KHAMENEI.ID– Ada satu gejala yang semakin mudah ditemukan di zaman media sosial: orang lebih cepat menemukan kesalahan daripada kebaikan. Sebuah unggahan sederhana bisa berubah menjadi medan pertempuran. Sebuah pendapat yang berbeda sedikit saja dapat memancing rentetan sindiran, ejekan, bahkan perdebatan tanpa ujung. Seolah-olah kehidupan publik telah berubah menjadi panggung besar tempat setiap orang berlomba menjadi hakim bagi orang lain.
Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Berabad-abad lalu, Rasulullah saw sudah mengingatkan tentang penyakit sosial yang tampak sepele tetapi memiliki daya rusak yang besar. Dalam sebuah wasiat kepada sahabatnya, Abu Dzar al-Ghifari, beliau bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ لَا تَكُنْ عَيَّاباً وَ لَا مَدَّاحاً وَ لَا طَعَّاناً وَ لَا مُمَارِياً
“Wahai Abu Dzar, janganlah engkau menjadi orang yang gemar mencari-cari aib, jangan pula menjadi pemuji berlebihan, jangan menjadi penyindir, dan jangan menjadi orang yang suka berdebat.”
Pesan ini tampak sederhana. Namun jika diperhatikan lebih dalam, ia seperti cermin yang memantulkan banyak kebiasaan manusia modern.
Yang pertama adalah larangan menjadi ‘ayyab, yakni orang yang gemar mencari-cari kekurangan orang lain. Bukan sekadar melihat kesalahan, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan dan kesenangan. Tipe manusia seperti ini selalu memiliki radar yang sangat peka terhadap cacat orang lain. Ia merasa ada yang kurang jika sehari berlalu tanpa mengomentari kelemahan seseorang.
Yang menarik, kebiasaan ini sering dibungkus dengan alasan moral. Seseorang mengaku sedang mengoreksi, padahal yang dilakukan sebenarnya adalah menikmati kesalahan orang lain. Dalam banyak kasus, yang dicari bukan perbaikan, melainkan kepuasan batin karena merasa lebih baik daripada orang yang dikritik.
Di era digital, budaya semacam ini tumbuh subur. Kesalahan kecil seseorang dapat diabadikan, disebarluaskan, lalu dibahas berhari-hari. Orang tidak lagi sekadar melihat kekeliruan, tetapi juga menjadikannya hiburan. Padahal semakin sibuk seseorang menghitung cacat orang lain, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memperbaiki dirinya sendiri.
Namun Rasulullah saw tidak hanya memperingatkan bahaya terlalu banyak mengkritik. Beliau juga mengingatkan sisi lain yang sama berbahayanya: menjadi pemuji berlebihan.
Sekilas, memuji terdengar sebagai sesuatu yang positif. Tetapi pujian yang melampaui batas sering kali tidak lagi menjadi penghargaan, melainkan bentuk ketidakjujuran. Ketika seseorang terus-menerus memuji siapa saja, atau mengagungkan seseorang secara berlebihan, ia sedang mengaburkan batas antara kenyataan dan sanjungan.
Lebih berbahaya lagi ketika pujian diarahkan kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Dalam banyak sejarah, lahirnya tirani sering kali tidak hanya disebabkan oleh penguasa yang buruk, tetapi juga oleh para pemuji yang membuat penguasa kehilangan kemampuan untuk melihat kenyataan. Kritik dibungkam, sementara pujian terus diperdengarkan. Akhirnya yang tumbuh bukan kebijaksanaan, melainkan kesombongan.
Sikap yang sehat adalah keseimbangan. Mengakui kebaikan seseorang ketika memang layak diapresiasi, tetapi tanpa kehilangan kejujuran dan proporsi.
Penyakit berikutnya yang disebut dalam hadis ini adalah tha‘an, yakni kebiasaan menyindir dan menusuk orang lain melalui ucapan. Berbeda dengan kritik yang bertujuan memperbaiki, sindiran sering kali bertujuan mempermalukan.
Kita melihatnya hampir setiap hari. Seseorang mengucapkan satu kalimat yang kurang tepat, lalu potongan kalimat itu diangkat, dibesar-besarkan, dijadikan bahan olok-olok, dan disebarkan ke mana-mana. Kadang substansi persoalannya tidak lagi penting. Yang penting adalah bagaimana membuat orang lain terlihat bodoh di hadapan publik.
Masalahnya, budaya sindiran menciptakan ruang sosial yang penuh ketakutan. Orang menjadi enggan berbicara karena khawatir salah ucap. Dialog yang sehat digantikan oleh ejekan yang kreatif. Kita kehilangan keberanian untuk berdiskusi, karena setiap kesalahan kecil bisa berubah menjadi bahan tertawaan massal.
Lalu datanglah peringatan terakhir yang mungkin paling relevan dengan zaman sekarang: jangan menjadi orang yang gemar berdebat.
Yang dimaksud bukan diskusi ilmiah atau pertukaran gagasan yang sehat. Yang dilarang adalah perdebatan yang dilakukan demi perdebatan itu sendiri. Perdebatan yang tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan memenangkan ego.
Kita hidup di masa ketika hampir semua hal dapat diperdebatkan. Apa pun pendapat yang diajukan, selalu ada argumen yang mendukungnya. Dan terhadap setiap argumen, selalu ada sanggahan yang bisa dibuat. Akibatnya, perdebatan menjadi lingkaran tanpa akhir.
Seseorang mengajukan alasan. Orang lain membantah. Bantahan itu dibantah lagi. Lalu muncul bantahan berikutnya. Tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Semua hanya menunggu giliran untuk berbicara.
Di titik ini, perdebatan tidak lagi menghasilkan cahaya, melainkan panas. Ia menghabiskan energi, merusak hubungan, dan sering kali membuat manusia semakin jauh dari kebenaran yang sedang dicarinya.
Mungkin karena itulah Rasulullah menyebut empat penyakit ini dalam satu rangkaian. Mencari-cari aib, memuji berlebihan, gemar menyindir, dan suka berdebat sebenarnya berasal dari akar yang sama: keinginan menjadikan diri sendiri sebagai pusat segalanya. Kadang dengan merendahkan orang lain, kadang dengan mendekati orang berkuasa melalui pujian, kadang dengan menyakiti melalui sindiran, dan kadang dengan memaksakan kemenangan dalam perdebatan.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh komentar dan opini, pesan ini terasa semakin relevan. Tidak semua kesalahan harus diumumkan. Tidak semua kelebihan harus dibesar-besarkan. Tidak semua kekeliruan layak dijadikan bahan sindiran. Dan tidak semua perbedaan pendapat harus berakhir dengan pertengkaran.
Barangkali kedewasaan bukan terletak pada kemampuan menemukan kelemahan orang lain atau memenangkan setiap argumen. Kedewasaan justru tampak ketika seseorang tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus mengalah demi menjaga kemanusiaan yang lebih besar. Sebab dalam banyak hal, hidup bukan tentang menjadi orang yang paling benar, melainkan menjadi manusia yang paling bijak.







