Petani dan Ketahanan Pangan: Mengapa Ladang Lebih Berharga daripada Emas dan Minyak?

KHAMENEI.ID— Di tengah dunia yang sibuk memburu teknologi, membangun industri raksasa, dan memperebutkan sumber energi, ada satu ironi yang diam-diam tumbuh: manusia modern sering lupa dari mana hidup sebenarnya dimulai. Kita bisa hidup tanpa emas. Kita bisa bertahan tanpa minyak untuk beberapa waktu. Tetapi tanpa pangan, peradaban runtuh hanya dalam hitungan hari.

Karena itu, ada kalimat menarik dalam tradisi Islam yang terdengar sederhana tetapi sesungguhnya mengguncang cara pandang manusia terhadap pertanian. Disebutkan:

الزّارعون کنوز اللَّه فی ارضه

“Para petani adalah penggali dan pemanen harta karun Tuhan di bumi.”

Kalimat itu bukan pujian romantis kepada petani. Ia adalah cara pandang tentang kehidupan. Bahwa tanah bukan sekadar hamparan lumpur yang diinjak manusia setiap hari, melainkan gudang rahasia kehidupan yang dititipkan Tuhan kepada mereka yang mau menanam, merawat, dan bersabar menunggu panen.

Dalam dunia modern, profesi petani sering diposisikan di pinggir. Anak muda didorong menjadi pegawai kantoran, pebisnis digital, atau pekerja industri. Sementara sawah perlahan kehilangan generasi penerusnya. Pertanian dianggap pekerjaan berat dengan keuntungan kecil. Banyak orang memandang ladang sebagai simbol keterbelakangan, bukan masa depan.

Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bangsa pertama-tama ditentukan oleh ketahanan pangannya. Negara yang tidak mampu memberi makan rakyatnya akan mudah bergantung pada bangsa lain. Ketika krisis global datang, perang pecah, distribusi terganggu, atau harga pangan melonjak, barulah manusia sadar bahwa gandum, beras, jagung, dan air jauh lebih menentukan nasib bangsa dibandingkan gemerlap gedung pencakar langit.

Itulah mengapa sektor pertanian bukan urusan sampingan. Ia adalah fondasi pembangunan. Industri memang penting, teknologi memang diperlukan, tetapi perhatian kepada industri tidak boleh membuat bangsa melupakan akar kehidupannya sendiri: tanah dan pangan.

Baca Juga  Bukan Karena Salah, Tetapi Karena Terlalu Adil: Tragedi Pemerintahan Imam Ali 

Ada satu bagian penting yang menarik untuk direnungkan, bahwa hasil pertanian lebih penting daripada emas dan minyak. Pernyataan ini terdengar berlebihan di zaman kapitalisme modern. Namun jika dipikir lebih dalam, logikanya sangat masuk akal.

Emas hanya alat tukar. Minyak adalah sumber energi. Keduanya membantu manusia memperoleh kebutuhan hidup. Tetapi makanan adalah kebutuhan hidup itu sendiri. Manusia tidak memakan emas. Manusia tidak bisa bertahan hidup dengan meneguk minyak. Semua kemewahan ekonomi akhirnya tetap bergantung pada sepiring nasi di meja makan.

Kita menyaksikan sendiri bagaimana banyak negara kaya sumber daya alam justru goyah ketika pangan terganggu. Krisis gandum global, perubahan iklim, gagal panen, hingga konflik geopolitik membuat dunia mulai berbicara tentang “food security” atau keamanan pangan. Negara-negara besar berlomba mengamankan stok beras, gandum, dan jagung. Dunia perlahan sadar bahwa masa depan bukan hanya soal siapa paling canggih teknologinya, tetapi siapa yang mampu memberi makan rakyatnya secara mandiri.

Di titik inilah profesi petani mendapatkan kembali martabatnya. Seorang petani sejatinya bukan sekadar pekerja sawah. Ia penjaga keberlangsungan hidup masyarakat. Tangannya yang penuh lumpur sesungguhnya sedang menjaga stabilitas negara. Keringatnya yang jatuh di bawah matahari adalah bagian dari pertahanan bangsa yang sering tidak terlihat.

Namun ada problem besar dalam masyarakat modern: kita menikmati hasil pertanian tanpa benar-benar menghargai orang yang menanamnya. Makanan hadir di meja makan dalam bentuk yang sudah jadi. Nasi tinggal ditanak. Sayur tinggal dimasak. Buah tinggal dipotong. Kota membuat manusia jauh dari proses panjang yang melahirkan pangan.

Akibatnya, hubungan emosional manusia dengan tanah perlahan hilang. Orang lebih mudah menghargai profesi yang menghasilkan uang cepat dibanding profesi yang menghasilkan kehidupan. Padahal tanpa petani, seluruh rantai ekonomi akan lumpuh. Pabrik berhenti bekerja ketika manusia lapar. Teknologi kehilangan makna ketika bahan pangan tidak tersedia.

Baca Juga  Poros Perlawanan: Dari Qasem Soleimani hingga Nurani Dunia yang Terbangun

Di Indonesia, ironi ini terasa nyata. Banyak lahan pertanian berubah menjadi kawasan industri dan perumahan. Generasi muda desa berbondong-bondong meninggalkan sawah karena merasa masa depan tidak ada di sana. Pertanian dipersepsikan sebagai pekerjaan yang melelahkan dan tidak menjanjikan. Sementara konsumsi pangan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Pertanyaan besarnya: apa yang terjadi jika suatu hari bangsa ini kehilangan petani?

Mungkin kita baru akan menyadari nilainya ketika rak-rak pangan kosong, harga beras melambung, dan ketergantungan impor membuat negara tidak lagi memiliki kedaulatan atas perut rakyatnya sendiri. Di saat itulah manusia sadar bahwa cangkul dan benih ternyata sama pentingnya dengan mesin dan teknologi.

Teks ini sesungguhnya mengandung kritik halus terhadap cara pembangunan modern yang terlalu berpusat pada industri dan melupakan pertanian. Kemajuan ekonomi sering diukur dari banyaknya gedung, jalan tol, dan kawasan bisnis. Padahal sebuah bangsa tidak hanya berdiri di atas beton, tetapi juga di atas tanah yang subur.

Ada dimensi spiritual yang menarik di sini. Petani disebut sebagai pengambil “harta karun Tuhan” dari bumi. Artinya, tanah tidak dianggap benda mati. Ia memiliki potensi kehidupan yang disimpan oleh Tuhan untuk manusia. Tetapi harta itu tidak muncul sendiri. Ia membutuhkan tangan manusia yang bekerja, kesabaran menghadapi musim, serta keyakinan bahwa setiap benih yang ditanam mengandung harapan.

Mungkin karena itu pekerjaan bertani selalu dekat dengan makna kesabaran dan tawakal. Petani bekerja tanpa kepastian penuh. Ia menanam tanpa bisa sepenuhnya mengontrol hujan, cuaca, atau hasil panen. Ada unsur ikhtiar sekaligus penyerahan diri yang sangat manusiawi di sana.

Di tengah dunia yang semakin digital, mungkin manusia perlu kembali mengingat satu hal sederhana: peradaban tidak dimulai dari layar komputer, tetapi dari tanah yang ditanami. Dan bangsa yang melupakan petaninya, sesungguhnya sedang perlahan melupakan sumber kehidupannya sendiri.

Baca Juga  Demokrasi Tanpa Jiwa: Ketika Bangsa Dipaksa Membenci Mutiaranya Sendiri
Bagikan:
Terkait
Komentar