KHAMENEI.ID– Ketika berbicara tentang misi para nabi, banyak orang segera membayangkan ibadah, hukum agama, atau seruan moral. Padahal, ada satu tugas yang jauh lebih mendasar dan menjadi fondasi bagi semuanya: membangunkan akal manusia. Dalam pandangan Islam, kebangkitan manusia tidak dimulai dari ritual, melainkan dari kemampuan berpikir.
Di tengah zaman yang dipenuhi informasi, ironi terbesar justru muncul ketika manusia semakin jarang menggunakan akalnya. Kita hidup dalam era yang memungkinkan seseorang mengetahui banyak hal hanya dengan satu sentuhan layar, tetapi pada saat yang sama mudah terseret hoaks, fanatisme, dan keputusan yang lahir dari emosi sesaat. Di sinilah pesan kenabian menemukan relevansinya kembali: memperkuat akal adalah pekerjaan pertama yang harus dilakukan sebelum memperbaiki yang lain.
Hakikat diutusnya Nabi Muhammad saw bukan sekadar mengajarkan tata cara ibadah atau membangun tatanan sosial. Risalah beliau merupakan ajakan menuju pendidikan akal, pendidikan moral, dan pendidikan hukum. Ketiganya adalah syarat bagi kehidupan manusia yang damai dan terus berkembang. Namun di antara ketiganya, pendidikan akal menempati posisi pertama.
Makna pendidikan akal bukan sekadar membuat manusia cerdas secara intelektual. Yang dimaksud adalah mengeluarkan potensi nalar yang terpendam dalam diri manusia, lalu menjadikannya sebagai pemimpin bagi pikiran dan tindakan. Akal harus menjadi pelita yang menerangi jalan hidup, sehingga manusia mampu membedakan mana jalan yang benar dan mana yang menyesatkan.
Tidak mengherankan jika Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mempertimbangkan. Seruan itu hadir dalam berbagai bentuk: apakah kalian tidak berpikir, tidak memahami, tidak mengambil pelajaran? Bahkan ketika menggambarkan penyesalan para penghuni neraka, Al-Qur’an menempatkan kegagalan menggunakan akal sebagai penyebab utama kesengsaraan mereka:
وَقالوا لَو كُنّا نَسمَعُ أَو نَعقِلُ ما كُنّا في أَصحابِ السَّعيرِ
“Mereka berkata: Seandainya kami mau mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. AL-Mulk: 10)
Ayat ini mengandung pesan yang tajam. Kesalahan manusia sering kali bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena enggan mendengar kebenaran dan malas menggunakan akal sehat. Pengetahuan tersedia, tanda-tanda terbentang, tetapi akal tidak diberi kesempatan untuk memimpin.
Pesan ini sebenarnya tidak hanya berlaku bagi Nabi Muhammad saw. Dalam sejarah seluruh kenabian, seruan kepada akal selalu menjadi agenda utama. Namun Islam memberikan penekanan yang sangat kuat terhadap aspek ini. Dalam salah satu khotbah terkenal, Imam Ali a.s menjelaskan tujuan diutusnya para nabi. Mereka datang untuk mengingatkan manusia akan fitrahnya dan “menggali kembali harta karun akal” yang tersembunyi dalam diri mereka.
Ungkapan “harta karun akal” menghadirkan gambaran yang menarik. Setiap manusia telah membawa potensi kebijaksanaan sejak lahir. Masalahnya, banyak orang tidak pernah menggali kekayaan itu. Mereka seperti seseorang yang tidur di atas tumpukan emas, tetapi meninggal dalam keadaan miskin karena tidak mengetahui apa yang tersimpan di bawahnya.
Begitulah keadaan manusia ketika tidak menjadikan akal sebagai penuntun hidup. Potensi besar tersedia, tetapi tidak dimanfaatkan. Akibatnya, berbagai bentuk kebodohan mengambil alih ruang keputusan. Dari sinilah lahir banyak persoalan pribadi maupun sosial: konflik yang tidak perlu, fanatisme yang membutakan, serta sikap berlebihan dalam mengejar dunia.
Nabi Muhammad saw menggambarkan fungsi akal melalui perumpamaan yang sangat sederhana namun mendalam. Beliau bersabda bahwa akal adalah pengikat kebodohan. Dalam bahasa Arab digunakan istilah ‘iqal, yaitu tali yang dipasang pada kaki unta agar tidak berkeliaran tanpa arah. Tanpa pengikat itu, hewan akan bergerak liar dan sulit dikendalikan.
Menurut hadis tersebut, jiwa manusia memiliki kecenderungan yang serupa. Nafsu dapat menyeret seseorang ke mana saja jika tidak dikendalikan. Ketika akal kehilangan perannya, manusia mudah dikuasai oleh amarah, keserakahan, kesombongan, atau hawa nafsu lainnya. Hidup menjadi perjalanan tanpa kompas.
Fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern. Banyak keputusan penting hari ini dibuat bukan berdasarkan pertimbangan matang, melainkan dorongan sesaat. Orang membeli karena gengsi, berbicara karena emosi, dan memilih karena tekanan kelompok. Dalam situasi seperti itu, akal tidak lagi menjadi pemimpin, melainkan hanya menjadi pembenaran bagi keputusan yang sudah ditentukan oleh nafsu.
Karena itulah tugas pertama para nabi adalah membangunkan kekuatan berpikir masyarakat. Mereka tidak datang untuk menciptakan ketergantungan, tetapi untuk melahirkan manusia yang mampu melihat kebenaran dengan kesadarannya sendiri. Agama, dalam pengertian ini, bukan musuh akal. Sebaliknya, agama justru menghidupkan akal agar manusia mampu memahami tujuan hidupnya dengan lebih jernih.
Menariknya, dalam tradisi Islam, akal bukan hanya sumber pengetahuan, tetapi juga sumber kematangan moral. Dari akal lahir sikap bijaksana. Dari kebijaksanaan lahir ilmu yang benar. Dari ilmu muncul kemampuan mengambil jalan yang tepat. Dari sana tumbuh kesucian diri, rasa malu, ketenangan, ketekunan dalam kebaikan, hingga kesediaan menerima nasihat. Semua itu merupakan cabang-cabang yang tumbuh dari akar bernama akal.
Maka ketika masyarakat kehilangan akal sehat, yang runtuh bukan hanya kemampuan berpikir, tetapi juga fondasi moralnya. Sebaliknya, ketika akal diperkuat, banyak masalah sosial dapat diselesaikan dari akarnya.
Di tengah kebisingan dunia modern, mungkin kita perlu kembali mengingat pelajaran paling awal dari misi kenabian. Kebangkitan manusia tidak dimulai dari banyaknya informasi, melainkan dari kemampuan mengolah informasi itu dengan akal yang sehat. Peradaban besar tidak lahir dari kerumunan yang hanya mengikuti arus, melainkan dari manusia-manusia yang berpikir.
Pada akhirnya, risalah para nabi bukan sekadar mengajarkan apa yang harus dipercaya, tetapi juga membangunkan kemampuan manusia untuk memahami mengapa ia harus mempercayainya. Di situlah akal menemukan kemuliaannya: bukan sebagai lawan iman, melainkan sebagai jalan yang mengantarkan manusia menuju iman yang sadar, matang, dan membebaskan.







