KHAMENEI.ID – Haji sering kali dipahami sebatas perjalanan spiritual menuju Makkah. Jutaan manusia datang dari berbagai penjuru dunia, mengenakan pakaian ihram, mengelilingi Ka’bah, berdiam di Arafah, bermalam di Muzdalifah, lalu melempar jumrah di Mina. Namun, jika haji hanya dipahami sebagai rangkaian ritual, ada bagian besar dari pesan Al-Qur’an yang terlewat.
Imam Ali Khamenei qs mengajak umat Islam melihat haji melalui satu frasa pendek dalam Al-Qur’an yang, menurutnya, mengandung hampir seluruh hikmah ibadah tersebut: “qiyāman linnās”—sebagai penopang kehidupan manusia.
Allah swt berfirman:
جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ
“Allah telah menjadikan Ka’bah, Baitullah yang suci, sebagai penegak kehidupan bagi manusia.”
(QS. Al-Ma’idah: 97)
Bagi Imam Khamenei, ayat ini tidak hanya berbicara tentang bangunan Ka’bah secara fisik. Ketika ayat tersebut menyebut bulan-bulan haram, hewan kurban, dan berbagai simbol yang berkaitan dengan haji, yang dimaksud adalah keseluruhan sistem dan rangkaian ibadah haji.
Lalu apa arti qiyāman linnās?
Haji sebagai Tiang Kehidupan
Imam Khamenei menjelaskan bahwa kata qiyām dalam ayat tersebut tidak sekadar berarti “berdiri”. Para ahli bahasa dan tafsir menjelaskannya sebagai sesuatu yang menjadi penopang bagi tegaknya sesuatu yang lain—seperti tiang yang menopang sebuah bangunan.
Dengan demikian, ketika Allah swt menyebut Ka’bah dan haji sebagai qiyāman linnās, terdapat pesan yang sangat dalam: haji adalah salah satu tiang yang menopang kehidupan manusia.
Ini bukan sekadar ritual untuk sekelompok orang. Al-Qur’an menggunakan ungkapan linnās, “bagi manusia”. Bukan hanya untuk orang Arab. Bukan hanya untuk umat Islam dari generasi tertentu. Bukan pula hanya untuk mereka yang kebetulan memiliki kesempatan menunaikan haji.
Haji memiliki pesan universal.
Ia berbicara tentang manusia.
Di sinilah Imam Khamenei melihat dimensi penting dari haji. Ibadah ini bukan aktivitas spiritual yang terpisah dari kehidupan sosial. Haji memiliki fungsi membentuk manusia dan masyarakat. Ia membawa manusia kembali kepada fondasi yang membuat kehidupan dapat berdiri secara sehat.
Menariknya, Al-Qur’an menggunakan istilah qiyām dalam dua konteks yang berbeda. Salah satunya berkaitan dengan harta,
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا
Harta disebut sebagai sesuatu yang menjadi penopang kehidupan manusia. Masyarakat tidak mungkin bergerak tanpa sumber daya ekonomi. Manusia membutuhkan kekayaan untuk memenuhi kebutuhan materialnya.
Namun, ketika Al-Qur’an menyebut Ka’bah sebagai qiyāman linnās, cakupannya jauh lebih luas.
Jika harta menopang kehidupan manusia dari sisi material, maka haji menopang kehidupan dari dimensi yang lebih menyeluruh: spiritual, moral, sosial, bahkan perilaku manusia.
Haji bukan hanya tentang bagaimana manusia memenuhi kebutuhan tubuhnya. Haji mengajarkan bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya.
Dari Ritual Menuju Cara Hidup
Al-Qur’an juga menyebut bahwa dalam haji terdapat berbagai manfaat bagi manusia:
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.”
Manfaat tersebut tentu mencakup aspek material. Haji sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan manusia dari berbagai wilayah, tempat pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan aktivitas ekonomi.
Namun, menurut Imam Khamenei, manfaat haji tidak berhenti pada urusan material.
