Jangan Patahkan Jiwa yang Sedang Belajar

KHAMENEI.ID– Pendidikan sering dibicarakan sebagai jalan menuju kemajuan. Kita membangun sekolah, memperbaiki kurikulum, dan mengembangkan teknologi pembelajaran. Namun ada satu unsur yang kerap luput dari perhatian: akhlak dalam hubungan antara guru dan murid. Padahal, dalam pandangan Islam, keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, melainkan juga oleh bagaimana manusia di dalamnya saling memperlakukan.

Di banyak ruang kelas, relasi guru dan murid masih sering dipahami secara hierarkis. Guru dianggap pemilik pengetahuan, sementara murid hanya penerima. Akibatnya, tidak jarang muncul sikap yang menempatkan murid sebagai objek yang boleh ditegur, dibentak, bahkan dipermalukan demi alasan kedisiplinan. Padahal, tradisi Islam menawarkan pandangan yang jauh lebih halus dan mendalam.

Ada sebuah pesan yang diriwayatkan dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s yang berbunyi:

اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَ تَزَيَّنُوا مَعَهُ بِالْحِلْمِ وَ الْوَقَارِ وَ تَوَاضَعُوا لِمَنْ تُعَلِّمُونَهُ الْعِلْمَ وَ تَوَاضَعُوا لِمَنْ طَلَبْتُمْ مِنْهُ الْعِلْمَ وَ لَا تَكُونُوا عُلَمَاءَ جَبَّارِينَ فَيَذْهَبَ بَاطِلُكُمْ بِحَقِّكُمْ

“Tuntutlah ilmu, dan hiasilah dirimu dengan kesabaran serta kewibawaan. Rendahkanlah dirimu kepada orang yang kamu ajari dan juga kepada orang yang darinya kamu belajar. Jangan menjadi ulama yang sombong dan sewenang-wenang, karena kebatilan perilakumu dapat menghapus kebenaran ilmumu”

Pesan ini mengandung sesuatu yang sangat menarik. Kerendahan hati tidak hanya dituntut dari murid kepada guru, tetapi juga dari guru kepada murid. Hubungan pendidikan dalam Islam bukanlah hubungan antara penguasa dan bawahan, melainkan hubungan dua manusia yang sama-sama sedang berjalan menuju kesempurnaan.

Selama ini, penghormatan kepada guru sering ditekankan dalam berbagai kesempatan. Itu tentu benar. Guru adalah sosok yang membuka jendela pengetahuan dan membantu manusia melihat dunia dengan lebih luas. Namun, Islam tidak berhenti di situ. Murid pun memiliki kehormatan yang wajib dijaga. Ia tidak boleh dihina, direndahkan, atau diperlakukan seolah-olah tidak memiliki martabat.

Baca Juga  Qasem Soleimani: Ketika Kejujuran dan Keikhlasan Menjadi Sebuah Mazhab

Di sinilah letak kedalaman pendidikan Islam. Ketika seorang murid dihormati, ia tidak hanya merasa nyaman. Ia merasa dirinya bernilai. Dari perasaan bernilai itulah tumbuh kepercayaan diri, keberanian bertanya, dan kesiapan untuk berkembang. Sebaliknya, penghinaan mungkin menghasilkan kepatuhan sesaat, tetapi sering kali meninggalkan luka yang panjang.

Kita mungkin pernah menjumpai sosok guru yang sangat cerdas, tetapi cara berbicaranya membuat murid merasa kecil. Setiap kesalahan dijadikan bahan ejekan. Setiap pertanyaan dianggap tanda kebodohan. Secara akademik mungkin ia berhasil mentransfer pengetahuan, tetapi secara kemanusiaan ia sedang meruntuhkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Dalam tradisi Islam, sosok seperti ini disebut sebagai “jabbar” dalam ilmu; orang yang menggunakan ilmunya untuk mendominasi dan merendahkan orang lain. Kesombongan seperti ini tidak kalah berbahaya dibanding kesewenang-wenangan politik. Jika tirani politik merusak masyarakat, tirani intelektual merusak jiwa.

