KHAMENEI.ID – Ada kebiasaan yang berulang setiap kali masyarakat menghadapi krisis moral. Ketika korupsi merebak, kekerasan meningkat, atau kejujuran terasa semakin langka, pertanyaan yang muncul hampir selalu sama: mengapa generasi muda tidak tumbuh sebagaimana yang diharapkan? Namun, pertanyaan itu sering berhenti di permukaan. Kita sibuk mengeluhkan hasil, tetapi jarang menelusuri akar persoalannya.
Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengajukan sebuah sudut pandang yang menarik. Menurut beliau, jika seluruh urusan sebuah negara hendak diurutkan berdasarkan tingkat kepentingannya, maka pendidikan berada di puncak. Bukan sekadar karena sekolah mencetak tenaga kerja atau menghasilkan lulusan berprestasi, melainkan karena masa depan manusia, akhlak masyarakat, dan arah sebuah bangsa bertumpu pada pendidikan.
Pandangan ini mengandung pesan yang lebih dalam daripada sekadar pentingnya gedung sekolah, kurikulum, atau angka partisipasi pendidikan. Pendidikan, dalam maknanya yang paling mendasar, adalah proses membentuk manusia. Di sanalah karakter, keberanian, integritas, dan rasa tanggung jawab ditanamkan. Jika manusia yang dihasilkan kuat secara moral, bangsa akan kokoh. Sebaliknya, jika fondasi itu rapuh, kemajuan material tidak akan mampu menutupinya.
Imam Khamenei mengakui bahwa banyak orang mengeluhkan kondisi moral masyarakat yang belum berkembang sebagaimana mestinya. Keluhan itu, menurut beliau, bukan tanpa alasan. Namun ada satu syarat penting yang sering terlupakan ketika berbicara tentang pembinaan akhlak: kehadiran teladan.
Manusia, terutama anak muda, belajar bukan hanya melalui nasihat. Mereka belajar melalui contoh yang hidup. Mereka memperhatikan perilaku orang-orang di sekitarnya, mengamati cara para tokoh berbicara, melihat bagaimana para pemimpin bertindak, lalu secara sadar atau tidak menjadikannya sebagai acuan.
Masalah muncul ketika figur yang tampil di ruang publik justru memperlihatkan contoh yang buruk. Seseorang bisa menjadi teladan negatif melalui perilakunya, tindakannya, bahkan melalui pernyataan-pernyataan yang ia lontarkan. Dalam kondisi seperti itu, pendidikan karakter menjadi jauh lebih sulit. Sebab apa yang diajarkan di ruang kelas sering kali dibantah oleh kenyataan yang terlihat di depan mata.
Karena itulah Imam Khamenei menegaskan bahwa membangun teladan merupakan salah satu pekerjaan paling mendasar dalam proses pendidikan. Bangsa yang ingin membentuk generasi unggul tidak cukup hanya mengajarkan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai itu harus diwujudkan dalam sosok nyata yang dapat dilihat, dikenali, dan diteladani.
Menariknya, beliau tidak berbicara tentang kekurangan figur panutan. Justru sebaliknya. Menurut beliau, masyarakat memiliki begitu banyak teladan yang baik. Dalam sejarah, apalagi pada zaman modern, terdapat banyak pemuda dengan wajah-wajah yang bercahaya oleh pengabdian, ketulusan, dan keberanian.
Yang diperlukan bukan menciptakan sosok baru, melainkan memperkenalkan mereka kepada generasi sekarang.
Dalam ceramah tersebut, Imam Khamenei mengenang para pemuda syuhada yang pernah belajar dari guru-guru mereka. Namun, dalam perjalanan hidupnya, para pemuda itu melampaui para pengajarnya. Mereka mendengar nasihat yang sama, menerima pelajaran yang sama, tetapi mengubahnya menjadi tindakan nyata.
Beliau menggambarkan keadaan itu dengan ungkapan yang sangat puitis:
“Kami yang berjanji, tetapi mereka yang menunaikannya.”
Kalimat singkat ini menyimpan makna yang besar. Banyak orang mengetahui kebenaran, memahami nilai-nilai luhur, dan bahkan mengajarkannya kepada orang lain. Namun tidak semua mampu mewujudkannya dalam kehidupan nyata. Para pemuda yang dipuji Imam Khamenei adalah mereka yang mengubah ilmu menjadi amal, gagasan menjadi pengorbanan, dan keyakinan menjadi tindakan.
Mereka tidak hanya berbicara tentang keberanian, tetapi berani. Mereka tidak sekadar memuji kejujuran, tetapi hidup dengan jujur. Mereka tidak hanya mengagumi pengabdian, tetapi mengorbankan diri demi sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Di sinilah relevansi pemikiran Imam Khamenei bagi dunia modern menjadi sangat terasa. Generasi muda saat ini hidup di tengah arus informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap hari mereka dibanjiri gambar, video, opini, dan figur publik dari berbagai penjuru dunia. Dalam situasi seperti ini, pertarungan terbesar bukan lagi soal akses informasi, melainkan soal siapa yang menjadi panutan.
Anak muda membutuhkan figur yang menunjukkan bahwa keberanian masih mungkin, kejujuran masih bernilai, dan pengabdian masih memiliki tempat dalam kehidupan modern. Mereka membutuhkan contoh nyata tentang semangat, ketulusan, kesehatan moral, pengorbanan, wawasan yang luas, serta akhlak yang baik terhadap sesama manusia.
Imam Khamenei secara khusus menyebut berbagai sisi kehidupan yang patut ditampilkan dari para teladan itu: hubungan mereka dengan masyarakat, sikap mereka terhadap sesama, penghormatan kepada orang tua, kesetiaan kepada keluarga, serta kebaikan terhadap sahabat. Dengan kata lain, keteladanan tidak hanya diukur dari prestasi besar atau pengorbanan heroik, tetapi juga dari perilaku sehari-hari yang mencerminkan kemuliaan karakter.
Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dengan popularitas dan kekayaan, pemikiran ini menghadirkan perspektif yang berbeda. Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki teknologi maju atau ekonomi besar. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang berhasil memperkenalkan manusia-manusia terbaiknya kepada generasi berikutnya.
Pendidikan pada akhirnya bukan semata proses transfer pengetahuan. Ia adalah proses pewarisan keteladanan. Dan setiap kali seorang anak muda menemukan figur yang layak dicontoh, sesungguhnya pendidikan sedang bekerja dalam bentuknya yang paling efektif.
Mungkin karena itulah Imam Khamenei menempatkan pendidikan di posisi tertinggi dalam urusan negara. Sebab di dalamnya tersimpan kemampuan untuk membentuk manusia. Dan ketika manusia yang baik lahir dari proses itu, masa depan sebuah bangsa tidak lagi bergantung pada keberuntungan, melainkan pada karakter yang telah dibangun dengan sabar dari generasi ke generasi.







