Bahaya Kemunduran Revolusi: Ketika Perubahan Berhenti dan Elit Kembali Menjadi Penguasa

KHAMENEI.ID – Sejarah menunjukkan bahwa menggulingkan sebuah rezim sering kali lebih mudah daripada menjaga ruh perubahan tetap hidup. Banyak bangsa berhasil melakukan revolusi. Mereka turun ke jalan, menumbangkan penguasa lama, mengubah konstitusi, bahkan membangun sistem politik baru. Namun setelah beberapa tahun berlalu, mereka mendapati sesuatu yang ironis: wajah-wajah mungkin berubah, tetapi jalan yang ditempuh kembali mengarah ke tempat semula.

Dalam pemikiran Imam Ali Khamenei qs, inilah salah satu penyakit paling berbahaya yang mengancam setiap revolusi: irtija’, atau kemunduran revolusioner. Sebuah kondisi ketika masyarakat yang sebelumnya bergerak maju dengan semangat perubahan perlahan kehilangan arah, berhenti melangkah, lalu berbalik menuju titik awal yang dahulu mereka tinggalkan.

Kemunduran semacam ini tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Ia datang perlahan, hampir tanpa suara.

Awalnya, semangat perjuangan mulai melemah. Nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan dengan pengorbanan besar mulai dianggap tidak lagi penting. Setelah itu, tujuan-tujuan besar yang pernah menjadi cita-cita bersama perlahan menghilang dari ruang publik. Yang tersisa hanyalah rutinitas politik dan perebutan kepentingan.

Menurut Imam Khamenei, hampir semua revolusi besar dalam sejarah pernah mengalami nasib seperti ini.

Revolusi Prancis yang menjanjikan kebebasan dan kesetaraan akhirnya melahirkan bentuk-bentuk kekuasaan baru yang tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Revolusi Rusia yang mengusung cita-cita keadilan sosial pada akhirnya menghadapi berbagai penyimpangan dari idealisme awalnya. Begitu pula berbagai revolusi yang terjadi di Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lain di dunia.

Banyak revolusi berhasil mengubah pemerintahan, tetapi gagal mempertahankan nilai-nilai yang melahirkan revolusi itu sendiri.

Di sinilah Imam Khamenei mengingatkan bahwa tantangan terbesar sebuah revolusi bukanlah kemenangan pada hari pertama, melainkan kesetiaan terhadap tujuan pada puluhan tahun berikutnya.

Baca Juga  Poros Perlawanan: Dari Qasem Soleimani hingga Nurani Dunia yang Terbangun

Sebab kemunduran tidak selalu ditandai dengan runtuhnya institusi atau jatuhnya pemerintahan. Kadang-kadang kemunduran justru terjadi ketika para tokoh revolusi masih berada di kursi kekuasaan.

Nama-nama yang sama masih ada. Slogan-slogan lama masih terdengar. Simbol-simbol revolusi masih dipajang. Namun arah perjalanan telah berubah.

Beliau menggambarkan situasi ini dengan sangat tajam: seolah-olah revolusi dilakukan hanya agar kelompok lama pergi dan kelompok baru menggantikannya. Padahal revolusi tidak pernah dimaksudkan sekadar untuk pergantian orang.

Revolusi adalah perubahan arah.

Revolusi adalah keberanian untuk meninggalkan jalan lama menuju tujuan yang lebih luhur.

Jika tujuan itu dilupakan, maka yang tersisa hanyalah pergantian penguasa tanpa perubahan makna.

Lalu bagaimana kemunduran itu muncul?

Menurut Imam Khamenei, salah satu gejala paling jelas adalah ketika semangat kesederhanaan berubah menjadi kecenderungan hidup mewah. Ketika para pemimpin dan elit mulai menikmati gaya hidup aristokrat, sementara jarak mereka dengan rakyat semakin lebar.

Pada titik itu, revolusi mulai kehilangan jiwanya.

Lebih berbahaya lagi ketika perhatian terhadap kelompok lemah digantikan oleh kedekatan dengan kelompok kaya dan berkuasa. Ketika kepentingan masyarakat kecil tidak lagi menjadi prioritas, sementara kelompok-kelompok yang rakus terhadap keuntungan justru memperoleh ruang yang lebih besar dalam pengambilan keputusan.

