Manusia Modern Merasa Bebas, Padahal Sedang Menyembah Banyak “Tuhan” Kecil

KHAMENEI.ID

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan

Padahal kalimat itu bukan sekadar bagian dari shalat. Ia adalah deklarasi paling radikal tentang kebebasan manusia.

Sebab di dalamnya tersembunyi satu pesan besar: manusia hanya boleh tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Selain itu, tidak.

Di zaman modern, gagasan tentang “kebebasan” sering dipahami sebagai kemampuan melakukan apa saja yang kita inginkan. Tetapi diam-diam manusia justru makin diperbudak oleh banyak hal: uang, popularitas, hasrat seksual, opini publik, kekuasaan, algoritma media sosial, bahkan ambisi dirinya sendiri.

Manusia merasa bebas, padahal hidupnya dikendalikan oleh sesuatu yang ia takuti kehilangan.

Di sinilah teks klasik ini mengajukan satu gagasan yang sangat mendalam: bahwa inti ibadah dalam Islam bukan sekadar ritual, melainkan pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Tuhan.

Kata “ibadah” sendiri berasal dari akar kata ‘abd hamba atau budak. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal istilah “pengabdian” atau “perhambaan”. Namun teks ini menjelaskan sesuatu yang penting: tidak semua bentuk penghambaan itu buruk.

Menjadi hamba ilmu, hamba kebersihan, hamba kebenaran, atau hamba cahaya moral adalah sesuatu yang mulia. Dan puncak dari semua itu adalah menjadi hamba Allah Ta’ala.

Karena Allah dipahami sebagai sumber seluruh kebaikan, kesempurnaan, dan cahaya tanpa batas.

Sebaliknya, yang menghancurkan manusia adalah ketika ia menjadi hamba sesama manusia, hamba kekuasaan zalim, atau hamba hawa nafsunya sendiri.

Dan mungkin di situlah krisis terbesar manusia modern hari ini.

Kita mengira telah meninggalkan era perbudakan, tetapi sebenarnya hanya mengganti bentuk rantainya.

Ada orang yang hidup sepenuhnya demi validasi sosial. Ada yang seluruh hidupnya dikendalikan oleh uang. Ada yang tak mampu menolak hasrat tubuhnya sendiri. Ada yang rela kehilangan integritas demi jabatan. Ada pula yang begitu takut kepada kekuasaan sehingga nuraninya mati perlahan.

Baca Juga  Mengenal Konsep Wilayat Faqih (4) Perjuangan Tanpa Tujuan Adalah Kelelahan yang Panjang

Al-Qur’an menyebut fenomena ini dengan sangat tajam:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ

Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyyah 23)

Ayat itu terasa sangat modern.

Sebab ternyata manusia tidak selalu menyembah patung. Kadang manusia menyembah dirinya sendiri.

Kemudian coba bandingkan konsep Islam dengan sebagian pemahaman keagamaan lain yang menggambarkan hubungan manusia dan Tuhan sebagai hubungan “anak dan ayah”. hal ini tentu mengecilkan keagungan Tuhan. Dalam Islam, Tuhan bukan makhluk biologis yang melahirkan atau dilahirkan.

Al-Qur’an menegaskan:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Sebab Tuhan, dalam konsep tauhid Islam, adalah wujud tanpa batas, tanpa kekurangan, tanpa kebutuhan biologis. Jika Tuhan dibayangkan memiliki keterbatasan seperti makhluk, maka Ia tidak lagi layak menjadi pusat penghambaan total manusia.

Tetapi yang paling menarik adalah bukan perdebatan teologisnya. Melainkan dampak sosial dan psikologis dari konsep ketuhanan itu.

Ketika manusia benar-benar menjadi “hamba Tuhan”, ia justru berhenti menjadi budak banyak hal lain.

Karena itu tauhid dalam Islam selalu memiliki dimensi pembebasan.

Orang yang hanya takut kepada Tuhan tidak akan terlalu mudah ditakut-takuti manusia. Orang yang merasa harga dirinya berasal dari Tuhan tidak akan terlalu tergantung pada pujian publik. Orang yang menggantungkan makna hidupnya kepada Allah tidak akan mudah hancur hanya karena kehilangan dunia.

Di sinilah letak rahasia spiritual kalimat:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ

Hanya kepada-Mu kami menyembah.”

Dalam bahasa Arab, sebenarnya bisa saja dikatakan: na‘buduka “kami menyembah-Mu”. Tetapi Al-Qur’an memilih bentuk iyyāka na‘budu, yang memberi makna pembatasan dan penegasan.

Artinya bukan sekadar “kami menyembah-Mu”, tetapi:

Baca Juga  Jangan Lari dari Dunia: Cara Islam Menyembuhkan Salah Paham tentang Akhirat

“hanya Engkau yang kami sembah.”

Ada penolakan terhadap segala bentuk sesembahan lain di dalamnya.

Bukan hanya patung atau berhala kuno, tetapi juga segala hal yang mengambil alih pusat kepatuhan manusia.

Karena itu Islam bukan sekadar mengajarkan ritual ibadah, tetapi juga mengajarkan keberanian menjaga kemerdekaan jiwa.

Dan sejarah menunjukkan bahwa manusia paling berbahaya bagi sistem zalim adalah manusia yang tidak bisa dibeli dan tidak mudah ditakut-takuti.

Sebab ia telah memindahkan pusat pengabdiannya hanya kepada Tuhan.

Menariknya, banyak masyarakat yang menganggap dirinya “anak Tuhan” atau merasa telah maju secara spiritual, tetapi justru jatuh dalam berbagai bentuk perbudakan baru: hedonisme, kerakusan ekonomi, kerakusan seksual, dan penghambaan terhadap kekuasaan.

Karena tanpa tauhid yang membebaskan, manusia cenderung mencari “tuhan-tuhan kecil” baru dalam hidupnya.

Dan mungkin itulah sebabnya kalimat إِيَّاكَ نَعْبُدُ diulang terus setiap hari dalam shalat. Karena manusia mudah sekali kembali diperbudak oleh sesuatu selain Tuhan.

Pada akhirnya, ibadah dalam Islam bukanlah penghinaan terhadap manusia, melainkan cara memuliakan manusia. Dengan satu syarat: penghambaan itu hanya kepada Allah.

Sebab ketika manusia sujud kepada Tuhan yang Mahatinggi, justru saat itulah ia berhenti merangkak di hadapan dunia.

Bagikan:
Terkait
Komentar