Ketika Umat Islam Berhenti Belajar: Kejayaan Islam Hanyalah Nostalgia  

KHAMENEI.ID– Ada satu penyakit yang diam-diam menghambat banyak bangsa berkembang: gengsi untuk belajar.

Sebagian orang lebih rela terlihat pintar daripada benar-benar menjadi pintar. Mereka takut dianggap tertinggal, malu bertanya, alergi mengakui kelemahan, dan akhirnya memilih hidup dalam ilusi kebesaran masa lalu. Padahal sejarah tidak pernah bergerak karena nostalgia. Ia bergerak karena keberanian manusia untuk belajar.

Dalam dunia Islam, persoalan ini terasa semakin ironis. Sebab peradaban yang dahulu pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia, kini justru sering berdiri sebagai konsumen teknologi, bukan pencipta. Kita menggunakan telepon genggam buatan orang lain, mengimpor teknologi orang lain, membaca jurnal orang lain, bahkan terkadang memakai cara berpikir orang lain untuk memahami diri sendiri.

Fakta itu pahit, tetapi perlu diakui.

Kita memang tertinggal.

Bukan satu atau dua tahun, melainkan ratusan tahun dalam banyak bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi mengakui ketertinggalan bukan berarti menyerah. Justru dari pengakuan jujur itulah kebangkitan bisa dimulai.

Masalahnya, sebagian masyarakat masih memandang belajar dari Barat seolah bentuk kekalahan budaya. Ada rasa malu untuk mengakui bahwa bangsa lain lebih maju dalam sains, riset, manajemen teknologi, dan pengembangan industri. Akibatnya, yang muncul sering bukan semangat mengejar ketertinggalan, melainkan kemarahan kosong atau romantisme sejarah.

Padahal Islam sejak awal tidak pernah mengajarkan kesombongan intelektual.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq a.s berkata:

لَسْتُ أُحِبُّ أَنْ أَرَى الشَّابَّ مِنْكُمْ إِلَّا غَادِياً فِي حَالَيْنِ إِمَّا عَالِماً أَوْ مُتَعَلِّماً

“Aku tidak suka melihat seorang pemuda kecuali dalam dua keadaan: menjadi orang berilmu atau menjadi pencari ilmu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat revolusioner. Dalam pandangan Islam, manusia muda tidak boleh kosong dari proses belajar. Ia harus tumbuh, mencari, bertanya, dan bergerak menuju pengetahuan. Bahkan dalam lanjutan riwayat itu digambarkan betapa mulianya orang yang keluar rumah demi mencari ilmu; para malaikat disebut mendoakan langkahnya.

Baca Juga  Ketika Ilmu Hanya Dicari untuk Gaji: Awal Kehancuran Makna Pendidikan

Artinya, belajar bukan posisi yang memalukan. Justru ketidaktahuan yang dipelihara itulah yang memalukan.

Karena itu, belajar dari bangsa lain sama sekali bukan aib. Peradaban Islam klasik pernah melakukan hal yang sama. Pada masa Abbasiyah, ilmuwan Muslim menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, India, dan Romawi. Mereka mempelajari matematika, astronomi, filsafat, kedokteran, hingga teknik dari berbagai bangsa.

Tetapi mereka tidak berhenti sebagai murid.

Di tangan para ilmuwan Muslim, ilmu-ilmu itu dikembangkan, diperbaiki, lalu melahirkan penemuan baru yang kelak menjadi fondasi kebangkitan Eropa modern. Nama-nama seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, dan Ibnu Haytham bukan lahir dari mentalitas inferior ataupun mentalitas anti-belajar. Mereka besar karena keberanian menyerap ilmu dari mana pun, lalu melampauinya.

Dan di situlah letak perbedaan penting antara “belajar” dan “menjadi pengikut abadi”.

Belajar dari Barat tidak berarti tunduk secara mental kepada Barat. Mengambil teknologi tidak berarti kehilangan identitas. Menguasai sains modern tidak otomatis membuat seseorang tercerabut dari nilai spiritualnya.

Justru bangsa yang matang adalah bangsa yang mampu belajar tanpa kehilangan dirinya.

Sayangnya, di banyak tempat, kita sering terjebak dalam dua kutub ekstrem. Sebagian menolak semua hal dari luar atas nama menjaga identitas. Sebagian lain justru kehilangan kepercayaan diri hingga meniru Barat secara total, bahkan dalam gaya hidup dan cara berpikir yang tidak selalu sehat.

Padahal yang dibutuhkan bukan penolakan buta atau kekaguman buta, melainkan kedewasaan intelektual.

Kita belajar apa yang mereka kuasai, mengambil metode terbaik mereka, menghormati guru-guru yang mengajarkan ilmu kepada kita, tetapi tetap memiliki cita-cita untuk berdiri sejajar, bahkan melampaui.

Sebab murid sejati bukan murid yang selamanya berada di belakang gurunya.

Baca Juga  Palestina dan Kebangkitan Islam: MengapaSebuah Bangsa yang Terjajah Tak Pernah Benar-Benar Kalah?

Teks klasik Islam yang sering dilupakan sebenarnya memiliki optimisme besar tentang masa depan ilmu pengetahuan umat. Bahwa hari ini mungkin kita menjadi murid, tetapi bukan berarti besok kita tidak bisa menjadi guru. Bahkan sejarah pernah mencatat keadaan sebaliknya: Eropa dulu belajar dari dunia Islam. Universitas-universitas Barat menerjemahkan karya ilmuwan Muslim ke bahasa Latin dan menjadikannya rujukan selama berabad-abad.

Artinya, posisi “guru” dan “murid” dalam sejarah selalu berubah.

Masalahnya sekarang bukan apakah kita pernah berjaya di masa lalu. Masalah sesungguhnya adalah: apakah kita masih memiliki keberanian intelektual untuk kembali bekerja keras?

Karena ilmu tidak datang kepada bangsa yang hanya pandai berpidato tentang kejayaan sejarah. Ilmu lahir dari laboratorium yang menyala sampai malam, perpustakaan yang dipenuhi rasa ingin tahu, budaya membaca yang hidup, dan generasi muda yang tidak malu berkata, “Saya belum tahu, tolong ajari saya.”

Dan mungkin di sinilah salah satu krisis terbesar dunia modern Muslim: kita ingin dihormati tanpa proses panjang untuk layak dihormati. Kita ingin hasil tanpa disiplin. Ingin maju tanpa budaya riset. Ingin kuat tanpa kesabaran belajar.

Padahal semua peradaban besar dibangun oleh manusia-manusia yang rendah hati di hadapan ilmu.

Mereka tidak malu duduk sebagai murid.

Mereka tidak gengsi bertanya.

Mereka tidak merasa harga dirinya runtuh hanya karena harus belajar dari orang lain.

Sebab mereka tahu, kebodohan yang dipertahankan atas nama ego jauh lebih berbahaya daripada ketertinggalan itu sendiri.

Dan mungkin, di tengah dunia yang bergerak begitu cepat hari ini, keberanian paling penting bukanlah keberanian untuk berbicara paling keras, melainkan keberanian untuk terus belajar sebelum semuanya terlambat.

Bagikan:
Terkait
Komentar