Tahassun Ulama di Universitas Teheran: Aksi Pendudukan Damai Simbolik yang Mengguncang Rezim Pahlavi 

Penulis, Muhammad Mahdi Islami

Pengumuman keputusan Imam Khomeini qs untuk kembali ke Iran mendorong rezim Pahlavi melakukan tindakan-tindakan yang semakin melipatgandakan api revolusi rakyat. Tanggal yang diumumkan adalah 5 Bahman 1357 HS / 25 Januari 1979, namun berita-berita mengabarkan adanya pengumuman kerusakan teknis pada pesawat yang menuju Paris serta penutupan landasan Bandara Mehrabad oleh tank-tank dan truk-truk militer; akhirnya diumumkan penghentian seluruh penerbangan Bandara Mehrabad selama tiga hari. 

Para ulama revolusioner, sebagai bentuk protes terhadap tindakan rezim ini, memutuskan untuk mengadakan aksi  tahassun (Aksi Pendudukan Damai Simbolik ) di masjid Universitas Teheran. Yang Mulia Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs, yang pada hari-hari itu merupakan anggota Dewan Revolusi, memegang tanggung jawab Komite Publikasi dan Propaganda aksi  tahassun tersebut. Laporan berikut adalah riwayat awal dan akhir aksi  tahassun ini.

Dengan ditutupnya bandara dan setelah demonstrasi besar rakyat pada keesokan harinya (bertepatan dengan 28 Safar), para pemimpin revolusioner berkumpul di markas Komite Penyambutan Imam di Madrasah Refah untuk bermusyawarah mengenai hal ini. Usulan penyelenggaraan aksi  tahassun pun diajukan. “Gagasan aksi  tahassun (Aksi Pendudukan Damai Simbolik) di Teheran tidak terlepas dari pengalaman aksi  tahassun di Masyhad, yakni pengalaman sukses aksi  tahassun di rumah sakit Imam Ridha as. di Masyhad, yang menjadi pendorong bagi aksi  tahassun yang dilakukan di Teheran ini.”

Setelah prinsip penyelenggaraan aksi  tahassun disetujui, pembicaraan mengenai tempat pelaksanaannya dimulai: “Beberapa waktu dibahas di mana aksi  tahassun itu akan dilaksanakan. Sebagian mengatakan di Masjid Bazaar, Masjid Imam yang saat itu namanya Masjid Syah, agar aksi  tahassun dilakukan di sana; sebagian mengusulkan tempat-tempat lain. Pada suatu waktu usulan universitas juga diajukan, lalu kami melihat bahwa itu sangat menarik dan dari segala sisi sangat baik.”

Baca Juga  Rahasia di Balik Ketangguhan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs: Sosok Ibu yang Menanamkan Ruh Perjuangan Sejak Kecil

Almarhum Ayatullah Taheri Khorramabadi mengenai hal ini berkata: “Salah satu pendapat adalah bahwa aksi  tahassun dilakukan di tempat yang murni religius. Untuk tujuan ini, bekas Masjid Syah dipertimbangkan. Kawan-kawan mengatakan bahwa tempat itu adalah lokasi terbaik untuk aksi  tahassun. Masjid ini berada di pasar dan orang-orang juga berlalu-lalang di dalam dan sekitar masjid itu. Pendapat lain juga ada, yang didukung oleh Syahid Muthahhari, yaitu aksi  tahassun di universitas. Para pendukung pandangan ini meyakini bahwa nama universitas adalah nama yang bersifat mendunia dan aksi  tahassun ini dengan cara demikian akan menjadi perhatian dunia serta media-media dunia juga akan mengangkatnya; selain itu, hubungan dan kedekatan yang lebih besar dengan kalangan mahasiswa dan civitas akademika juga akan terjalin.”

Dengan dipilihnya Universitas Teheran, “para peserta aksi ini sejak pagi-pagi sekali pergi ke universitas … mereka benar-benar menciptakan banyak hambatan di jalan kami, tetapi syukurlah masjid terbuka. Kami masuk ke dalam masjid dan segera menjadikan ruangan kecil di samping masjid itu sebagai pusat kegiatan, lalu segera menerbitkan sebuah pernyataan; artinya pekerjaan pertama yang kami lakukan adalah menulis sebuah pernyataan.”

Dengan demikian aksi  tahassun dimulai dan pernyataan pertama para ulama peserta aksi ini di Masjid Universitas Teheran diterbitkan pada 8 Bahman 1357 HS atau 28 Januari 1979 . Dalam sebagian pernyataan ini disebutkan: “Kami, sebagai bentuk protes terhadap tindakan anti-kemanusiaan pemerintah ilegal Bakhtiar, sejak pukul 9 pagi hari Ahad, 8 Bahman tahun ini hingga kembalinya Hadhrat Ayatullah al-‘Uzhma Imam Khomeini qs ke tanah air dan ke pelukan penuh kasih bangsa, memilih melakukan aksi  tahassun (Aksi Pendudukan Damai Simbolik ) di Masjid Universitas Teheran, dan dari tempat suci ini bersama saudara-saudara mahasiswa kami, kami akan menyampaikan seruan pencarian kebenaran kami kepada dunia.” 

