Kemerdekaan Ilmu dan Jebakan Sponsor Global: Kritik Imam Ali Khamenei terhadap Arah Sains Modern

KHAMENEI.ID – Di era ketika riset ilmiah diukur oleh jumlah publikasi, ranking universitas, dan dana sponsor internasional, muncul pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: benarkah ilmu hari ini sepenuhnya bebas? Di sini, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa ancaman terbesar terhadap dunia ilmu bukan hanya keterbelakangan, tetapi juga hilangnya kemandirian berpikir.

Bagi beliau, kemajuan ilmu pengetahuan tetap menjadi keharusan. Sebuah bangsa, katanya, tidak mungkin berdiri kuat tanpa penguasaan sains dan teknologi. Karena itu, ia menekankan pentingnya percepatan kemajuan ilmiah, inovasi, dan pembangunan fondasi ilmu yang mandiri. Dalam pandangannya, ilmu bukan sekadar instrumen akademik, tetapi bagian dari kekuatan peradaban.

Menariknya, Imam Khamenei melihat ilmu sebagai hasil langsung dari cara berpikir. Kemajuan teknologi, menurutnya, lahir dari keberanian intelektual untuk mencipta dan menemukan arah sendiri. Karena itu ia menolak sikap malas berpikir dan ketergantungan intelektual terhadap pihak luar.

Dalam pidato tersebut, beliau mengapresiasi munculnya gerakan inovasi ilmiah dan dorongan menuju “kemerdekaan sains” yang mulai berkembang beberapa tahun terakhir. Ia menilai hasil dari gerakan ilmiah sering kali tidak terlalu jauh untuk dirasakan. Ketika penelitian dilakukan secara serius dan mendasar, buahnya bisa segera tampak dalam bentuk teknologi, industri, dan kemampuan strategis bangsa.

Namun di balik optimisme itu, ada peringatan keras. Imam Khamenei menyoroti bagaimana arah ilmu pengetahuan modern sering kali diam-diam dikendalikan oleh kepentingan pasar dan sponsor global. Kritiknya tidak berhenti pada politik, tetapi masuk hingga dunia seni, perfilman, dan penelitian akademik.

Ia memberikan contoh yang sangat konkret. Ada pihak-pihak yang mempelajari selera pasar Barat—misalnya kebutuhan dunia seni lukis atau perfilman—lalu mengarahkan seniman lokal agar berkarya sesuai dengan keinginan pasar tersebut. Akibatnya, karya seni tidak lagi lahir dari identitas dan kebutuhan masyarakat sendiri, tetapi dari selera eksternal yang memiliki kekuatan modal.

Baca Juga  Amar Makruf Nahi Mungkar: Fondasi Sosial Islam yang Sering Disalahpahami

Fenomena yang sama, menurut beliau, terjadi dalam dunia akademik. Penelitian, publikasi ilmiah, bahkan tema-tema riset, perlahan bergerak mengikuti arah yang ditentukan sponsor. Ia menyinggung budaya publikasi internasional seperti jurnal ISI yang sering menjadi standar keberhasilan akademik modern. Dalam sistem seperti itu, peneliti bisa tanpa sadar lebih sibuk memenuhi kebutuhan pusat-pusat kekuatan ilmiah global daripada menjawab persoalan nyata masyarakatnya sendiri.

Kritik ini terasa sangat relevan dalam dunia modern yang semakin bergantung pada pendanaan korporasi dan jaringan global riset. Banyak penelitian memang berkembang pesat berkat dana besar, tetapi pada saat yang sama muncul pertanyaan tentang independensi ilmu. Siapa yang menentukan arah penelitian? Siapa yang menentukan isu mana yang layak diteliti? Dan untuk kepentingan siapa ilmu itu akhirnya digunakan?

Imam Khamenei melihat adanya pola yang lebih luas: sponsor finansial tidak hanya mendukung penelitian, tetapi juga membentuk orientasi intelektual. Dalam istilahnya, bantuan material dan dukungan finansial diarahkan agar produksi ilmu bergerak sesuai kepentingan tertentu. Akibatnya, kemerdekaan berpikir perlahan terkikis.

Karena itu beliau menekankan pentingnya “kemandirian gerakan ilmiah”. Kemerdekaan ilmu, menurutnya, bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan menjaga kemampuan menentukan prioritas sendiri. Sebuah bangsa harus mampu meneliti apa yang benar-benar dibutuhkannya, bukan sekadar apa yang sedang diminati pasar global.

Pandangan ini sejalan dengan semangat Islam yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Al-Qur’an berkali-kali mengangkat derajat orang berilmu:

«هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ»

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Namun dalam perspektif Imam Khamenei, ilmu tidak boleh tercerabut dari nilai dan kemandirian. Sains yang kehilangan arah moral atau dikendalikan kepentingan eksternal berisiko berubah menjadi alat dominasi baru.

Baca Juga  Rakyat sebagai Pilar Peradaban Islam

Beliau bahkan memperluas kritik ini ke wilayah politik. Ketergantungan intelektual, menurutnya, pada akhirnya akan melahirkan ketergantungan politik. Ketika arah ilmu dan budaya ditentukan pihak luar, maka kebijakan sebuah bangsa pun perlahan dapat dipengaruhi oleh pusat kekuatan global.

Di sinilah letak kegelisahan utama pidato tersebut. Dunia modern memang memuja kemajuan ilmu, tetapi sering lupa bertanya: apakah ilmu itu benar-benar bebas? Ataukah ia sedang bergerak di bawah bayang-bayang modal, pasar, dan kepentingan geopolitik?

Imam Khamenei tampaknya ingin mengingatkan generasi muda—terutama ilmuwan, seniman, dan akademisi—agar tidak hanya mengejar kemajuan teknis, tetapi juga menjaga kedaulatan intelektual. Kemajuan sejati, dalam pandangannya, bukan sekadar mampu memproduksi teknologi, melainkan mampu berpikir secara merdeka.

Dan mungkin di situlah tantangan terbesar dunia modern hari ini: bukan hanya bagaimana menciptakan ilmu, tetapi bagaimana menjaga agar ilmu tetap bebas dari kendali kepentingan yang ingin mengarahkan masa depan manusia.

Bagikan:
Terkait
Komentar