

Kerja keras tidak boleh menjadi slogan yang muncul setiap awal tahun lalu menghilang ketika kalender berganti. Ia harus menjadi etos. Demikian pula kemandirian tidak cukup diteriakkan ketika embargo datang. Ia harus dibangun jauh sebelumnya, ketika keadaan masih normal dan ketergantungan masih terasa nyaman.

Baca Juga  Kekuatan Anak Muda dan Keberanian Mengambil Keputusan

Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa mungkin tidak terutama terlihat dari seberapa banyak yang dimilikinya, tetapi dari seberapa cepat ia bangkit ketika kehilangan sesuatu.

Bangsa yang terus belajar tidak mudah dibuat bodoh. Bangsa yang terus bekerja tidak mudah dibuat lumpuh. Dan bangsa yang percaya kepada kemampuan manusianya sendiri memiliki satu kekuatan yang sulit dihitung dengan angka: kemampuan untuk mengubah keterbatasan menjadi awal dari sesuatu yang baru.

Barangkali itulah makna terdalam dari kerja yang berlipat. Bukan sekadar bekerja lebih banyak, melainkan bekerja dengan keyakinan bahwa masa depan tidak datang sebagai hadiah. Ia harus dibangun sedikit demi sedikit, tangan demi tangan, hari demi hari.

Bagikan:
Terkait
Komentar