KHAMENEI.ID– Ada satu ironi yang semakin mudah ditemukan pada zaman serba terhubung ini. Informasi mengalir tanpa henti, tetapi banyak orang justru hidup dalam ruang pikir yang semakin sempit. Mereka mengetahui segala sesuatu tentang lingkungan terdekatnya, tetapi nyaris tak memahami apa yang sedang bergerak di belahan dunia lain. Padahal, nasib sebuah masyarakat sering kali ditentukan bukan hanya oleh apa yang terjadi di dalam negeri, melainkan juga oleh perubahan yang berlangsung jauh di luar batas geografisnya.
Dalam pandangan Islam, kesadaran semacam itu bukan sekadar kebutuhan sosial atau politik. Ia bahkan menjadi bagian dari hikmah ibadah haji. Haji bukan hanya perjalanan spiritual menuju Baitullah, melainkan juga perjalanan untuk memperluas cakrawala manusia.
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s pernah menjelaskan salah satu alasan diwajibkannya haji dengan ungkapan yang mengejutkan. Beliau bersabda:
وَلَوْ كَانَ كُلُّ قَوْمٍ إِنَّمَا يَتَّكِلُونَ عَلَى بِلَادِهِمْ وَمَا فِيهَا هَلَكُوا وَخَرِبَتِ الْبِلَادُ وَسَقَطَتِ الْجَلَبُ وَالْأَرْبَاحُ وَعَمِيَتِ الْأَخْبَارُ
“Seandainya setiap kaum hanya bergantung kepada negeri mereka sendiri dan apa yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan binasa. Negeri-negeri akan rusak, perdagangan dan keuntungan akan merosot, serta mereka akan menjadi buta terhadap berbagai berita dan perkembangan”
Hadis ini menghadirkan perspektif yang jauh melampaui ritual. Haji ternyata mengajarkan umat Islam untuk keluar dari batas-batas lokalitas. Manusia diajak melihat dunia sebagaimana adanya: penuh perubahan, saling terhubung, dan saling memengaruhi.
Jika sebuah masyarakat hanya sibuk mengurusi dirinya sendiri, menganggap persoalan dunia tidak ada kaitannya dengan kehidupannya, maka perlahan ia akan kehilangan daya hidup. Bukan hanya secara intelektual, tetapi juga secara ekonomi, sosial, bahkan peradaban. Imam Shadiq a.s menyebut keadaan itu dengan kata yang sangat keras: binasa.
Di titik ini, haji tampak sebagai sebuah sekolah besar tentang keterbukaan. Jutaan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan warna kulit berkumpul dalam ruang yang sama. Mereka membawa cerita, pengalaman, tantangan, dan harapan masing-masing. Pertemuan itu membangun kesadaran bahwa umat Islam bukan kumpulan komunitas yang terpisah, melainkan satu tubuh yang saling terhubung.
Kesadaran global seperti inilah yang justru semakin dibutuhkan pada masa kini. Krisis ekonomi di satu negara dapat memengaruhi harga pangan di negara lain. Konflik politik di sebuah kawasan dapat memicu gelombang migrasi dan ketidakstabilan dunia. Kemajuan teknologi di satu tempat bisa mengubah cara hidup miliaran manusia hanya dalam hitungan bulan. Tidak ada masyarakat yang benar-benar hidup sendirian.
Karena itu, menutup mata terhadap perkembangan dunia bukanlah bentuk kemandirian. Sebaliknya, ia adalah jalan menuju keterbelakangan.
Namun, haji tidak berhenti pada pelajaran tentang dunia luar. Setelah memperluas pandangan manusia terhadap kehidupan global, ibadah ini justru mengajak setiap orang menengok ke dalam dirinya sendiri.
Di tengah lautan manusia yang mengenakan pakaian ihram yang sama, semua identitas duniawi seolah luruh. Jabatan kehilangan kemegahannya. Kekayaan tak lagi tampak. Yang tersisa hanyalah seorang hamba yang berdiri di hadapan Tuhannya.
Karena itu, selain memperluas wawasan, haji juga mengajarkan pendalaman jiwa.
Ada doa indah yang diajarkan Imam Zainal Abidin a.s yang seolah merangkum arah perjalanan spiritual tersebut:
اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُوصِلُنِي إِلَىٰ قُرْبِكَ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta terhadap setiap amal yang mendekatkanku kepada-Mu”
Doa itu tidak meminta kekayaan, kedudukan, atau kemenangan atas manusia lain. Yang dimohon justru kemampuan mencintai Allah, mencintai orang-orang saleh, dan mencintai setiap amal yang mengantar kepada kedekatan dengan-Nya.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah keseimbangan yang sering hilang dalam kehidupan modern. Di satu sisi, manusia dituntut memahami dunia dengan segala dinamika dan perubahannya. Di sisi lain, ia juga harus menjaga hati agar tidak hanyut dalam hiruk-pikuk dunia yang sama.
Kesadaran sosial tanpa spiritualitas mudah berubah menjadi ambisi kekuasaan. Sebaliknya, spiritualitas tanpa kepedulian terhadap realitas dunia dapat menjelma menjadi kesalehan yang terasing dari kehidupan.
Haji mempertemukan keduanya.
Di Masjidil Haram, seseorang dianjurkan memperbanyak doa, munajat, dan tangisan di hadapan Allah. Bukan karena air mata memiliki nilai pada dirinya sendiri, melainkan karena kerendahan hati adalah pintu bagi perubahan batin. Semakin seseorang menyadari kelemahannya, semakin ia mampu melihat dunia dengan jernih.
Karena itu, para ulama selalu menganjurkan agar setiap kesempatan di Tanah Suci diisi dengan ibadah yang dilakukan secara tulus. Membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, memanjatkan doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw dan Ahlul Bait, atau melantunkan Doa Kumail bersama-sama, semuanya bertujuan menumbuhkan hati yang lebih peka kepada Allah.
Menariknya, dua pelajaran besar haji ini saling melengkapi. Mata dibuka untuk melihat dunia, sementara hati dibuka untuk melihat Tuhan. Pikiran diperluas agar memahami realitas umat manusia, sedangkan jiwa diperdalam agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.
Barangkali di situlah pesan haji yang paling relevan bagi kehidupan hari ini. Dunia memang harus dibaca dengan cermat. Perkembangan global harus dipahami. Berita, ilmu, dan pengalaman manusia tidak boleh diabaikan. Tetapi semua itu tidak akan membawa manusia kepada kebijaksanaan apabila hatinya kosong dari keikhlasan.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar perpindahan dari satu negeri ke negeri lain. Ia adalah perjalanan keluar dari sempitnya cara pandang menuju keluasan wawasan, sekaligus perjalanan pulang dari kegaduhan dunia menuju keheningan hati. Di sanalah seorang hamba belajar bahwa memahami dunia adalah bagian dari ibadah, tetapi mendekat kepada Allah tetap menjadi tujuan akhirnya.







