Jangan Terlelap oleh Lullaby Musuh: Kewaspadaan sebagai Iman dan Politik

Ada masa ketika senyum terasa lebih berbahaya daripada ancaman. Ia datang tanpa dentuman, tanpa suara keras, hanya sebuah bisikan yang menenangkan. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa sejarah berkali-kali memperlihatkan bagaimana bangsa atau individu justru tumbang bukan karena serangan langsung, melainkan karena tertidur oleh rasa aman yang palsu. Kewaspadaan, kata beliau, bukan sekadar strategi politik; ia adalah bagian dari iman.

Gagasan ini dibuka dengan merujuk pada warisan klasik Islam. Dari Nahj al-Balaghah, beliau mengutip ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as:

«وَاللهِ لا أَكُونُ كَالضَّبُعِ تَنَامُ عَلَى طُولِ اللَّدْمِ»

“Demi Allah, aku tidak akan seperti hyena yang tertidur oleh panjangnya tepukan.”

Maknanya sederhana tetapi menampar: aku bukan orang yang bisa ditidurkan oleh nyanyian musuh. Dalam bahasa yang lebih modern, ini seperti peringatan bahwa propaganda, diplomasi manis, atau janji kerja sama bisa menjadi “lagu nina bobo” yang membuat bangsa kehilangan kewaspadaan.

Imam Khamenei kemudian menambahkan kutipan lain dari Imam Ali bin Abi Thalib as:

«وَمَنْ نَامَ لَمْ يُنَمْ عَنْهُ»

“Barang siapa tidur, belum tentu musuhnya ikut tidur.” (Nahjul Balaghah, Surat ke-62)

Kalimat pendek itu menyimpan logika geopolitik yang tajam. Dunia tidak pernah berhenti bergerak. Ketika satu pihak merasa aman, pihak lain mungkin sedang merancang langkah berikutnya. Musuh tidak selalu datang dengan wajah marah; sering kali ia hadir dengan wajah ramah, bahkan bersahabat.

Di sinilah Imam Khamenei mengajak audiens melihat politik global dengan kacamata yang lebih realistis. Banyak negara, katanya, memiliki slogan kemerdekaan dan kemandirian. Mereka berkata tidak ingin tunduk pada kekuatan besar. Namun dalam praktiknya, arah kebijakan bisa berubah melalui transaksi, negosiasi, atau bahkan kesepakatan di balik layar. Hari ini menyatakan satu sikap, besok mengumumkan kebijakan yang bertolak belakang. Prinsip yang tadinya tampak kokoh bisa goyah oleh tekanan ekonomi, diplomasi, atau kepentingan elite.

Baca Juga  “Jahiliyah Modern”: Kritik Imam Ali Khamenei atas Modernitas dan Peradaban Barat

Menurut beliau, inilah perbedaan mendasar antara independensi yang bersifat taktis dan independensi yang bersifat ideologis. Jika kemandirian hanya menjadi strategi politik, ia bisa dinegosiasikan. Ia bisa ditawar. Bahkan bisa dijual. Tetapi jika kemandirian lahir dari iman, dari keyakinan religius yang mendalam, maka ia berubah menjadi prinsip yang tidak dapat diperdagangkan.

Imam Khamenei menegaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan peringatan tegas tentang hal ini. Ia mengutip ayat:

«وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ» (هود: 113)

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, sehingga kamu disentuh api neraka.”

Ayat itu bukan sekadar larangan moral; ia juga mengandung pesan politik. Bersandar kepada kekuatan zalim berarti membuka pintu ketergantungan. Ketergantungan, pada gilirannya, melemahkan kemandirian. Dalam perspektif ini, kepercayaan tanpa batas kepada kekuatan yang menindas bukanlah sikap naif semata, melainkan pelanggaran terhadap prinsip iman.

Ayat lain yang disinggung beliau berbunyi:

«إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ» (الممتحنة: 9)

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai teman setia orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusirmu dari negerimu.”

Ayat ini sering dibaca dalam konteks sejarah Islam awal, tetapi Imam Khamenei menempatkannya dalam konteks kontemporer. Pesannya tetap relevan: hubungan internasional boleh berlangsung, dialog boleh dilakukan, tetapi kewaspadaan tidak boleh hilang. Ada garis batas antara kerja sama dan ketergantungan, antara diplomasi dan ketundukan.

Menariknya, beliau tidak menolak dialog. Tidak pula menolak negosiasi. Namun beliau menolak ilusi bahwa senyum diplomatik selalu berarti keamanan. Dunia modern, kata beliau, penuh dengan contoh bagaimana kekuatan besar menggunakan ekonomi, budaya, bahkan media sebagai alat pengaruh. Kekuatan militer bukan lagi satu-satunya cara dominasi; ada “lullaby” yang lebih halus: bantuan, investasi, kerja sama strategis, atau narasi global yang tampak universal.

Baca Juga  Benarkah Amerika Melemah? Membaca Perubahan Kekuatan Dunia dalam Perspektif Imam Ali Khamenei qs

Di sinilah konsep kewaspadaan berubah menjadi sikap mental. Ia bukan paranoia, melainkan kesadaran. Bukan penolakan terhadap dunia, tetapi kemampuan membaca dunia dengan jernih. Imam Khamenei menekankan bahwa masyarakat yang beriman tidak boleh mudah terpesona oleh pujian atau takut oleh tekanan. Keduanya bisa menjadi alat manipulasi.

Dalam konteks modern, pesan ini terasa relevan bagi generasi yang hidup di tengah arus informasi global. Media sosial, diplomasi publik, hingga budaya populer sering membentuk persepsi tentang siapa kawan dan siapa lawan. Narasi dibangun, citra dipoles, dan opini diarahkan. Tanpa kewaspadaan, masyarakat bisa mengira bahwa ancaman telah hilang hanya karena bahasa yang digunakan berubah menjadi lebih lembut.

Imam Khamenei kemudian menyimpulkan dengan tegas: kemandirian yang berakar pada iman tidak bisa dibeli. Ia bukan barang dagangan. Siapa pun yang rela meninggalkan prinsip ini, menurut beliau, kehilangan kelayakan untuk memegang tanggung jawab dalam sistem yang dibangun atas dasar keyakinan tersebut. Pernyataan ini bukan sekadar kritik politik; ia adalah peringatan moral tentang harga sebuah prinsip.

Pada akhirnya, pesan ceramah ini terasa seperti nasihat lama yang terus menemukan relevansinya. Dunia mungkin berubah, teknologi berkembang, diplomasi menjadi lebih kompleks. Tetapi sifat dasar kekuasaan—dan godaan untuk merasa aman terlalu cepat—tidak banyak berubah.

Barangkali itulah makna terdalam dari kalimat Imam Ali yang dikutip di awal: jangan biarkan diri tertidur oleh nyanyian musuh. Karena ketika kita tertidur, dunia tidak berhenti bergerak. Dan ketika kita terbangun, mungkin peta sudah berubah.

Bagikan:
Terkait
Komentar