KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan manusia modern kepada dirinya sendiri: kalau Nabi saw saja setiap hari memohon perlindungan kepada Tuhan, lalu sebenarnya apa yang begitu beliau takutkan?
Kita hidup di zaman yang sibuk membangun citra diri. Orang takut miskin, takut gagal, takut kehilangan popularitas, takut tertinggal dari tren. Tetapi sedikit sekali yang takut kehilangan kejernihan hati. Padahal dalam banyak ajaran spiritual, kerusakan terbesar manusia justru sering dimulai dari dalam dirinya sendiri, dari penyakit batin yang perlahan dianggap biasa.
Sebuah hadis dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s menggambarkan kebiasaan Rasulullah yang menarik sekaligus mengguncang. Beliau berkata:
کانَ رَسولُ اللهِ (صَلَّی اللهُ عَلَیهِ وَ آلِهِ) یَتَعَوَّذُ فی کُلِّ یَومٍ مِن سِتِّ خِصالٍ
“Rasulullah setiap hari memohon perlindungan kepada Allah dari enam perkara.”
Enam perkara itu adalah:
مِنَ الشَّکك وَ الشِّرْك وَ الحَمِیَّةِ وَ الغَضَبِ وَ البَغْي وَ الحَسَدِ
“Dari keraguan, syirik, fanatisme buta, kemarahan, permusuhan zalim, dan hasad.”
Hadis ini terasa sangat cocok untuk zaman sekarang karena yang ditakuti Nabi saw bukan hanya dosa-dosa besar yang tampak jelas, tetapi penyakit psikologis dan moral yang diam-diam tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Dan menariknya, inti ketakwaan sebenarnya adalah muraqabah “kesadaran untuk terus mengawasi diri sendiri”. Seolah manusia setiap hari harus memeriksa jalan hidupnya: lubang mana yang bisa menjatuhkannya, jebakan mana yang sedang menunggu jiwanya.
Yang pertama adalah syakk “keraguan”
Sekilas keraguan terdengar seperti masalah intelektual. Banyak orang mengira seseorang ragu karena kurang pengetahuan. Tetapi tidak semua keraguan lahir dari kebodohan. Kadang seseorang sudah tahu mana yang benar, tetapi hatinya tetap goyah.
Mengapa?
Karena jiwa manusia tidak hanya dipengaruhi logika, tetapi juga bisikan batin, kecemasan, hawa nafsu, dan tekanan dunia. Di era banjir informasi seperti hari ini, manusia semakin mudah kehilangan kepastian. Setiap hari kita dibombardir opini, propaganda, teori konspirasi, dan pertengkaran tanpa ujung. Akibatnya banyak orang hidup dalam kebingungan permanen.
Mungkin karena itulah Nabi saw memohon perlindungan dari keraguan: sebab hati yang terus ragu perlahan kehilangan arah.
Yang kedua adalah syirik. Namun yang dimaksud di sini bukan sekadar menyembah berhala secara terang-terangan. Syirik yang paling berbahaya justru sering tersembunyi.
Syirik halus.
Ketika manusia melakukan sesuatu bukan lagi demi kebenaran atau Tuhan, tetapi demi pujian, citra, kelompok, atau kepentingan pribadi. Ketika ibadah berubah menjadi pertunjukan. Ketika kebaikan dilakukan agar dilihat orang.
Dan bukankah media sosial hari ini membuat manusia makin sulit membedakan mana ketulusan dan mana pencitraan?
Kita hidup dalam budaya yang membuat segala sesuatu ingin dipamerkan. Bahkan amal baik kadang lebih sibuk didokumentasikan daripada dirasakan.
Karena itu syirik halus sering masuk tanpa disadari. Ia masuk dari arah yang tidak disadari manusia.
Lalu Nabi saw juga memohon perlindungan dari hamiyyah fanatisme buta.
Istilah ini dijelaskan sebagai keberpihakan tanpa logika. Membela seseorang bukan karena benar, tetapi karena “dia bagian dari kelompok kita”. Membela teman meski salah. Membela tokoh meski jelas keliru.
Al-Qur’an menggambarkan penyakit ini melalui ayat:
إِذ جَعَلَ الَّذينَ كَفَروا في قُلوبِهِمُ الحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الجاهِلِيَّةِ
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka fanatisme jahiliyah” (QS. Al-Fath: 26)
Fanatisme jahiliyah itu ternyata tidak pernah benar-benar mati. Hari ini ia hanya berganti bentuk.
Kadang ia muncul dalam politik. Kadang dalam organisasi. Kadang dalam komunitas agama. Kadang bahkan dalam dunia digital. Orang rela memutarbalikkan fakta demi membela “kubu sendiri”. Kebenaran menjadi nomor dua. Yang penting kelompoknya menang.
Padahal keberanian moral justru diuji saat orang mampu berkata: “Yang salah tetap salah, meski dilakukan orang yang saya sukai.”
Kemudian ada ghadhab amarah.
Kemarahan adalah sesuatu yang bisa menutup akal sehat manusia. Orang yang marah sering seperti orang mabuk: tidak sadar penuh terhadap apa yang ia lakukan.
Bukankah banyak kehancuran hidup dimulai dari satu ledakan emosi beberapa menit?
Satu pesan yang dikirim saat marah. Satu ucapan kasar. Satu keputusan emosional. Dan semuanya sulit ditarik kembali.
Di zaman serba cepat ini, manusia makin mudah tersulut. Media sosial membuat kemarahan menjadi tontonan harian. Orang marah sebelum memahami. Menghakimi sebelum mendengar. Membenci sebelum berpikir.
Karena itu Nabi tidak menganggap marah sebagai hal remeh. Ia sesuatu yang perlu dimintakan perlindungan setiap hari.
Lalu ada baghy permusuhan dan kezaliman tanpa alasan yang benar.
Kadang manusia membenci bukan karena prinsip, tetapi karena iri, ego, atau persaingan pribadi. Ada orang yang tidak tahan melihat orang lain bahagia. Tidak nyaman melihat orang lain berhasil. Akhirnya ia mencari-cari alasan untuk memusuhi.
Dan dari sinilah hadis itu masuk pada penyakit terakhir: hasad.
Hasad bukan sekadar ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain. Hasad adalah rasa sakit ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat.
Sebuah ungkapan indah dari Sa’di:
“Apa yang bisa kulakukan terhadap pendengki, sementara ia sendiri sudah tersiksa oleh dirinya?”
Kalimat itu terasa sangat manusiawi. Orang yang hasad sebenarnya sedang membakar dirinya sendiri. Ia gelisah melihat kebahagiaan orang lain. Ia marah terhadap keberhasilan yang bahkan tidak merugikannya.
Ironisnya, budaya modern justru memperbesar ruang tumbuhnya hasad. Media sosial membuat manusia terus membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Sedikit demi sedikit lahirlah rasa iri, rendah diri, dan kebencian diam-diam.
Mungkin karena itulah Nabi setiap hari memohon perlindungan dari semua penyakit ini. Sebab ancaman terbesar manusia ternyata bukan selalu musuh di luar dirinya, tetapi sesuatu yang tumbuh perlahan di dalam hatinya sendiri.
Pada akhirnya, hadis ini bukan hanya daftar dosa batin. Ia seperti cermin untuk membaca keadaan manusia modern. Bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih dewasa secara spiritual. Bahwa hati tetap membutuhkan penjagaan.
Dan mungkin ketakwaan bukan berarti merasa diri paling suci, melainkan kesediaan untuk terus curiga pada kelemahan diri sendiri, sebagaimana Rasulullah saw pun setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari gelapnya hati manusia.







