Mengapa Pandangan Barat tentang Perempuan Perlu Ditinjau Ulang?

Dalam era globalisasi yang dibanjiri arus informasi dan nilai-nilai universal yang didengung-dengungkan, masyarakat dunia kerap dihadapkan pada satu narasi dominan mengenai isu perempuan. Namun, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengajak publik untuk melakukan langkah yang lebih mendasar, yaitu mengosongkan pikiran dari kata-kata klise produk Barat. Ajakan ini bukan sekadar retorika, melainkan fondasi untuk membangun kerangka berpikir yang benar, adil, dan bebas dari kesalahan sistematis. Tulisan ini merangkum secara padat alasan-alasan krusial mengapa otoritas intelektual Barat dalam masalah perempuan harus ditolak, sebagaimana disampaikan dalam berbagai pertemuan dengan wanita terpilih, khususnya pernyataan penting pada tanggal 30-1-1393 (kalender Hijriah Syamsi/sekitar April 2014 M).

Menolak Otoritas Pemikiran Barat secara Total

Langkah pertama yang tak terelakkan adalah membebaskan pikiran dari seluruh klise buatan Barat. Menurut beliau, Barat telah salah paham dan salah bertindak terhadap perempuan. Kekeliruan yang merusak ini kemudian dijadikan sebagai standar universal yang dipaksakan kepada seluruh dunia. Dengan dukungan mesin propaganda raksasa, Barat membungkam setiap suara kritis yang tidak sejalan dengan pandangan mereka. Oleh karena itu, untuk merumuskan strategi yang tepat tentang perempuan, lengkap dengan pelaksanaan dan konsekuensi jangka panjangnya, sebuah masyarakat harus melakukan pengosongan total terhadap pemikiran Barat. Ini bukan berarti menutup diri dari informasi. Kesadaran dan pengetahuan tetap penting, namun otoritas pemikiran tersebut harus ditolak sepenuhnya, karena pemikiran Barat tentang perempuan sama sekali tidak dapat membawa kebahagiaan dan petunjuk bagi masyarakat dunia.

  1. Logika Barat yang Sangat Lemah

Sepanjang sejarah, baik pada era kebodohan kuno maupun kebodohan abad ke-20, terdapat upaya sistematis untuk merendahkan dan mengecilkan perempuan. Perempuan digambarkan sebagai makhluk yang terpaku pada perhiasan, mode, riasan, dan emas, serta dijadikan alat kesenangan hidup. Logika semacam ini, dalam pandangan beliau, amat rapuh. Ia akan meleleh dan hancur seketika bagaikan salju di hadapan panasnya cahaya martabat spiritual sosok agung seperti Fatimah az-Zahra (as). Dengan demikian, tidak ada satu pun fondasi kokoh yang dapat dibangun di atas logika yang merendahkan martabat hakiki perempuan.

  1. Ekstrem dan Meremehkan dalam Memahami Kodrat Perempuan
Baca Juga  Perempuan dalam Islam: Kesetaraan, Martabat, dan Batas yang Disalahpahami

Pendekatan Barat terhadap pemahaman kodrat perempuan serta cara menyikapinya senantiasa jatuh pada dua kutub ekstrem, yaitu berlebih-lebihan (ifrath) atau meremehkan (tafrith). Pada dasarnya, pandangan Barat tidak didasarkan pada kesetaraan dan keseimbangan, melainkan pada ketidaksetaraan dan ketidakseimbangan. Slogan-slogan yang digembar-gemborkan di sana hanyalah kosong belaka dan tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Penampilan luar yang modis tidak boleh disamakan dengan kebenaran substansial tentang kedudukan perempuan.

  1. Berdasarkan Epistemologi Materialisme dan Tidak Berdasarkan Ketuhanan

Akar paling fundamental dari kesalahan pemikiran Barat adalah landasannya yang materialis. Sistem pemikiran yang dibangun di atas epistemologi material dan keyakinan ateistik secara otomatis cacat sejak awal. Memahami hakikat penciptaan, termasuk hakikat perempuan, harus dilakukan dengan kacamata epistemologi ilahiah, yaitu dengan mengakui keberadaan Tuhan, kekuasaan-Nya, serta kehadiran dan ketuhanan-Nya. Karena fondasi pemikiran Barat adalah material, maka sudah pasti seluruh bangunan pemikirannya tentang perempuan adalah keliru.

