KHAMENEI.ID – Ada bahaya yang datang dengan suara keras, tetapi ada pula yang tumbuh dalam diam. Ia tidak selalu tampak sebagai kekacauan, perang, atau pertikaian. Kadang ia bermula dari sesuatu yang jauh lebih dekat: keinginan memiliki lebih banyak, dorongan memenuhi hasrat, lalu keputusan untuk mengikuti siapa saja yang menjanjikan pembenaran bagi keduanya.
Karena itu, sebuah nasihat Rasulullah Muhammad saw terasa seperti peringatan yang melampaui zamannya. Beliau bersabda:
إنّما أخاف علی أمتی ثلاثاً، شحّاً مطاعاً و هویً متبعاً و إماماً ضالاً
“Aku hanya mengkhawatirkan tiga hal atas umatku: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan pemimpin yang menyesatkan”
Tiga hal itu sekilas tampak seperti persoalan yang berbeda. Yang pertama menyangkut harta dan keinginan memiliki. Yang kedua berhubungan dengan dorongan batin. Yang ketiga menyentuh kehidupan bersama dan arah kepemimpinan. Namun jika ditarik lebih jauh, ketiganya seperti rangkaian yang saling terhubung. Kerusakan di ruang publik dapat bermula dari sesuatu yang berlangsung sangat pribadi di dalam diri manusia.
Yang pertama disebut syuhh شحّ. Kata ini tidak sekadar berarti kikir. Ia merupakan keadaan ketika kerakusan dan kebakhilan bertemu: keinginan yang terus menuntut lebih banyak sekaligus keengganan melepaskan apa yang telah dimiliki. Manusia bukan hanya ingin mempunyai, tetapi juga ingin terus mengejar kemilau dunia tanpa batas.
Namun keinginan semata belum tentu menjadi malapetaka. Manusia dapat merasakan dorongan untuk memiliki, marah, iri, atau berambisi tanpa harus menyerahkan dirinya kepada dorongan tersebut. Bahaya mulai muncul ketika keinginan itu ditaati.
Di situlah makna “syuhh yang ditaati” menjadi penting. Hasrat tidak lagi sekadar muncul di dalam diri, melainkan memperoleh kekuasaan atas tindakan. Demi harta, kedudukan, pengaruh, atau kenikmatan, seseorang mulai mengorbankan sesuatu yang sebelumnya ia anggap tidak boleh dikorbankan.
Pada titik ini, persoalannya bukan lagi berapa banyak yang dimiliki seseorang. Persoalannya adalah siapa yang sebenarnya menjadi tuan atas dirinya.
Gagasan yang sama berlaku pada hawa nafsu yang diikuti. Nafsu tidak selalu berarti sesuatu yang secara kasatmata buruk. Ia adalah kecenderungan dan dorongan yang mengajak manusia memenuhi keinginannya sendiri. Selama manusia masih mampu mengendalikan dorongan itu, ia belum menjadi penguasa. Tetapi ketika manusia mulai mengikutinya tanpa pertimbangan, batas antara keinginan dan kebenaran perlahan menghilang.
Seseorang dapat mengetahui bahwa sesuatu tidak benar, tetapi tetap melakukannya karena menguntungkan. Ia dapat memahami bahwa sebuah keputusan merugikan orang lain, tetapi tetap memilihnya karena memuaskan ambisi. Pada saat seperti itu, akal tidak lagi memimpin tindakan. Ia hanya dipakai untuk mencari alasan bagi sesuatu yang sejak awal telah diputuskan oleh hawa nafsu.
Dalam konteks yang lebih luas, dari sinilah bahaya ketiga dapat muncul: imam yang menyesatkan, atau pemimpin yang membawa masyarakat bergerak menjauh dari kebenaran.
Pemimpin yang menyesatkan tidak selalu hadir dengan wajah yang tampak buruk. Justru bahaya kepemimpinan semacam itu terletak pada kemampuannya membuat penyimpangan terlihat wajar. Ketika masyarakat sudah terbiasa mengutamakan keuntungan, mengikuti selera, dan membenarkan kepentingan sendiri, suara yang membawa mereka semakin jauh dari kebenaran dapat dengan mudah memperoleh pengikut.
Di titik ini, hubungan tiga bahaya tadi menjadi lebih terang. Keserakahan yang ditaati dan hawa nafsu yang diikuti bukan hanya persoalan moral individual. Keduanya dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan kepemimpinan yang menyimpang tumbuh dan bertahan.
Sejarah memberikan banyak contoh tentang bagaimana kekuasaan perlahan berubah ketika para penguasa mulai menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran utama. Dalam sumber yang menjadi pijakan gagasan ini, penyimpangan dinasti-dinasti besar dalam sejarah Islam, termasuk Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, dikaitkan dengan gerak menuju pemuasan hasrat dan hawa nafsu. Ketika kekuasaan tidak lagi dikendalikan oleh prinsip, ia mudah berubah menjadi alat untuk memenuhi keinginan penguasa.
Namun persoalan ini terlalu penting jika hanya dibaca sebagai kritik terhadap masa lalu. Sebab manusia modern tidak terbebas dari tiga godaan tersebut hanya karena bentuk dunia telah berubah.
Hari ini, keserakahan dapat bersembunyi di balik angka pertumbuhan, gaya hidup, dan perlombaan status. Hawa nafsu dapat bergerak lebih cepat melalui layar yang selalu berada di tangan. Sementara kepemimpinan yang menyesatkan dapat memperoleh pengaruh bukan hanya dari mimbar atau istana, tetapi juga dari arus informasi yang terus-menerus membentuk cara manusia melihat dunia.
Gagasan ini kemudian menyentuh sesuatu yang lebih dalam: perubahan masyarakat mungkin memang membutuhkan sistem yang baik, tetapi sistem saja tidak cukup. Sebab manusia yang mengendalikan sistem tetap membawa hawa nafsunya sendiri. Jika kerakusan menjadi penguasa di dalam diri, kekuasaan di luar diri hanya menyediakan ruang yang lebih luas untuk menjalankannya.
Mungkin karena itulah para nabi dan orang-orang saleh selalu berhadapan dengan dua musuh yang tampaknya sederhana, tetapi sebenarnya sangat sulit ditaklukkan: syuhh dan hawa nafsu. Keduanya tidak selalu datang sebagai kejahatan yang terang-terangan. Mereka dapat menyamar sebagai ambisi, kebutuhan, kebebasan, bahkan keberhasilan.
Dan barangkali di sanalah peringatan Nabi saw menemukan relevansinya yang paling tajam. Keruntuhan sebuah masyarakat tidak selalu dimulai ketika orang jahat merebut kekuasaan. Kadang ia dimulai jauh sebelumnya ketika manusia perlahan belajar menaati kerakusannya sendiri, mengikuti hawa nafsunya, lalu menyerahkan arah hidupnya kepada mereka yang bersedia membenarkan keduanya.
Sebuah umat mungkin masih tampak kuat dari luar. Gedung-gedungnya berdiri, kekayaannya bertambah, suaranya terdengar di mana-mana. Tetapi pertanyaan yang lebih sunyi tetap menunggu di dalam diri setiap orang: siapa yang sedang kita taati; kebenaran, atau keinginan kita sendiri?
Sebab sebelum seorang pemimpin menyesatkan banyak orang, mungkin ada sesuatu yang lebih dahulu tersesat di dalam diri manusia: keinginan yang tak lagi mau dikendalikan.







