KHAMENEI.ID— Ada satu ironi besar dalam kehidupan modern: manusia begitu sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk masa depan dunia, tetapi perlahan kehilangan kesiapan batin untuk mempertahankan nilai yang paling mereka yakini. Kita hidup di zaman ketika ancaman tidak selalu datang dengan suara ledakan atau derap tank di perbatasan. Kadang ia hadir lebih halus, melalui kelelahan moral, lunturnya idealisme, dan kebiasaan untuk merasa aman terlalu lama.
Di tengah situasi semacam itu, konsep jihad sering dipahami secara sempit: hanya perang fisik di medan tempur. Padahal, dalam banyak tradisi Islam klasik, jihad juga berarti menjaga kesiapan jiwa untuk membela kebenaran ketika saatnya tiba. Bukan sekadar mengangkat senjata, melainkan memastikan hati tidak menjadi lumpuh oleh kenyamanan.
Satu hal penting dalam hali ini ialah menjaga kesiapan ruhani pasukan dan mereka yang bertanggung jawab mempertahankan negara serta revolusi. Namun jika dibaca lebih dalam, pesan itu sebenarnya melampaui konteks militer. Ia berbicara tentang manusia yang tidak boleh kehilangan semangat perjuangan, bahkan ketika perang tampak tidak sedang berlangsung.
Zaman sekarang tetap merupakan masa “jihad fi sabilillah”, perjuangan di jalan Tuhan, meski bentuknya tidak seterbuka era peperangan. Kesulitannya mungkin bahkan lebih halus dan lebih rumit. Musuh tidak selalu terlihat. Ancaman tidak selalu datang dari luar. Kadang yang paling berbahaya justru rasa puas diri yang tumbuh diam-diam di dalam hati.
Karena itu, hal pertama yang harus dijaga adalah “kesiapan ruhani” untuk membela nilai, bangsa, dan keyakinan.
Sebuah hadis Nabi Muhammad saw:
مَنْ لَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِغَزْوٍ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنَ النِّفَاقِ
“Siapa yang tidak pernah berjuang, dan bahkan tidak pernah menghadirkan semangat perjuangan dalam dirinya, maka ia mati dalam satu cabang kemunafikan.”
Kalimat ini terasa keras. Tetapi justru di situlah daya guncangnya. Nabi tampaknya tidak sedang memerintahkan semua orang menjadi tentara, melainkan memperingatkan tentang bahaya jiwa yang kehilangan keberpihakan. Bahaya ketika seseorang hidup hanya untuk keselamatan dirinya sendiri, tanpa lagi memiliki kesiapan moral untuk membela sesuatu yang lebih besar daripada kepentingannya.
Dalam dunia modern, kondisi semacam ini terasa sangat relevan. Banyak orang masih berbicara tentang idealisme, agama, atau nasionalisme, tetapi semuanya berhenti di tingkat slogan. Ketika pengorbanan diperlukan, mereka mundur. Ketika integritas menuntut risiko, mereka memilih aman. Kita mulai hidup dalam budaya yang memuja kenyamanan dan menganggap keteguhan sebagai sesuatu yang ekstrem.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan sebuah bangsa sering kali tidak dimulai dari serangan luar, melainkan dari melemahnya mentalitas bertahan di dalam masyarakatnya sendiri. Orang-orang tidak lagi siap berkorban. Mereka ingin menikmati hasil perjuangan generasi sebelumnya tanpa mau memikul beban menjaga nilai-nilai itu.
Di sinilah makna “kesiapan ruhani” menjadi penting.
Kesiapan ruhani bukan berarti hidup dalam paranoia perang tanpa akhir. Ia lebih dekat pada kesadaran bahwa kebenaran selalu membutuhkan penjaga. Bahwa keadilan tidak bertahan dengan sendirinya. Bahwa sebuah masyarakat yang terlalu tenggelam dalam kenyamanan akan mudah kehilangan keberanian moralnya.
Menariknya, jihad pada masa kini justru mungkin lebih rumit karena berlangsung dengan “kelembutan” yang lebih halus. Ini terasa sangat tepat menggambarkan zaman digital hari ini. Manusia tidak lagi selalu dihancurkan dengan peluru, tetapi dengan distraksi tanpa henti. Semangat perjuangan dilemahkan oleh hiburan berlebihan, individualisme, dan budaya instan.
Orang tidak perlu dipenjara untuk berhenti peduli pada kebenaran. Cukup dibuat sibuk, lelah, dan terus-menerus terdistraksi.
Dalam situasi seperti itu, menjaga kesiapan jiwa menjadi bentuk perjuangan tersendiri. Seorang prajurit mungkin menjaga batas negara dengan senjata. Tetapi masyarakat sipil juga memiliki “medan jihad”-nya sendiri: menjaga kejujuran di tengah korupsi yang dianggap biasa, mempertahankan integritas di lingkungan yang permisif terhadap kebohongan, atau tetap berpihak pada kemanusiaan ketika kebencian massal sedang populer.
Semua itu membutuhkan kesiapan batin. Dan kesiapan batin tidak lahir mendadak saat krisis datang. Ia dibentuk jauh sebelumnya, dalam disiplin kecil, kesadaran moral, dan keberanian untuk terus melawan kelumpuhan nurani.
Barangkali itulah sebabnya hadis tadi tidak hanya berbicara tentang tindakan perang, tetapi bahkan tentang “menghadirkan semangat perjuangan dalam diri”. Ada dimensi psikologis dan spiritual di sana. Sebab manusia yang sama sekali tidak lagi memiliki hasrat membela kebenaran, pada akhirnya akan hidup hanya sebagai penonton sejarah. Ia tidak berkhianat secara terang-terangan, tetapi diam-diam membiarkan nilai-nilai runtuh di hadapannya.
Dan mungkin, kemunafikan paling halus memang lahir dari sikap semacam itu: merasa berada di pihak kebenaran, tetapi tidak pernah siap membayar harga apa pun demi mempertahankannya.
Di akhir renungan ini, pertanyaannya menjadi sangat pribadi. Ketika dunia berubah semakin cepat, ketika nilai-nilai semakin cair, dan ketika keberanian sering dianggap gangguan terhadap kenyamanan sosial, apakah manusia modern masih memiliki kesiapan ruhani untuk mempertahankan apa yang mereka yakini benar?
Atau jangan-jangan kita sudah terlalu nyaman untuk peduli?
Sebab pada akhirnya, perjuangan terbesar mungkin bukan perang di medan tempur, melainkan perang sunyi melawan kelumpuhan jiwa sendiri.







