“Banyak rumah tangga hancur karena salah memahami peran suami dan istri. Ternyata, laki-laki bukan ‘raja’ yang bisa memaksa, dan perempuan bukan ‘pembantu’ yang harus melayani. Simak bimbingan akhlak berikut ini!”
Masih dalam rangkaian nasihat Pemimpin Besar Revolusi, Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei, dari buku “Bersama, Menuju Surga”, kita akan mengupas lebih dalam tentang keseimbangan peran, kerja sama sejati, dan pendidikan anak dalam keluarga. Keluarga yang sehat bukanlah tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan tentang bagaimana masing-masing pihak menjalankan amanah fitrahnya untuk saling menyelamatkan menuju surga.
- Islam Tidak Setuju dengan Pengangguran Perempuan
Perlu diluruskan: Islam tidak setuju jika perempuan menganggur. Perempuan pada dasarnya harus bekerja. Ada dua jenis pekerjaan: pekerjaan di dalam rumah dan pekerjaan di luar rumah. Keduanya adalah pekerjaan. Jika seseorang memiliki bakat untuk pekerjaan di luar rumah, ia boleh melakukannya, dan itu sangat baik. Hanya saja ada satu syarat mutlak: pekerjaan tersebut—baik di dalam maupun di luar rumah—jangan sampai merusak ikatan suami istri. Ada sebagian perempuan yang bekerja dari pagi hingga malam, lalu ketika suami pulang, ia sudah tidak punya selera untuk tersenyum. Ini buruk. Pekerjaan rumah harus dilakukan, tetapi jangan sampai berujung pada kehancuran keluarga (Disampaikan pada Februari 1994).
Namun, jika perempuan ingin bekerja di luar rumah, itu tidak masalah dan Islam tidak menghalanginya. Tetapi perlu diingat bahwa itu bukanlah kewajiban. Yang wajib baginya adalah menjaga ruang vital bagi keseluruhan keluarga ini (Disampaikan pada 28 Mei 2002).
- Seni Luhur Mengasuh Anak
Beberapa pekerjaan rumah tangga sangat sulit, dan mengasuh anak adalah salah satu yang tersulit. Apa pun pekerjaan yang Anda anggap sangat berat, jika dibandingkan dengan mengasuh anak, maka pekerjaan itu menjadi terasa mudah. Mengasuh anak adalah seni yang sangat berat. Laki-laki tidak akan sanggup melakukannya meskipun hanya satu hari. Perempuan, dengan ketelitian, kesabaran, dan kelembutannya, mampu melakukan pekerjaan besar ini. Allah telah menempatkan kemampuan ini dalam naluri mereka. Namun demikian, mengasuh anak tetaplah pekerjaan sulit yang melelahkan dan benar-benar menguras energi (Disampaikan pada November 1995).
- Jangan Putus Hubungan dengan Keluarga di Siang Hari
Kepada para laki-laki yang bekerja, beliau selalu menasihati: jangan memutus hubungan dengan rumah dan keluarga. Jangan pergi pagi-pagi sekali lalu pulang jam 10 malam. Jika memungkinkan, usahakan untuk singgah ke tengah keluarga di siang hari. Makan bersama istri dan anak, bersama selama satu jam, kemudian kembali melanjutkan pekerjaan. Lalu di awal malam, temui anak-anak lagi. Lakukan pertemuan keluarga yang sesungguhnya. Inilah resep agar kehangatan tetap terjaga. (Disampaikan pada September 1997).
- Sederhana, tapi Jangan Berpikiran Sempit
Mulailah hidup dengan sederhana, dan usahakan semampu mungkin ke arah itu. Namun perlu digarisbawahi: kesederhanaan bukan berarti melakukan ketegangan atau berpikiran sempit terhadap istri dan kerabat. Bukan begitu maksudnya. Yang dimaksud adalah semua orang, dengan keyakinan, iman, cinta, dan hati mereka sendiri, hendaknya merasa cukup pada batas tertentu. Tidak boros berlebih-lebihan, tapi juga tidak kikir secara berlebihan (Disampaikan pada Desember 1998).
- Sebuah Hal yang Hanya Diketahui Perempuan
Bagi seorang laki-laki dewasa, seorang istri melakukan sesuatu yang serupa dengan yang dilakukan seorang ibu kepada anak kecilnya. Perempuan-perempuan yang teliti dan lembut tentu akrab dengan hal ini. Jika perasaan dan emosi ini tidak membutuhkan adanya poros utama di rumah—yaitu perempuan dan pengurus rumah tangga—maka keluarga akan menjadi bentuk tanpa makna. Ini menunjukkan betapa sentralnya peran istri dalam menciptakan kehangatan (Disammpaikan pada Desember 1991).
- Prioritas Belanja: Buku Lebih Utama dari Perabot Mewah
Membeli buku harus menjadi salah satu pengeluaran utama keluarga. Masyarakat harus lebih mementingkan buku daripada membeli peralatan dekorasi mewah seperti lampu hias, berbagai meja, sofa, tirai, dan sebagainya. Dahulukan buku seperti halnya roti, makanan, dan perlengkapan kebutuhan pokok. Setelah semua kebutuhan primer itu terpenuhi, baru urus barang-barang tambahan (Disampaikan pada Juli 1995).
