KHAMENEI.ID – Di banyak kampus hari ini, mahasiswa sibuk bergerak dari satu tugas ke tugas lain. Sebagian mengejar nilai, sebagian mengejar sertifikat, sebagian lagi tenggelam dalam hiruk-pikuk media sosial. Kampus perlahan berubah menjadi ruang administratif: penuh jadwal, penuh target, tetapi miskin percakapan yang sungguh-sungguh. Padahal sejarah bangsa-bangsa besar hampir selalu lahir dari satu hal sederhana: anak-anak muda yang berani berpikir keras dan berbicara terbuka.
Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs menyinggung soal pentingnya peran generasi muda dalam menentukan arah gerak masyarakat. Menurutnya, mahasiswa bukan sekadar penonton perubahan sosial. Mereka adalah poros yang bisa menggerakkan kesadaran publik. Tetapi untuk sampai ke sana, ada syarat yang sering diabaikan: ruang berpikir yang hidup.
Karena itu ia berkali-kali menekankan pentingnya “کرسیهای آزاداندیشی” — forum atau mimbar kebebasan berpikir di kampus. Sebuah ruang tempat ide diperdebatkan, gagasan diuji, dan keberanian intelektual dibentuk. Bukan ruang gaduh tanpa aturan, melainkan diskusi yang disiplin, terukur, dan berbasis argumentasi.
“Jika menunggu rektor atau birokrasi kampus yang memulainya, itu tidak akan banyak menghasilkan,” ujar Imam Khamenei. “Mahasiswa sendiri yang harus membangunnya.”
Kalimat itu terasa relevan di zaman sekarang. Sebab problem utama generasi muda modern bukan lagi kekurangan informasi, melainkan banjir informasi tanpa kedalaman. Anak muda bisa menghabiskan berjam-jam memperdebatkan isu di media sosial, tetapi jarang duduk bersama dalam diskusi serius yang menuntut pembacaan, argumentasi, dan tanggung jawab intelektual.
Di sinilah kampus kehilangan salah satu fungsi terpentingnya: melahirkan manusia yang berpikir.
Padahal tradisi Islam sejak awal justru dibangun di atas dialog dan pencarian ilmu. Al-Qur’an berkali-kali memanggil manusia untuk berpikir:
“اَفَلَا تَعقِلُونَ”
“Maka tidakkah kamu berpikir?”
Atau dalam ayat lain:
“قُل هاتوا بُرهانَكُم”
“Katakanlah: Tunjukkan bukti kebenaranmu.”
Nada Al-Qur’an bukan nada ketakutan terhadap pertanyaan. Ia justru memancing manusia untuk menggunakan akal.
Karena itu, ketika forum-forum intelektual mati, yang lahir biasanya bukan ketenangan, melainkan kemandekan. Mahasiswa menjadi pasif, kehilangan kepekaan sosial, atau sibuk pada hal-hal yang tidak berkaitan dengan kemajuan masyarakat. Imam Ali Khamenei mengingatkan bahwa mahasiswa yang kehilangan komitmen sosial nyaris tidak memberi dampak positif bagi kemajuan negeri—bahkan kadang justru terseret arus yang merusak.
Kampus akhirnya hanya menghasilkan tenaga kerja, bukan pemikir.
Yang menarik, dalam pandangan Imam Khamenei, kebebasan berpikir tidak identik dengan kekacauan. Ia justru menekankan disiplin intelektual. Diskusi harus dipersiapkan dengan baik, dipimpin oleh orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir aktif dan kemampuan berbicara yang jelas. Artinya, kebebasan bukan berarti bebas berteriak tanpa dasar. Kebebasan adalah keberanian menyampaikan gagasan disertai tanggung jawab ilmiah.
Di era digital, pesan ini terasa semakin penting. Hari ini opini lebih cepat viral dibandingkan pengetahuan. Orang bisa terkenal karena kemarahan, bukan karena kedalaman berpikir. Algoritma media sosial lebih menyukai sensasi ketimbang argumentasi. Akibatnya, ruang publik dipenuhi reaksi spontan, sementara tradisi berpikir perlahan memudar.
Di tengah situasi itu, forum diskusi kampus sebenarnya bisa menjadi benteng terakhir rasionalitas.
Imam Khamenei juga menyinggung isu yang sering diperdebatkan: kebebasan dan independensi. Ia menegaskan bahwa kebebasan adalah salah satu slogan utama revolusi. Menurutnya, di negaranya terdapat kebebasan berpikir, kebebasan berbicara, dan kebebasan memilih. Ia bahkan mengkritik kelompok yang, menurutnya, menggunakan ruang kebebasan itu sendiri untuk mengatakan bahwa kebebasan tidak ada.
Terlepas dari perdebatan politik yang mungkin muncul, ada satu poin penting dari pernyataan itu: kebebasan berpikir harus dirawat, bukan hanya dijadikan slogan. Sebab masyarakat yang takut berdiskusi perlahan akan kehilangan kemampuan memperbaiki dirinya sendiri.
Dalam sejarah Islam, peradaban besar lahir bukan hanya dari masjid, tetapi juga dari majelis ilmu. Baghdad, Kairo, Cordoba, dan Isfahan pernah menjadi pusat dunia bukan karena gedung-gedung megah semata, melainkan karena hidupnya perdebatan ilmiah. Para ulama, filosof, astronom, dan ahli matematika tumbuh dalam tradisi berpikir terbuka. Mereka berbeda pendapat, tetapi tidak mematikan akal.
Itulah sebabnya Imam Ali Khamenei memandang generasi muda sebagai aset strategis. Anak muda memiliki energi, keberanian, dan idealisme. Tetapi energi tanpa arah bisa berubah menjadi kerusakan. Karena itu, kampus harus menjadi tempat pembentukan kesadaran, bukan sekadar pabrik ijazah.
Pertanyaannya kini sederhana: masihkah universitas menjadi tempat lahirnya gagasan besar? Atau ia hanya berubah menjadi lorong panjang menuju pasar kerja?
Barangkali jawaban itu bisa dilihat dari satu hal kecil: apakah mahasiswa masih mau duduk bersama untuk berpikir, membaca, dan berdebat secara serius?
Karena sesungguhnya bangsa tidak runtuh hanya karena kekurangan sumber daya. Banyak bangsa runtuh karena kehilangan tradisi berpikir. Dan ketika ruang diskusi mati, masyarakat perlahan menjadi mudah diarahkan, mudah diprovokasi, dan mudah dipisahkan dari masa depannya sendiri.
Mungkin itulah mengapa mimbar diskusi sering lebih ditakuti daripada keramaian jalanan. Sebab jalanan bisa reda dalam sehari, tetapi ide yang hidup di kepala anak muda dapat mengubah arah sejarah selama puluhan tahun.






