Ketika Pujian Menjadi Amanah: Tanggung Jawab Spiritual Para Pendakwah dan Seniman Religi

KHAMENEI.ID– Di banyak panggung keagamaan, kita sering menyaksikan seorang pelantun pujian atau pendakwah disambut tepuk tangan, sorak, bahkan tangis haru. Suaranya menggema, kata-katanya menggetarkan, dan ribuan orang merasa tercerahkan. Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang bertanggung jawab atas pengaruh sebesar itu?

Di balik kemeriahan majelis dan popularitas para pengisi acara religi, tersimpan sebuah gagasan yang lebih sunyi: setiap kata yang membentuk hati manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya dari mereka yang mendengar, tetapi dari Tuhan yang memberi kemampuan untuk berbicara, bernyanyi, dan memengaruhi.

Doa yang Menggeser Fokus dari Popularitas ke Pertanggungjawaban

Dalam Sahifah Sajadiyah, kumpulan doa yang dinisbahkan kepada Imam Ali Zainal Abidin a.s terdapat sebuah doa yang sangat terkenal, Doa Makārim al-Akhlāq (Doa ke-20). Di tengah rangkaian permohonan tentang iman, akhlak, dan ketulusan, muncul satu kalimat yang terasa menohok:

وَاسْتَعْمِلْنِي بِمَا تَسْأَلُنِي غَدًا عَنْهُ

“Ya Allah, gunakanlah aku untuk pekerjaan yang kelak Engkau tanyakan kepadaku pada hari esok.”

Kalimat ini sederhana, tetapi arah pandangnya radikal. Kita biasanya bertanya: pekerjaan apa yang menghasilkan uang, popularitas, atau pengakuan? Doa ini mengajukan pertanyaan lain: pekerjaan apa yang kelak harus kita jawab di hadapan Tuhan?

“Hari esok” dalam doa itu bukan sekadar besok pagi. Ia menunjuk pada hari ketika segala tindakan dipertanyakan. Karena itu, seseorang yang memiliki pengaruh entah sebagai pendakwah, seniman religi, guru, penulis, atau tokoh publik tidak cukup hanya bertanya apakah pesannya disukai. Ia juga perlu bertanya apakah pesannya dapat dipertanggungjawabkan.

Pujian Bukan Sekadar Hiburan

Dalam tradisi Islam, pujian kepada Nabi saw, keluarga Nabi saw, dan nilai-nilai agama memiliki fungsi yang jauh lebih dalam daripada hiburan. Ia membentuk rasa cinta, identitas, dan orientasi moral. Karena itu, para pelantun pujian atau pembicara agama memegang peran yang mirip dengan pendidik emosional masyarakat.

Baca Juga  Ilmu Tanpa Spiritualitas: Ketika Pengetahuan Menjadi Alat Penindasan

Masalahnya, pengaruh emosional sering kali lebih kuat daripada argumentasi rasional. Sebuah syair yang menyentuh dapat melekat bertahun-tahun di ingatan seseorang. Sebuah cerita yang dramatis dapat membentuk cara pandang sebuah komunitas. Di sinilah tanggung jawab itu menjadi berat.

Ketika seorang tokoh agama berbicara di depan ribuan orang, ia tidak hanya menyampaikan informasi. Ia sedang menanamkan nilai, membentuk persepsi, dan kadang menentukan arah emosi kolektif. Karena itu, ukuran keberhasilannya tidak cukup dilihat dari jumlah penonton, viralitas, atau tepuk tangan. Ukurannya juga terletak pada dampak jangka panjang terhadap akhlak dan kesadaran masyarakat.

Bahaya Ketika Panggung Mengalahkan Pesan

Doa Makārim al-Akhlāq tidak berhenti pada permintaan untuk dipakai dalam pekerjaan yang akan dipertanyakan. Ia juga memuat permohonan agar ibadah tidak rusak oleh kesombongan dan kekaguman pada diri sendiri.

وَلَا تُفْسِدْ عِبَادَتِي بِالْعُجْبِ

“Jangan rusakkan ibadahku dengan rasa kagum pada diriku sendiri.”

Ini peringatan yang sangat relevan di era media sosial. Hari ini, seorang pendakwah atau pelantun pujian bisa memiliki jutaan pengikut. Panggung tidak lagi terbatas pada masjid atau majelis; ia meluas ke layar ponsel. Popularitas datang lebih cepat, pujian mengalir tanpa henti, dan godaan untuk menjadikan agama sebagai sarana pencitraan menjadi semakin besar.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah seseorang terkenal. Pertanyaannya: apakah ketenarannya memperbesar ketulusan atau justru mengikisnya?

Doa itu seolah mengingatkan bahwa semakin tinggi seseorang di mata manusia, semakin besar kebutuhan untuk rendah hati di hadapan dirinya sendiri. Bahkan ada permohonan yang sangat unik: jangan naikkan derajatku di mata manusia kecuali Engkau membuatku lebih rendah hati di dalam batinku.

وَلَا تَرْفَعْنِي فِي النَّاسِ دَرَجَةً إِلَّا حَطَطْتَنِي عِنْدَ نَفْسِي مِثْلَهَا

Baca Juga  Ketika Setan Tidak Takut pada Orang yang Rajin Ibadah

“Jangan Engkau tinggikan aku di mata manusia kecuali Engkau rendahkan aku di hadapan diriku sendiri sebesar itu pula.”

Relevansi untuk Masyarakat Modern

Gagasan tanggung jawab ini sebenarnya tidak hanya berlaku bagi komunitas pelantun pujian atau pendakwah. Ia relevan untuk siapa pun yang memiliki pengaruh publik. Influencer, jurnalis, guru, penulis, bahkan pemilik akun media sosial dengan banyak pengikut menghadapi pertanyaan yang sama: apa yang sedang saya tanamkan ke dalam pikiran dan emosi orang lain?

Di zaman ketika perhatian manusia menjadi komoditas, sangat mudah tergoda untuk mengejar sensasi. Konten yang paling keras sering lebih cepat menyebar daripada yang paling bijak. Namun, doa tadi menggeser ukuran sukses dari “berapa banyak yang melihat” menjadi “apa yang kelak harus saya jawab”.

Ukuran ini memang tidak populer. Ia tidak bisa dihitung dengan jumlah tayangan atau pengikut. Tetapi justru karena itulah ia menjadi penting.

Amanah yang Tidak Ringan

Pada akhirnya, setiap kemampuan adalah amanah. Suara yang indah, kemampuan berbicara, kecakapan menulis, atau pengaruh di tengah masyarakat bukan sekadar aset pribadi. Ia membawa konsekuensi moral.

Seseorang boleh dipuji manusia hari ini. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah pujian itu membuatnya lebih dekat kepada tanggung jawab, atau justru menjauhkannya darinya?

Doa Makārim al-Akhlāq mengajak kita melihat kembali makna pengaruh. Bahwa yang terpenting bukan menjadi pusat perhatian, melainkan menjadi orang yang ketika kelak ditanya tentang apa yang ia lakukan, ia telah menyiapkan jawabannya melalui tindakan sehari-hari.

Dan mungkin, di tengah dunia yang begitu sibuk mengejar pengakuan, itulah bentuk ketenaran yang paling sunyi sekaligus paling bernilai.

Bagikan:
Terkait
Komentar