Nabi Besar Bangsa Tak Lahir dari Kebetulan: Mengapa Peradaban Maju Selalu Menghargai Kaum Nakhoda Intelektual

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahan yang sering dilakukan sebuah bangsa ketika sedang membangun masa depannya: menganggap kemajuan lahir dari kebijakan semata. Padahal sejarah menunjukkan hal yang berbeda. Peradaban besar tidak dibangun pertama-tama oleh gedung, jalan raya, atau angka pertumbuhan ekonomi. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang berpikir, berkarya, dan berani melahirkan gagasan baru.

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, sosok seperti ilmuwan, seniman, guru, penulis, inovator, dan para pekerja kreatif sering kali tampak berada di pinggir panggung. Padahal merekalah yang sesungguhnya menyiapkan arah perjalanan sebuah bangsa. Mereka adalah para penunjuk jalan yang menentukan ke mana sebuah masyarakat akan melangkah beberapa dekade ke depan.

Dalam sebuah pertemuan dengan para tokoh dan cendekiawan di Yazd, Iran, pemimpin tertinggi Iran mengangkat tema yang menarik: pentingnya menghargai kaum elit intelektual atau kaum berbakat sebagai motor kemajuan bangsa. Namun yang menarik bukan hanya pesannya, melainkan cara pandangnya terhadap makna sebuah prestasi.

Menurutnya, bakat dan kecerdasan memang merupakan kelebihan. Menjadi ilmuwan adalah keistimewaan. Menjadi penyair adalah keistimewaan. Menjadi seniman atau inovator juga merupakan anugerah. Tetapi semua itu baru mencapai nilai tertinggi ketika kemampuan tersebut digunakan untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Pandangan ini berakar pada sebuah prinsip Islam yang sederhana namun sangat mendalam: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Dalam logika modern yang sering menilai keberhasilan dari popularitas dan keuntungan pribadi, prinsip ini terdengar hampir revolusioner. Sebab ukuran utamanya bukan seberapa terkenal seseorang, melainkan seberapa besar dampaknya bagi masyarakat.

Ketika Satu Penulis Menyelamatkan Generasi

Dalam kesempatan itu, sebuah kisah menarik muncul. Seorang penulis senior Iran, Mehdi Azar Yazdi, hadir dalam keadaan kurang sehat. Ia dikenal melalui karya legendarisnya Qessehaye Khub Baraye Bachehaye Khub atau Kisah-Kisah Baik untuk Anak-Anak Baik.

Baca Juga  Ketika Harta Telah Anda Tumpuk, Di Manakah Keislaman Itu Bersembunyi?

Yang mengejutkan, sang pemimpin mengaku memiliki utang moral kepada penulis tersebut.

Ia mengenang masa ketika anak-anaknya mulai memasuki usia remaja. Saat itu situasi budaya sedang tidak kondusif. Banyak arus informasi dan hiburan yang justru mengarahkan generasi muda menjauh dari nilai-nilai yang dianggap baik. Ia mencari bacaan yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu membentuk karakter.

Saat menemukan buku-buku karya Azar Yazdi, ia merasa menemukan jawaban yang selama ini dicari. Buku itu kemudian dibelinya satu per satu setiap kali jilid baru terbit. Bahkan ia merekomendasikannya kepada keluarga dan kerabat.

Kisah ini mengandung pelajaran penting. Pengaruh seorang penulis sering kali tidak terlihat seperti pengaruh seorang politisi atau pengusaha besar. Namun dalam jangka panjang, seorang penulis bisa membentuk cara berpikir ribuan bahkan jutaan anak-anak.

Perubahan besar dalam masyarakat sering kali berawal dari pekerjaan sunyi seperti itu.

Bahaya Menunggu Pengakuan

Ada kecenderungan yang semakin kuat di zaman sekarang: orang ingin segera dihargai sebelum berkarya. Ketika karya tidak mendapat perhatian, semangat pun surut. Ketika dukungan tidak datang, kreativitas berhenti.

Pandangan ini justru dibantah secara tegas.

Seorang yang memiliki kemampuan luar biasa, menurutnya, tidak boleh menggantungkan hidupnya pada tepuk tangan orang lain. Dukungan pemerintah memang penting. Penghargaan masyarakat juga berharga. Namun karya besar tidak boleh berhenti hanya karena apresiasi belum datang.