- Tidak Ada Hak untuk Memaksa
Dalam Islam, laki-laki tidak diizinkan untuk memaksa perempuan dan memaksakan suatu urusan padanya. Untuk laki-laki dalam keluarga, telah ditetapkan hak-hak yang terbatas, yang semuanya didasarkan pada kemaslahatan dan hikmah yang sempurna. Hak-hak ini, jika dijelaskan dengan baik, pasti akan dibenarkan oleh siapa pun. Demikian pula untuk perempuan, ada hak-hak yang juga didasarkan pada kemaslahatan. Tidak ada ruang bagi kesewenang-wenangan (Disampaikan pada September 1996).
- Jangan Berlebihan Dalam Perilaku dan Naluri
Laki-laki dan perempuan masing-masing memiliki fitrah, akhlak, jiwa, dan naluri yang khas. Jika mereka menggunakan perangai khas tersebut dengan benar, mereka akan membentuk pasangan yang utuh, harmonis, dan kondusif dalam keluarga. Namun, jika laki-laki berlebihan dalam perangainya, keseimbangan akan terganggu, demikian juga jika perempuan berlebihan. Keseimbangan adalah kunci.
- Tidak Ada Kewajiban Seperti Pelayan
Beberapa laki-laki membayangkan bahwa perempuan berkewajiban melakukan semua pekerjaan yang berhubungan dengan mereka. Benar bahwa dalam lingkungan keluarga, suami istri yang saling mencintai akan dengan penuh kerelaan dan semangat melakukan pekerjaan serta pelayanan satu sama lain. Tetapi perlu dibedakan: melakukan karena kerelaan berbeda dengan bertindak seolah-olah kewajiban perempuan adalah seperti seorang pembantu yang harus melayani laki-laki dengan cara demikian. Hal seperti itu tidak ada dalam ajaran Islam, ini penting dipahami (Disampaikan pada Maret 1997).
- Tempat Terbaik Mendidik Anak: Pangkuan Ibu
Mereka yang meninggalkan anak, pengasuhan, menyusui, dan pembesaran anak dalam pangkuan kasih sayang, hanya demi pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu bergantung pada keberadaan mereka, telah melakukan kesalahan. Metode terbaik mendidik anak manusia adalah agar ia tumbuh dalam pangkuan ibu dan memanfaatkan kasih sayangnya. Perempuan yang menghalangi anak mereka dari karunia ilahi yang begitu besar telah merugikan anaknya, merugikan dirinya sendiri, dan merugikan masyarakat. Islam tidak mengizinkan hal ini (Disampaikan pada Maret 1997).
- Jangan Lalai terhadap Penampilan
Dalam kitab-kitab fiqih bab pernikahan, dibahas bahwa laki-laki dan perempuan harus memperhatikan diri mereka sendiri. Ini menunjukkan bahwa penampilan rapi, pakaian bagus, dan kecenderungan pada keindahan adalah hal yang diinginkan dalam syariat Islam. Hanya saja yang buruk dan berbahaya adalah jika hal tersebut menjadi sarana fitnah, kerusakan, dan tabarruj (berhias secara berlebihan). Bahaya dari sikap berlebihan ini bisa sampai ke keluarga dan generasi berikutnya (Disampaikan pada April 1998).
- Api yang Bahan Bakarnya Adalah Manusia
Terkadang ada sebagian pejabat atau kepala keluarga yang begitu tenggelam dalam pekerjaan sehingga mereka lupa akan keberadaan istri dan anak-anaknya. Ini menimbulkan kerusakan-kerusakan. Ini bukan sekadar basa-basi. Ini adalah kewajiban: seseorang harus melindungi istri, anak, dan keluarganya. Allah berfirman, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahlikum naaro wa quuduhaan naasu wal hijaaratu” (Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu). Ini adalah seruan untuk memelihara diri dan keluarga dari api neraka (Disampaikan pada September 2009).
- Bersama, Menuju Surga
Allah berfirman, “Quu anfusakum wa ahlikum naaro“—peliharalah dirimu sendiri dan keluargamu. Seruan ini ditujukan kepada laki-laki dan perempuan, keduanya. Keluarga setiap manusia adalah istri, anak, dan kerabat dekatnya. “Istrimu adalah keluargamu, wahai para laki-laki, dan suamimu adalah keluargamu, wahai para perempuan.” Peliharalah dirimu dari terjerumus ke dalam api, dan peliharalah keluargamu. Selain itu, memelihara elemen-elemen utama di lingkungan keluarga juga membantu memelihara diri manusia itu sendiri. Para pasangan; para perempuan dapat menyelamatkan para laki-laki, dan para laki-laki dapat menyelamatkan para perempuan, dari tepi jurang neraka dan menggiring mereka menuju surga. Inilah tujuan akhir dari semua bimbingan akhlak dalam keluarga: bersama-sama, menuju surga (Disampaikan pada Agustus 2004).







