KHAMENEI.ID– Di masa yang penuh kebingungan, banyak orang memilih diam. Mereka merasa itulah pilihan paling aman. Tidak berpihak, tidak berkomentar, tidak ikut dalam perdebatan. Sekilas sikap itu tampak bijaksana. Namun sejarah menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, diam bukanlah bentuk kebijaksanaan, melainkan kontribusi terhadap kekacauan itu sendiri.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di era media sosial ketika hoaks, propaganda, dan perang narasi berseliweran setiap hari. Ribuan tahun lalu, dalam sejarah Islam, persoalan yang sama juga pernah muncul. Saat masyarakat dihadapkan pada fitnah, yakni keadaan ketika batas antara benar dan salah menjadi kabur, muncul pertanyaan penting: apakah seorang mukmin harus menyingkir dan menunggu badai berlalu, atau justru hadir untuk menjelaskan kebenaran?
Salah satu ucapan terkenal Imam Ali a.s sering dikutip ketika membahas persoalan ini:
كُنْ فِي الْفِتْنَةِ كَابْنِ اللَّبُونِ لَا ظَهْرٌ فَيُرْكَبَ وَ لَا ضَرْعٌ فَيُحْلَبَ
“Di tengah fitnah, jadilah seperti anak unta yang tidak memiliki punggung untuk ditunggangi dan tidak memiliki susu untuk diperah”
Banyak orang memahami kalimat ini secara keliru. Mereka menganggap pesan tersebut berarti: jika terjadi fitnah atau kekacauan, menjauhlah dari semuanya. Jangan terlibat. Jangan bicara. Jangan mengambil posisi.
Padahal makna sebenarnya jauh lebih dalam.
Imam Ali a.s tidak sedang mengajarkan sikap apatis. Beliau tidak mengatakan, “Pergilah dan sembunyilah.” Yang beliau tekankan adalah jangan sampai pelaku fitnah dapat memanfaatkan diri kita untuk tujuan mereka. Jangan menjadi kendaraan yang mereka tunggangi. Jangan menjadi sumber keuntungan yang mereka perah. Dengan kata lain, jangan memberi ruang bagi kebatilan untuk menggunakan kita sebagai alat.
Perbedaan antara “tidak dimanfaatkan” dan “menarik diri” terlihat tipis, tetapi sesungguhnya sangat besar.
Sejarah Perang Shiffin memberikan gambaran yang menarik. Saat itu dua kelompok Muslim berhadapan dalam konflik besar yang membuat banyak orang bingung. Situasinya benar-benar merupakan fitnah dalam arti sesungguhnya: fakta bercampur propaganda, loyalitas bercampur kepentingan, dan sebagian masyarakat kehilangan kemampuan melihat persoalan secara jernih.
Di tengah suasana seperti itu, ada sosok yang menonjol: Ammar bin Yasir. Ia tidak memilih diam. Ia tidak bersembunyi di rumah sambil menunggu hasil akhir pertikaian. Sebaliknya, Ammar terus bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain, memberikan penjelasan, berbicara kepada masyarakat, dan membantu mereka memahami hakikat persoalan yang sedang terjadi.
Perannya bukan sebagai penyulut konflik, melainkan sebagai penerang dalam kabut.
Ammar memahami bahwa ketika kebingungan meluas, tugas orang yang memiliki pengetahuan bukanlah menghindar, melainkan menjelaskan. Ketika banyak orang tersesat oleh narasi yang menyesatkan, yang dibutuhkan bukan semakin banyak orang yang diam, tetapi semakin banyak orang yang mampu menghadirkan kejernihan.
Namun di sisi lain, sejarah juga mencatat kelompok lain yang mengambil sikap berbeda. Mereka datang kepada Imam Ali a.s dan berkata bahwa mereka mengenal keutamaan beliau, tetapi merasa ragu terhadap perang yang sedang berlangsung. Karena keraguan itu, mereka meminta agar tidak dilibatkan dalam konflik dan lebih baik ditempatkan di wilayah perbatasan untuk menjaga keamanan daerah lain.
Sekilas sikap ini tampak terhormat. Mereka tidak memusuhi Imam Ali a.s. Mereka juga tidak bergabung dengan pihak lawan. Mereka hanya memilih menyingkir.
Tetapi justru di sinilah letak pelajarannya.
Dalam kondisi normal, menjauh dari konflik mungkin merupakan pilihan yang sah. Namun dalam kondisi fitnah besar yang menentukan arah masyarakat, sikap pasif dapat menghasilkan dampak politik dan sosial yang nyata. Ketika orang-orang yang memahami kebenaran memilih diam, ruang publik akan dikuasai oleh mereka yang paling keras suaranya, bukan yang paling benar argumennya.
Di zaman modern, pelajaran ini terasa semakin relevan.
Kita hidup di era banjir informasi. Berita palsu dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Potongan video yang dipelintir sering kali lebih viral daripada penjelasan lengkap. Dalam situasi seperti ini, banyak orang memilih netral. Mereka menganggap tidak berkomentar adalah cara terbaik untuk menjaga diri.
Padahal sering kali yang terjadi justru sebaliknya.
Ketika kebohongan beredar tanpa bantahan, kebohongan itu memperoleh legitimasi. Ketika fitnah menyebar tanpa klarifikasi, fitnah itu tumbuh menjadi “kebenaran” baru di mata sebagian masyarakat. Dan ketika orang-orang yang mengetahui fakta memilih diam, mereka tanpa sadar membantu keberhasilan narasi yang keliru.
Tentu bukan berarti setiap orang harus terlibat dalam setiap perdebatan atau berubah menjadi aktivis media sosial yang bereaksi terhadap semua isu. Yang dimaksud adalah hadirnya tanggung jawab moral untuk melakukan tabyin; menjelaskan, menerangkan, dan menghadirkan perspektif yang benar ketika dibutuhkan.
Islam tidak mengajarkan keberanian yang sembrono, tetapi juga tidak mengajarkan sikap acuh tak acuh terhadap kebenaran. Di tengah fitnah, yang dituntut bukan sekadar keberanian berbicara, melainkan juga ketajaman melihat persoalan dan kebijaksanaan dalam menyampaikan fakta.
Karena itu, tantangan terbesar pada masa fitnah bukanlah memilih kubu secara emosional. Tantangan terbesar justru menjaga kejernihan hati dan akal sehingga tidak menjadi alat kebatilan, sekaligus tidak membiarkan kebatilan bergerak tanpa perlawanan.
Pada akhirnya, fitnah tidak selalu menang karena kuatnya para pelaku fitnah. Sering kali ia menang karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.
Mungkin inilah pesan yang ingin disampaikan oleh Imam Ali a.s. Menjadi seperti “anak unta” bukan berarti menghilang dari medan kehidupan. Bukan pula berarti menutup mata terhadap persoalan masyarakat. Maknanya adalah menjaga diri agar tidak dimanfaatkan oleh arus kebatilan, sambil tetap menjalankan tanggung jawab untuk menerangi jalan bagi mereka yang sedang kebingungan.
Sebab dalam banyak keadaan, diam bukanlah lawan dari fitnah. Diam justru bisa menjadi salah satu bahan bakarnya.