  1. Campur Tangan Kepentingan Bisnis dan Ekonomi

Sejarah Revolusi Industri di Eropa secara gamblang menunjukkan adanya motif ekonomi dalam pendekatan Barat terhadap perempuan. Ketika itu, perempuan di Eropa tidak memiliki hak kepemilikan; harta mereka menjadi milik laki-laki atau suami. Mereka juga tidak memiliki hak pilih. Namun, dengan munculnya pabrik-pabrik dan kebutuhan akan tenaga kerja murah, para kapitalis mendadak memberikan hak kepemilikan kepada perempuan. Tujuannya jelas: menarik mereka ke pabrik dengan upah rendah. Kebijakan ini membawa konsekuensi berantai hingga hari ini. Dengan demikian, selain bersifat non-ilahi dan materialis, kebijakan Barat tentang perempuan juga didorong oleh kepentingan dagang dan ekonomi semata, bukan karena kecintaan sejati terhadap kaum hawa.

  1. Perempuan sebagai Alat Pemuas Nafsu dalam Pandangan Barat
Baca Juga  Bukan Sekadar Ibu Rumah Tangga: Peran Wanita di Keluarga yang Tak Tergantikan

Salah satu aspek yang paling tidak dapat disembunyikan adalah fungsi instrumental perempuan sebagai alat pemuas nafsu dalam pandangan Barat. Meskipun klaim sebaliknya sering disertai dengan keributan, realitas kehidupan sosial di negara-negara Barat menunjukkan dominasi pandangan ini. Dalam lingkungan sosial, semakin sedikit pakaian yang dikenakan seorang perempuan, semakin ia dianggap ideal. Bandingkan dengan laki-laki yang harus hadir dalam pakaian formal lengkap di acara-acara resmi. Sementara perempuan justru dituntut tampil dengan cara yang berbeda. Tidak ada filosofi lain dibalik semua ini selain memberikan kepuasan bagi mata-mata liar yang penuh nafsu. Kezaliman terbesar terhadap perempuan di dunia Barat dewasa ini justru berasal dari pola pikir ini.

Lebih lanjut, kezaliman dalam budaya Barat terhadap perempuan, termasuk representasi keliru dalam karya sastra dan seni, tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Perempuan diperkenalkan sebagai “alat kenikmatan laki-laki” dan dinamai dengan istilah “kebebasan perempuan”, padahal pada hakikatnya itu adalah kebebasan bagi laki-laki hidung belang, bukan kebebasan bagi perempuan. Kezaliman ini meliputi bidang kerja, industri, hingga seni dan sastra. Dalam cerita, novel, lukisan, dan berbagai produk artistik, perempuan dipandang dengan kacamata yang merendahkan.

  1. Kesalahan Besar: Kesetaraan Gender

Salah satu kekeliruan paling besar dalam pemikiran Barat adalah konsep “kesetaraan gender.” Perlu dibedakan antara keadilan dan kesetaraan. Keadilan adalah hak, sedangkan kesetaraan terkadang hak, tetapi seringkali batil (tidak benar). Pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa manusia yang secara kodrati—baik fisik maupun emosional—diciptakan untuk wilayah khusus dalam kehidupan, harus ditarik keluar dari wilayahnya lalu dipaksakan masuk ke wilayah khusus lainnya yang telah disiapkan Tuhan untuk struktur yang berbeda? Tidak ada logika rasional dan rasa kasih sayang yang membenarkan hal ini. Memberikan pekerjaan yang bersifat maskulin kepada perempuan bukanlah sebuah kebanggaan atau kemajuan. Dalam banyak aspek kemanusiaan, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dalam hal spiritualitas, kapasitas intelektual, dan pencapaian ilmiah, keduanya setara. Namun, cetakan fisik dan emosional mereka berbeda, masing-masing dirancang untuk jenis pekerjaan yang berbeda, di samping adanya pekerjaan bersama. Memaksa satu desain keluar dari wilayah khususnya menuju wilayah desain lain adalah kezaliman yang sedang dilakukan Barat. Melalui berbagai konvensi internasional, mereka merusak kehidupan umat manusia, menghancurkan diri mereka sendiri, dan berupaya menghancurkan bangsa lain dengan pemikiran keliru ini.

Baca Juga  “Isu Perempuan dan Topeng Kepentingan Kolonial: Sebuah Kritik yang Perlu Dicermati”

Dengan merenungkan poin-poin mendasar ini, diharapkan publik dapat menyikapi secara kritis setiap narasi global tentang perempuan dan kembali membangun pemahaman yang berakar pada nilai-nilai ilahi, keadilan, dan penghormatan terhadap kodrat kemanusiaan yang sejati.

Bagikan:
Terkait
Komentar