Baca Juga  Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs: “yang menjadi prinsip utama adalah selalu berada di samping para pemuda”

Dengan dimulainya aksi ini, arus besar manusia yang tak terhitung jumlahnya mengalir menuju Universitas Teheran. Para ulama dari berbagai tempat juga dengan segala cara mendatangi masjid universitas dan bergabung dengan para peserta aksi ini.

“Jika tidak ada pidato-pidato dan pernyataan-pernyataan, maka tidak akan dipahami pekerjaan apa yang telah dilakukan; rakyat juga tidak akan mengetahui kejadiannya dan propaganda pemerintah mungkin dapat menampilkannya dengan cara lain. Oleh karena itu ada beberapa program di universitas. Salah satunya adalah pidato-pidato yang terus-menerus dilaksanakan di Masjid Universitas, di mana masing-masing dari kami menjadwalkan program pidato di sana dan orang-orang lain juga berpidato. Yang lain adalah pernyataan-pernyataan, dan satu lagi adalah sebuah publikasi, sebuah buletin harian yang kami terbitkan.”

Ruangan kecil di samping Masjid Universitas itu kemudian berubah menjadi pusat kepemimpinan aksi  tahassun (Aksi Pendudukan Damai Simbolik ) di Teheran. Beberapa komite utama dibentuk untuk aksi ini, sebagian di antaranya adalah: Komite Ulama Daerah dan Komite Dukungan; ada pula komite penting lain bernama Komite Propaganda. Tanggung jawab komite ini berada di tangan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs yang juga menerbitkan sebuah publikasi pada masa itu: “Saya tidak lupa hari itu bersama almarhum Ayatullah Behesyti kami berdua datang dan masuk dari pintu timur universitas. Salah seorang sahabat tercinta dan ulama terhormat sebelumnya telah pergi ke sana, melakukan koordinasi dan membuka pintu timur universitas  karena pintu selatan yang merupakan pintu utama berada di bawah kendali rezim dan tidak dibukakan untuk kami dan kami masuk dari sana ke universitas, lalu pergi ke Masjid Universitas, dan saya pergi ke ruangan di belakang masjid itu  yang merupakan ruangan kecil, saya tidak tahu apakah sekarang masih ada atau tidak  kami menetap di sana dan sejak hari pertama itu juga kami menjalankan publikasi aksi tahassun ini, yang beberapa edisinya diterbitkan di sana sejak hari pertama.”

Baca Juga  Aku ahli mengepang rambut dengan baik

Aksi  tahassun (Aksi Pendudukan Damai Simbolik ) para ulama yang cerdas dan tepat waktu ini serta gaung luasnya memberikan tekanan besar kepada Bakhtiar dan membuatnya sangat gelisah. Ia bahkan dalam jalan ini melakukan perundingan tidak langsung dengan para pemimpin Aksi  tahassun ini, meskipun ia tidak dapat menyeret mereka kepada kompromi dan mundur dari tuntutan. Menurut Ayatullah Jami: “Kami mengetahui bahwa Bakhtiar telah panik. Ia melakukan kontak dengan sebagian tokoh besar yang terlibat dalam Aksi  tahassun dan Komite Penyambutan. Dengan tokoh-tokoh seperti Syahid Muthahhari dan Behesyti agar mereka melakukan sesuatu. Mereka dengan tegas dan kokoh mengatakan bahwa tidak ada jalan lain selain ini dan Imam pasti harus datang, dan aksi ini tidak akan dibubarkan sampai Imam datang.”

Bagaimanapun juga, ketika Bakhtiar memahami bahwa ia tidak dapat menyeret para pemimpin kepada kompromi dan di sisi lain juga tidak dapat bertahan menghadapi tekanan yang terus meningkat akibat aksi tersebut, akhirnya ia menyerah kepada tuntutan para peserta aksi ini dan rakyat pendukung mereka. Dari pihak pemerintah diumumkan bahwa tidak ada halangan bagi masuknya Imam ke tanah air, dan Aksi  tahassun (aksi pendudukan damai yang simbolik) ini menyebabkan pilar utama kemenangan revolusi pada masa itu yakni kehadiran Imam di dalam negeri dapat terwujud. Oleh karena itu, aksi ini harus dianggap sebagai salah satu peristiwa paling utama dalam Revolusi Islam.

Baca Juga:

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs: “yang menjadi prinsip utama adalah selalu berada di samping para pemuda”

Pendidikan, Teladan, dan Bahasa Moral: Pesan Imam Ali Khamenei untuk Masa Depan Generasi

 

Bagikan:
Terkait
Komentar