KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kelelahan yang jarang dibicarakan orang modern: lelah berharap kepada manusia. Kita hidup di zaman ketika hampir semua urusan terasa bergantung pada “orang dalam”, relasi, koneksi, rekomendasi, dan kuasa sosial. Orang mencari pekerjaan lewat kedekatan, mencari jabatan lewat lobi, bahkan mencari ketenangan lewat pengakuan orang lain. Di tengah dunia seperti itu, sebuah hadis dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s datang seperti teguran keras namun dengan nada halus:
اِذا اَرادَ اَحَدُکُم اَن لا یَسأَلَ اللهَ شَیئاً اِلّا اَعطاهُ فَلیَیأَس مِنَ النّاسِ کُلِّهِم
“Jika salah seorang dari kalian ingin setiap permintaannya kepada Allah dikabulkan, maka hendaklah ia berputus harapan dari seluruh manusia.”
Kalimat itu terdengar keras. Bahkan mungkin mustahil. Bagaimana mungkin manusia hidup tanpa berharap kepada manusia lain? Bukankah hidup dibangun di atas hubungan sosial? Bukankah manusia saling membutuhkan?
Namun Imam Ja’far a.s tampaknya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hubungan sosial. Ia berbicara tentang ketergantungan batin. Tentang tempat terakhir seseorang menggantungkan harapan.
Di zaman sekarang, banyak orang berdoa sambil diam-diam tetap percaya bahwa penyelamat sebenarnya bukan Tuhan, melainkan manusia tertentu. Ada yang merasa kariernya akan selesai jika si pejabat itu tak menolong. Ada yang yakin hidupnya baru aman jika seseorang menyetujui dirinya. Ada pula yang merasa masa depannya sepenuhnya berada di tangan pemilik modal, atasan, atau kekuasaan tertentu.
Mulutnya berdoa kepada Tuhan, tetapi jantungnya bertumpu kepada manusia.
Di situlah, barangkali, doa kehilangan daya langitnya.
Hadis ini diriwayatkan oleh Hafsh bin Ghiyats, seorang qadhi atau hakim dari kalangan umum yang dikenal dapat dipercaya. Dalam penjelasan atas hadis itu, dijelaskan bahwa jalan agar doa dikabulkan ternyata bukan sekadar memperbanyak lafal atau ritual. Ada syarat yang lebih dalam dan lebih berat: memutus ketamakan kepada selain Tuhan.
Bukan berarti manusia tak boleh bekerja sama atau meminta bantuan. Islam sendiri dibangun di atas tolong-menolong. Tetapi ada perbedaan besar antara menggunakan sebab dan menggantungkan jiwa kepada sebab. Seseorang boleh mengetuk pintu manusia, tetapi jangan sampai hatinya yakin bahwa pintu itulah sumber keselamatan.
Karena manusia, pada akhirnya, makhluk yang rapuh.
Kadang kita menginginkan sesuatu dengan sangat kuat, padahal itu justru buruk bagi kita. Kita mengira sebuah jabatan akan menyelamatkan hidup, padahal bisa menghancurkan keluarga. Kita mengira sebuah hubungan akan membahagiakan, padahal justru melukai diri sendiri. Dalam keadaan seperti itu, Tuhan kadang tidak mengabulkan doa bukan karena murka, tetapi justru karena kasih sayang.
Tidak semua penolakan adalah hukuman.
Ada doa-doa yang gagal menjadi kenyataan karena Tuhan sedang menyelamatkan manusia dari dirinya sendiri.
Refleksi semacam ini terasa sangat relevan di tengah budaya instan hari ini. Orang ingin semuanya cepat: cepat sukses, cepat terkenal, cepat kaya, cepat diterima. Akibatnya, manusia menjadi mudah bergantung kepada siapa saja yang dianggap bisa mempercepat jalan hidupnya. Dari situlah lahir budaya menjilat, budaya pencitraan, bahkan budaya kehilangan harga diri demi pengakuan.
Imam Ja’far seolah sedang mengingatkan: selama manusia masih mengemis harapan kepada sesama manusia, ia akan terus hidup dalam kecemasan.
Sebab manusia bisa berubah sewaktu-waktu.
Hari ini memuji, besok meninggalkan. Hari ini mendukung, besok mengkhianati.
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs menceritakan kisahnya Pada tahun 1963, beliau mengisahkan ketika dirinya berada di penjara. Hidup penjara perlahan menjadi rutinitas yang diterima dengan tenang. Hingga suatu hari seseorang datang membawa kabar: kemungkinan ia akan dibebaskan pada hari Sabtu.
Harapan pun tumbuh.
Ia mulai membayangkan bahwa pasti ada seseorang yang telah melobi, merekomendasikan, atau berbicara kepada pihak tertentu agar pembebasan itu terjadi. Di dalam benaknya, keselamatan mulai dikaitkan dengan campur tangan manusia.
Lalu ia membuka Al-Qur’an untuk mencari isyarat apakah hal tersebut benar akan terjadi. Yang muncul justru ayat ini:
فَلا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ
“Maka mereka tidak mampu membuat suatu wasiat pun dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya.” (QS. Yasin: 50)
Ayat itu terasa seperti teguran halus: jangan terlalu percaya pada rekomendasi manusia. Jangan terlalu yakin ada orang yang benar-benar bisa mengatur takdir hidupmu.
Dan benar saja. Hari Sabtu itu ia tidak dibebaskan. Belakangan diketahui bahwa semua dugaan tentang adanya “orang dalam” ternyata tak pernah terjadi.
Kisah kecil itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di situlah letak kedalaman hadis ini. Manusia sering menderita bukan karena kekurangan doa, melainkan karena salah meletakkan sandaran jiwa.
Kita terlalu takut kehilangan manusia, tetapi terlalu jarang takut kehilangan Tuhan.
Padahal sumber ketenangan sejati lahir ketika seseorang sadar bahwa manusia hanyalah perantara, bukan penentu akhir. Jabatan bisa hilang, koneksi bisa memudar, pengaruh bisa runtuh. Namun ada satu tempat bergantung yang tidak berubah oleh situasi politik, ekonomi, maupun suasana hati manusia: Tuhan.
Mungkin itu sebabnya orang-orang yang paling tenang sering kali justru mereka yang paling sedikit berharap kepada manusia. Mereka bekerja keras, tetapi tidak menjual harga dirinya. Mereka meminta bantuan, tetapi tidak menggadaikan jiwanya. Mereka berdoa dengan penuh keyakinan karena tahu bahwa pintu langit tidak bergantung pada pintu kekuasaan.
Dan di dunia yang dipenuhi kecemasan sosial hari ini, barangkali itulah bentuk kebebasan paling langka: ketika seseorang tidak lagi diperbudak oleh harapan kepada manusia.