Menariknya, Islam tidak melarang ketegasan dalam pendidikan. Guru tetap boleh menegur, mengingatkan, bahkan menunjukkan kesalahan murid dengan jelas. Namun ketegasan berbeda dengan penghinaan. Menegur bertujuan memperbaiki, sedangkan menghina bertujuan menjatuhkan. Yang pertama lahir dari kasih sayang, yang kedua lahir dari ego.

Perkembangan ilmu pendidikan modern pun semakin menguatkan pandangan ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kekerasan verbal, bentakan, dan hukuman fisik justru menghambat perkembangan emosional anak. Murid yang tumbuh dalam ketakutan cenderung kehilangan kreativitas dan keberanian untuk bereksplorasi. Mereka belajar untuk patuh, tetapi tidak belajar untuk berpikir.

Karena itu, seni mengajar sejatinya bukanlah seni memaksa, melainkan seni membimbing. Seorang guru ibarat pemahat yang membentuk batu menjadi karya indah, atau seperti petani yang merawat benih hingga tumbuh menjadi pohon. Keduanya membutuhkan kesabaran, bukan kemarahan.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 14) : Enam Ciri Takwa Mengantarkan pada Hidayah dan Keberuntungan

Lebih jauh lagi, Islam memandang posisi guru dengan penghormatan yang sangat tinggi. Sebuah ungkapan yang populer dalam khazanah Islam menyebutkan:

مَنْ تَعَلَّمْتَ مِنْهُ حَرْفاً صِرْتَ لَهُ عَبْداً

“Siapa yang darinya engkau belajar satu huruf, maka engkau menjadi hamba baginya”

Terlepas dari perdebatan mengenai kekuatan sanad riwayat ini, maknanya sangat kuat. Ungkapan tersebut bukan mengajarkan perbudakan dalam arti harfiah, melainkan menunjukkan betapa besar jasa seorang guru. Ketika seseorang mengajarkan satu pengetahuan yang mengubah hidup kita, sesungguhnya ia telah membantu kita melintasi satu tahap penting dalam perjalanan kehidupan.

Setiap manusia pasti dapat mengingat sosok tertentu yang pernah mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Bisa jadi seorang guru sekolah, dosen, orang tua, atau bahkan seseorang yang hanya memberikan satu nasihat sederhana pada waktu yang tepat. Kita tidak menjadi “hamba” mereka dalam arti tunduk secara mutlak, tetapi kita menyimpan utang budi yang sulit diukur dengan materi.

Di era digital saat ini, ketika informasi dapat diperoleh hanya dengan menyentuh layar ponsel, peran guru justru menjadi semakin penting. Sebab pendidikan bukan sekadar memindahkan data dari satu kepala ke kepala lain. Pendidikan adalah proses membentuk karakter, menyalakan kesadaran, dan membimbing manusia menemukan arah hidupnya.

Karena itu, penghormatan kepada guru dan pemuliaan terhadap murid tidak boleh dipertentangkan. Keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Guru yang baik akan dihormati karena kerendahan hatinya. Murid yang baik akan tumbuh karena dimuliakan martabatnya.

Barangkali di situlah rahasia pendidikan yang sesungguhnya. Bukan pada ruang kelas yang megah, bukan pada teknologi yang canggih, bahkan bukan semata-mata pada banyaknya ilmu yang diajarkan. Melainkan pada hadirnya kerendahan hati di antara dua manusia: satu yang mengajar, dan satu yang belajar. Ketika keduanya saling memuliakan, ilmu tidak hanya berpindah, tetapi juga menghidupkan.

Baca Juga  Guru Melawan Ketidakadilan: Ketika Ilmu dan Iman Menjadi Senjata Perubahan 
Bagikan:
Terkait
Komentar