Jangan Menunda Kebaikan: Memanfaatkan Kesempatan Sebelum Waktu Berakhir

KHAMENEI.ID– Ada satu ilusi yang hampir selalu menyertai manusia: keyakinan bahwa waktu masih panjang. Kita menunda pekerjaan hari ini karena merasa esok masih tersedia. Kita menangguhkan kebaikan karena mengira kesempatan akan datang lagi. Padahal, hidup justru bergerak dengan cara yang sebaliknya. Ia berlalu begitu cepat, sering kali tanpa memberi tanda sebelum menutup pintunya.

Begitulah peringatan yang pernah disampaikan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam salah satu khutbahnya yang terkenal, beliau mengingatkan manusia agar tidak terperangkap dalam angan-angan yang membuat mereka lalai bertindak. Kalimatnya singkat, tetapi mengguncang:

فَبَادِرُوا الْعَمَلَ وَخَافُوا بَغْتَةَ الْأَجَلِ

“Maka segeralah beramal, dan waspadalah terhadap datangnya ajal secara tiba-tiba”

Pesan itu bukan sekadar nasihat tentang kematian. Ia adalah peringatan mengenai nilai setiap kesempatan yang hadir dalam kehidupan.

Banyak orang mengira bahwa kehilangan kesempatan hanya terjadi ketika seseorang meninggal dunia. Padahal, dalam kenyataan sehari-hari, kesempatan bisa berakhir jauh sebelum usia seseorang selesai. Sebuah amanah dapat dicabut. Sebuah jabatan dapat berakhir. Kesehatan dapat berubah menjadi kelemahan. Kepercayaan orang lain bisa hilang hanya karena satu kesalahan. Bahkan sebuah bangsa dapat kehilangan momentum emasnya jika para pemimpinnya terlambat mengambil keputusan.

Karena itu, setiap tanggung jawab sejatinya memiliki umur. Tidak ada jabatan yang abadi, tidak ada kekuasaan yang bertahan selamanya, dan tidak ada peluang yang terus menunggu. Hari-hari yang berlalu diam-diam sedang mengurangi jatah kesempatan yang dimiliki setiap orang.

Di titik inilah makna taqwa menjadi jauh lebih luas daripada sekadar menjalankan ritual. Imam Ali a.s menggambarkan taqwa sebagai bekal perjalanan sekaligus tempat berlindung. Bekal yang mengantarkan seseorang menuju tujuan hidupnya, dan perlindungan yang menyelamatkannya dari kesia-siaan.

Baca Juga  Ketika Ali Menangisi Sahabat-Sahabatnya: Kesepian Seorang Pemimpin di Tengah Umat yang Lelah

Beliau berkata bahwa orang-orang bertaqwa adalah mereka yang selalu mengingat dekatnya akhir perjalanan. Kesadaran itu membuat mereka tidak larut dalam angan-angan. Mereka memilih bekerja sebelum kesempatan hilang, bukan menyesal setelah semuanya terlambat.

Gagasan ini terasa sangat relevan di zaman modern, ketika manusia justru semakin sibuk merancang masa depan tetapi sering lupa memanfaatkan hari ini. Kita membuat daftar mimpi, target, investasi, dan berbagai rencana jangka panjang, tetapi menunda langkah pertama yang sebenarnya bisa dilakukan sekarang.

Penundaan sering kali tidak lahir karena malas, melainkan karena merasa masih memiliki banyak waktu. Inilah jebakan terbesar. Manusia memperlakukan waktu seolah-olah ia adalah harta yang bisa ditabung, padahal waktu justru satu-satunya aset yang terus berkurang tanpa bisa diisi kembali.

Imam Ali a.s kemudian melukiskan dunia dengan bahasa yang sangat puitis. Dunia, menurut beliau, adalah rumah kefanaan, keletihan, perubahan, sekaligus pelajaran. Ia laksana pemanah yang tidak pernah meleset. Anak panahnya selalu mengenai sasaran. Yang sehat dapat jatuh sakit. Yang hidup suatu hari akan meninggal. Yang selamat hari ini belum tentu selamat esok.