Ada manfaat spiritual.
Ada manfaat moral.
Ada manfaat sosial.
Bahkan ada pelajaran tentang cara menjalani kehidupan.
Inilah yang membuat haji begitu penting. Rangkaian ritualnya seolah-olah menjadi sebuah sekolah kehidupan yang dirancang untuk mengajarkan manusia bagaimana menata dirinya.
Dalam haji, manusia belajar bergerak. Tetapi pada saat yang lain, ia juga belajar berhenti.
Ada waktu untuk berjalan dan berpindah. Ada waktu untuk menetap dan berdiam.
Ada saat ketika manusia diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Ada pula saat ketika ia harus menahan diri dan menjauhi sesuatu.
Dengan kata lain, haji mengajarkan manusia tentang kedisiplinan hidup: kapan harus bergerak, kapan harus berhenti, kapan harus mengambil langkah, dan kapan harus menahan diri.
Haji Mengajarkan Seni Hidup Bersama
Namun, ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: hidup bersama.
Haji mempertemukan manusia dari berbagai bangsa, warna kulit, bahasa, kebudayaan, dan latar belakang sosial. Mereka datang dengan identitas yang berbeda, tetapi berdiri dalam satu ruang spiritual yang sama.
Di hadapan Ka’bah, manusia belajar bahwa kehidupan tidak dibangun dengan ego individual semata. Ada kebutuhan untuk hidup berdampingan, memahami orang lain, menghormati aturan bersama, dan menempatkan kepentingan kolektif di atas keinginan pribadi.
Karena itu, haji bukan hanya perjalanan menuju sebuah tempat. Ia adalah perjalanan untuk membentuk manusia.
Manusia yang belajar bergerak tanpa kehilangan arah.
Manusia yang belajar berhenti tanpa kehilangan tujuan.
Manusia yang belajar menahan diri ketika diperlukan.
Dan manusia yang belajar hidup bersama orang lain.
Haji dan Krisis Kehidupan Modern
Di tengah dunia yang semakin individualistis, pesan ini menjadi semakin relevan.
Manusia modern memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi sering kali kehilangan kemampuan untuk hidup bersama. Komunikasi semakin mudah, tetapi kesepian semakin meluas. Informasi semakin banyak, tetapi kebijaksanaan tidak selalu bertambah.
Dalam konteks seperti ini, haji menghadirkan sebuah pelajaran yang sederhana tetapi mendasar: kehidupan manusia membutuhkan tiang penyangga.
Ia membutuhkan nilai.
Ia membutuhkan disiplin.
Ia membutuhkan moralitas.
Ia membutuhkan spiritualitas.
Dan ia membutuhkan kemampuan untuk hidup bersama.
Inilah makna penting dari qiyāman linnās yang ditekankan Imam Khamenei. Haji tidak boleh dipersempit menjadi perjalanan individual untuk memperoleh ketenangan spiritual. Ia adalah sebuah sistem pendidikan yang, jika dipahami dengan benar, dapat membentuk manusia dan masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, haji bukan hanya tentang bagaimana seseorang kembali dari Makkah dengan predikat haji. Pertanyaan yang lebih penting adalah: manusia seperti apa yang lahir setelah ia menjalani haji?
Jika seluruh ritual haji benar-benar dipahami sebagai pendidikan kehidupan, maka seseorang seharusnya pulang dengan kemampuan baru untuk bergerak ketika harus bergerak, berhenti ketika harus berhenti, menahan diri ketika harus menahan diri, dan hidup bersama orang lain dengan penuh tanggung jawab.
Di situlah haji menemukan maknanya yang paling dalam.
Ia bukan sekadar perjalanan menuju Ka’bah.
Ia adalah upaya menegakkan kembali manusia.
Dan ketika manusia tegak dengan iman, akhlak, kesadaran, dan tanggung jawab sosialnya, di situlah sebuah masyarakat memiliki tiang untuk berdiri.