Gagasan baru dalam diri seorang ilmuwan, seniman, atau inovator diibaratkan seperti tunas yang tumbuh secara alami. Tugas pemiliknya adalah membiarkan tunas itu berkembang, bukan mencabutnya hanya karena belum ada yang memuji.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan banyak potensi yang mati sebelum sempat berkembang. Bukan karena kurang cerdas, melainkan karena terlalu bergantung pada pengakuan eksternal.

Baca Juga  Ketika “Aku” Menggeser “Tuhan”: Titik Paling Sunyi dari Sebuah Penyimpangan

Padahal sejarah membuktikan bahwa banyak karya besar lahir dalam kesunyian. Banyak penemu, pemikir, dan tokoh berpengaruh justru bekerja bertahun-tahun tanpa sorotan publik.

Kemajuan yang Kadang Tak Terlihat

Bagian lain yang menarik adalah analogi tentang perjalanan bangsa.

Kemajuan sebuah negara, katanya, sering mirip perjalanan mobil di tengah padang luas. Ketika kendaraan melaju dengan stabil, penumpang kadang tidak merasakan kecepatannya. Yang menunjukkan adanya kemajuan bukan sensasi bergerak, melainkan penanda-penanda di sepanjang jalan.

Awalnya tertulis 70 kilometer menuju tujuan. Beberapa waktu kemudian menjadi 60 kilometer. Lalu 50 kilometer. Kemudian 10 kilometer.

Meski penumpang sibuk berbincang dan tidak merasakan laju kendaraan, papan-papan itu menunjukkan bahwa perjalanan sedang berlangsung.

Analogi ini relevan dengan banyak negara berkembang, termasuk masyarakat modern pada umumnya. Sering kali publik hanya fokus pada kekurangan yang masih ada. Kritik memang diperlukan. Namun jika hanya melihat kekurangan tanpa memperhatikan capaian, masyarakat bisa kehilangan rasa percaya diri kolektif.

Padahal kemajuan selalu terjadi secara bertahap. Tidak ada bangsa yang berubah dari tertinggal menjadi maju dalam semalam.

Ilmu, Seni, dan Agama Bukan Musuh

Ada pandangan yang cukup menarik dalam pidato tersebut. Kemajuan bangsa tidak boleh dipersempit hanya pada satu sektor.

Ilmu pengetahuan memang sangat penting. Namun sebuah negara tidak hidup dari ilmu saja. Ia juga membutuhkan seni, budaya, agama, industri, pertanian, pelayanan publik, hingga hubungan internasional yang sehat.

Semua unsur itu bekerja seperti organ-organ dalam satu tubuh. Tidak ada yang bisa berjalan sendiri.

Karena itu, menghargai kaum berbakat tidak boleh terbatas pada ilmuwan laboratorium atau akademisi kampus. Seniman, penulis, guru, atlet, ulama, pekerja kreatif, bahkan para pelaku usaha yang menghadirkan inovasi juga merupakan bagian dari ekosistem kemajuan.

Baca Juga  Haji sebagai Perangkat Perubahan Umat: Mengapa Spiritualitas Kolektif Ini Gagal Bertahan Setelah Pulang?

Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu mengenali seluruh bentuk keunggulan itu dan memberi ruang bagi pertumbuhannya.

Menjadi Berguna, Bukan Sekadar Hebat

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah seseorang berbakat atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa bakat itu digunakan?

Kecerdasan tanpa manfaat sosial hanya akan menjadi kebanggaan pribadi. Kreativitas tanpa kontribusi akan berhenti sebagai hiburan sesaat. Namun ketika kemampuan digunakan untuk memperbaiki kehidupan orang lain, ia berubah menjadi amal yang dampaknya melampaui usia pemiliknya.

Mungkin itulah ukuran keberhasilan yang sering terlupakan di zaman modern.

Bukan seberapa tinggi kita berdiri dibanding orang lain, melainkan seberapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena keberadaan kita.

Dan dalam sejarah setiap bangsa, mereka yang benar-benar dikenang bukanlah mereka yang paling banyak dipuji pada masanya, melainkan mereka yang diam-diam membuat kehidupan orang lain menjadi lebih bermakna.

Bagikan:
Terkait
Komentar