KHAMENEI.ID– Dalam sejarah manusia modern ada satu fenomena mencengangkan : semakin tinggi sebuah peradaban menjulang, semakin besar pula kemungkinan ia runtuh oleh sesuatu yang tak kasatmata. Bukan karena kekurangan teknologi. Bukan karena miskin sumber daya. Tetapi karena kehilangan makna hidup itu sendiri.
Hari ini dunia Barat tampak seperti puncak keberhasilan manusia. Kota-kotanya bercahaya tanpa tidur. Teknologinya menembus langit dan dasar samudra. Ilmu pengetahuannya mengubah dunia dengan kecepatan yang dulu hanya ada dalam khayalan. Namun di balik seluruh kemegahan itu, ada kegelisahan yang makin sulit disembunyikan: manusia modern mulai kehilangan ketenangan batin.
Dan ada sesuatu yang sering diabaikan dalam percakapan modern: kehancuran sebuah peradaban tidak selalu dimulai dari keruntuhan ekonomi atau kekalahan perang. Kadang ia dimulai dari kehampaan spiritual yang perlahan menggerogoti jiwa manusia.
Suatu hari nanti generasi muda akan menyaksikan sendiri bagaimana peradaban Barat yang hari ini begitu kuat mengalami kemerosotan akibat kehilangan spiritualitas. Bukan karena mereka gagal dalam ilmu pengetahuan. Justru sebaliknya, mereka terlalu berhasil dalam sains tetapi gagal menjaga arah kemanusiaannya.
Hal ini menarik karena tidak lahir dari kebencian terhadap ilmu. Bahkan hal itu terjadi setelah Barat mencapai kemajuan luar biasa. Mereka menguasai teknologi, menemukan kekayaan dari perut bumi, menjelajah angkasa, memahami struktur materi, dan membangun kekuatan ekonomi serta politik yang nyaris tak tertandingi.
Masalahnya bukan pada ilmu itu sendiri. Masalahnya muncul ketika ilmu dipisahkan dari nilai moral dan spiritual.
Dalam narasi modern, sains sering diperlakukan seolah mampu menjawab seluruh persoalan manusia. Padahal ilmu hanya memberi kemampuan, bukan arah. Teknologi bisa membuat manusia mampu terbang ke luar angkasa, tetapi tidak otomatis membuat manusia tahu untuk apa ia hidup. Kecerdasan dapat mempercepat produksi, tetapi tidak selalu memperhalus hati.
Kita hidup di era ketika manusia memiliki akses informasi terbesar dalam sejarah, tetapi juga mengalami krisis kesehatan mental yang masif. Negara-negara maju memiliki fasilitas hidup paling nyaman, tetapi angka depresi, kesepian, bunuh diri, dan kecanduan terus meningkat. Dunia tampak semakin terhubung, tetapi manusia justru makin merasa asing satu sama lain.
Barangkali inilah yang dimaksud ketika ilmu berkembang tanpa “hidayah”, tanpa tuntunan nilai, tanpa kebajikan dan spiritualitas.
Dalam sisi gelap modernitas yang sering disembunyikan oleh gemerlap kemajuan. Dengan ilmu yang sama, manusia bukan hanya membangun rumah sakit dan universitas, tetapi juga kolonialisme, perang dunia, dan pembantaian massal. Abad modern yang dibanggakan sebagai era rasional ternyata juga menjadi salah satu abad paling berdarah dalam sejarah manusia.
Teknologi membuat pembunuhan menjadi lebih efisien. Sains memperbesar kekuatan negara. Tetapi tanpa moralitas, kekuatan itu berubah menjadi alat dominasi.
Karena itu, kritik utama sesungguhnya bukan anti-Barat dan bukan anti-sains. Kritiknya jauh lebih mendasar: ilmu yang hanya berorientasi pada dunia materi akan melahirkan peradaban yang kehilangan keseimbangan.
Ada sebuah ungkapan klasik yang dikutip dalam teks tersebut:
للحقّ دولة، وللباطل جولة
“Kebenaran memiliki masa kejayaan, sedangkan kebatilan hanya memiliki giliran kemenangan sementara.”
Kalimat pendek itu terasa seperti ringkasan sejarah manusia. Kebatilan memang sering tampak menang di permukaan. Ia memukau, cepat, gemerlap, dan penuh daya tarik. Dalam teks itu bahkan disebut: “lil-bāthil jaulah” kebatilan punya masa berputar, masa ketika ia terlihat dominan.
Dan memang begitulah modernitas bekerja hari ini. Dunia sering mengukur keberhasilan hanya dari angka pertumbuhan ekonomi, kekuatan militer, atau kecanggihan teknologi. Manusia dipuji karena produktivitasnya, bukan karena kedalaman jiwanya. Kehidupan menjadi cepat, tetapi kehilangan arah.
Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa peradaban yang hanya dibangun di atas materi akhirnya rapuh dari dalam. Kekaisaran besar runtuh bukan semata karena musuh eksternal, tetapi karena kehancuran moral yang pelan-pelan mengosongkan makna hidup masyarakatnya.
Perlu diketahui bahwa penyakit kehilangan spiritualitas tidak hanya mengancam Eropa atau Amerika. Dunia Muslim pun bisa terjebak dalam krisis yang sama ketika terlalu sibuk mengejar simbol kemajuan tetapi melupakan fondasi ruhani.
Hari ini banyak masyarakat ingin tampak modern, tetapi modernitas sering dipahami hanya sebagai gaya hidup konsumtif. Kita membangun kota-kota besar, tetapi lupa membangun manusia. Kita mengejar kecerdasan, tetapi kurang memberi ruang bagi kebijaksanaan. Kita ingin sukses cepat, tetapi kehilangan kemampuan menikmati hidup dengan tenang.
Padahal manusia bukan mesin produksi.
Ada kebutuhan batin yang tidak bisa dipenuhi oleh uang, hiburan, atau teknologi. Karena itu, di tengah dunia yang semakin bising, banyak orang mulai mencari kembali makna spiritual: meditasi, agama, refleksi diri, dan hubungan yang lebih manusiawi. Bahkan di Barat sendiri, banyak pemikir modern mulai mengkritik peradaban yang terlalu materialistis. Mereka melihat adanya kekosongan eksistensial yang tidak mampu diisi oleh kemewahan hidup.
Mungkin inilah yang dimaksud bahwa tanda-tanda keruntuhan itu justru sudah diperingatkan oleh para pemikir Barat sendiri. Krisis itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, diam-diam, di balik gedung pencakar langit dan layar-layar digital.
Dan ketika sebuah masyarakat kehilangan jiwa, keruntuhan tinggal menunggu waktu.
Namun ini bukanlah ramalan kiamat peradaban. Ia lebih dekat kepada peringatan moral. Bahwa manusia membutuhkan keseimbangan antara ilmu dan nilai, antara kemajuan dan makna, antara kekuatan dan kebijaksanaan.
Sebab peradaban yang besar bukan hanya yang mampu membangun teknologi tercanggih, melainkan yang berhasil menjaga manusia tetap menjadi manusia.
Pada akhirnya, sejarah mungkin tidak akan mengingat siapa yang paling cepat membangun mesin, tetapi siapa yang berhasil menjaga hati manusia agar tidak ikut hancur bersama kemajuan itu sendiri.