Gambaran itu bukan untuk menebarkan rasa takut, melainkan membangunkan kesadaran. Sebab ketika seseorang memahami bahwa hidup bersifat sementara, ia akan lebih berhati-hati menentukan apa yang layak diperjuangkan.

Dalam khutbah yang sama, Imam Ali a.s juga mengingatkan betapa sering manusia menghabiskan tenaga mengumpulkan sesuatu yang pada akhirnya tidak sempat dinikmati. Ada yang membangun rumah megah, tetapi tidak lama kemudian meninggalkannya. Ada yang mengumpulkan kekayaan sepanjang hidup, tetapi semuanya tetap tinggal ketika dirinya kembali menghadap Allah.

Ironinya, manusia sering lebih sibuk mengejar apa yang telah dijamin daripada mengerjakan apa yang diwajibkan. Rezeki, menurut ajaran Islam, telah dijamin Allah sesuai ketetapan-Nya. Namun amal saleh adalah tugas yang harus diusahakan. Yang pertama berada dalam kuasa Allah, sedangkan yang kedua berada dalam pilihan manusia. Sayangnya, banyak orang justru membalik prioritas itu. Seluruh tenaga dihabiskan mengejar jaminan, sementara kewajiban dibiarkan tertunda.

Baca Juga  Kembali ke Al-Qur’an: Jalan Keluar Umat Islam dari Kegelapan Zaman

Padahal, kehilangan rezeki hari ini masih mungkin tergantikan esok. Kesempatan mencari nafkah dapat datang kembali. Namun umur yang telah berlalu tidak pernah kembali. Tidak ada satu hari pun yang bisa dipanggil pulang. Tidak ada satu jam pun yang dapat dibeli kembali, seberapa besar pun kekayaan seseorang.

Di sinilah letak kedalaman nasihat Imam Ali a.s. Beliau tidak meminta manusia hidup dalam kecemasan menghadapi kematian. Yang beliau inginkan adalah kesadaran bahwa nilai hidup diukur dari apa yang dilakukan sebelum kesempatan berakhir.

Kesadaran semacam ini seharusnya menjadi etika bagi siapa pun yang memegang amanah, baik sebagai pemimpin negara, pegawai, guru, orang tua, maupun anggota masyarakat. Jabatan hanyalah kesempatan untuk berbuat baik. Ketika masa itu selesai, yang tersisa bukan lagi titel atau kekuasaan, melainkan jejak amal yang pernah ditinggalkan.

Dalam konteks yang lebih luas, sebuah bangsa pun sesungguhnya hidup dari cara para pemimpinnya memanfaatkan waktu. Empat atau lima tahun masa kepemimpinan mungkin terasa panjang ketika baru dimulai, tetapi sejarah selalu menunjukkan betapa cepat periode itu berlalu. Yang akan dikenang bukan lamanya memimpin, melainkan apa yang berhasil diwujudkan selama kesempatan itu masih ada.

Karena itulah, nasihat Imam Ali a.s tetap terasa hidup melintasi zaman. Ia mengajak manusia meninggalkan budaya menunda dan menggantinya dengan budaya bertindak. Bukan tergesa-gesa tanpa perhitungan, melainkan sigap sebelum peluang menghilang.

Pada akhirnya, hidup bukan terutama soal berapa lama kita berada di dunia, melainkan seberapa banyak kesempatan yang berhasil kita ubah menjadi amal. Waktu terus bergerak, tanpa pernah menoleh ke belakang. Dan mungkin, sebagaimana diingatkan Imam Ali, yang paling patut ditakuti bukanlah datangnya kematian itu sendiri, melainkan ketika kematian datang sementara masih terlalu banyak kebaikan yang kita tunda.

Baca Juga  Rahasia Kedekatan yang Melahirkan Kekuatan
Bagikan:
Terkait
Komentar