Kemunduran juga muncul ketika sebuah bangsa kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Saat harapan tidak lagi diletakkan pada kemampuan rakyat, melainkan pada kekuatan asing. Ketika solusi dicari dari luar, sementara potensi bangsa sendiri diabaikan. Dalam pandangan Imam Khamenei, ketergantungan psikologis kepada pihak asing merupakan salah satu tanda paling jelas bahwa semangat revolusi sedang melemah.

Karena itu beliau menegaskan bahwa para intelektual, pemimpin masyarakat, dan pejabat negara memiliki tanggung jawab besar untuk terus mengawasi arah perjalanan bangsa. Tetapi tanggung jawab itu tidak hanya berada di tangan elit.

Baca Juga  Benarkah Iran Diperintah Ulama? Imam Khamenei Membongkar Dua Kesalahpahaman Besar tentang Republik Islam

Rakyat juga harus menjaga kewaspadaan.

Masyarakat tidak boleh menjadi penonton pasif yang menyerahkan seluruh urusan kepada penguasa. Mereka harus peka terhadap perubahan arah, kritis terhadap penyimpangan, dan terus mengingatkan para pemimpin tentang tujuan awal perjuangan.

Sebab sejarah menunjukkan bahwa kemunduran sering kali terjadi ketika masyarakat berhenti mengawasi kekuasaan.

Namun Imam Khamenei tidak hanya berbicara tentang ancaman. Beliau juga menunjukkan bahwa sebuah bangsa dapat bertahan menghadapi berbagai tekanan dan konspirasi jika memiliki kesadaran kolektif yang kuat.

Dalam berbagai peristiwa politik yang mengguncang Iran, beliau melihat bagaimana masyarakat mampu menunjukkan keteguhan sikap ketika menghadapi tekanan internal maupun eksternal. Berbagai kelompok yang berseberangan, didukung kekuatan-kekuatan asing, pernah berupaya menggoyahkan stabilitas negara. Namun pada akhirnya, menurut beliau, yang menentukan bukanlah kekuatan lawan, melainkan keteguhan rakyat dalam mempertahankan prinsip-prinsip yang mereka yakini.

Meski demikian, ada satu syarat yang selalu beliau tekankan.

Bukan kekuatan militer.

Bukan kekayaan ekonomi.

Bukan pula kecanggihan teknologi.

Yang menjaga sebuah bangsa tetap kuat adalah takwa.

Dalam pemikiran Imam Khamenei, takwa bukan sekadar ibadah individual atau urusan spiritual yang terpisah dari kehidupan sosial. Takwa adalah kesadaran moral yang membuat seseorang mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki kekuasaan, mampu berlaku adil ketika memiliki kesempatan untuk berbuat zalim, dan mampu tetap setia pada prinsip ketika menghadapi godaan keuntungan sesaat.

Takwa menjaga revolusi dari pengkhianatan terhadap cita-citanya sendiri.

Takwa menjaga pemimpin dari kesombongan.

Takwa menjaga masyarakat dari sikap apatis.

Dan takwa menjaga sebuah bangsa agar tidak kehilangan arah ketika menghadapi berbagai ujian zaman.

Karena itu, ancaman terbesar bagi sebuah revolusi sesungguhnya bukan serangan dari luar. Ancaman terbesar adalah ketika nilai-nilai yang dahulu menggerakkannya perlahan dilupakan oleh orang-orang yang mengaku mewarisinya.

Baca Juga  Ghadir Khum dan Krisis Kepemimpinan: Mengapa Islam Tidak Membiarkan Umat Berjalan Tanpa Arah? 

Revolusi bisa bertahan puluhan tahun. Institusi bisa tetap berdiri. Bendera bisa terus berkibar. Tetapi jika tujuan-tujuan luhur yang dahulu diperjuangkan hilang dari hati masyarakat dan para pemimpinnya, maka kemunduran telah terjadi meskipun tidak ada satu pun bangunan yang runtuh.

Dan sejarah, berulang kali, telah mengajarkan betapa mahal harga yang harus dibayar oleh bangsa-bangsa yang terlambat menyadarinya.

Bagikan:
Terkait
Komentar