KHAMENEI.ID – Kemajuan sebuah bangsa sering kali dimulai dari ruang yang sunyi: laboratorium, perpustakaan, ruang diskusi, dan pikiran-pikiran muda yang berani bertanya. Sebelum sebuah teknologi lahir, sebelum sebuah industri berkembang, dan sebelum sebuah negara mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain, selalu ada proses panjang bernama ilmu pengetahuan.
Bagi Imam Ali Khamenei qs, kemajuan ilmu bukan sekadar persoalan akademik, tetapi bagian penting dari perjalanan menuju kemandirian sebuah negara. Dalam salah satu ceramahnya, beliau menekankan bahwa sebuah bangsa harus terus bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan, sebab ilmu adalah fondasi utama bagi kemajuan dan kekuatan masa depan.
Menurut beliau, ilmu pengetahuan sendiri merupakan hasil dari pemikiran. Karena itu, perjalanan menuju kemajuan tidak boleh berhenti pada aktivitas belajar secara formal, tetapi harus mendorong lahirnya kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir mandiri.
“Dalam ilmu pengetahuan kita harus mengalami kemajuan. Ilmu itu sendiri adalah hasil dari pemikiran,” demikian pesan Imam Ali Khamenei qs.
Beliau mengingatkan bahwa dalam upaya menuju perkembangan intelektual, tidak boleh ada sikap malas, lemah, atau merasa cukup. Kemajuan ilmiah membutuhkan kesungguhan yang terus-menerus. Sebab ilmu tidak hanya menghasilkan teori atau tulisan, tetapi dalam banyak keadaan segera menjelma menjadi teknologi, industri, dan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
Di sinilah pentingnya gerakan ilmiah. Menurut Imam Ali Khamenei qs, beberapa tahun terakhir telah muncul sebuah gerakan menuju inovasi ilmiah dan kemandirian ilmu. Gerakan ini bukan hanya mengejar jumlah penelitian atau publikasi, tetapi berusaha membangun kemampuan sebuah bangsa agar tidak selalu bergantung pada hasil pemikiran bangsa lain.
Ilmu yang kuat akan melahirkan teknologi. Teknologi yang berkembang akan memperkuat ekonomi, industri, dan posisi sebuah negara dalam persaingan global. Karena itu, investasi terbesar dalam masa depan bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan manusia yang mampu menciptakan pengetahuan baru.
Namun beliau juga menekankan bahwa pekerjaan ilmiah harus dilakukan secara mendalam dan mendasar. Kemajuan tidak dapat dibangun dengan pendekatan yang dangkal atau hanya mengikuti tren sesaat. Ilmu membutuhkan fondasi kuat, penelitian yang serius, dan keberanian untuk memasuki wilayah baru yang belum banyak dijelajahi.
Generasi muda, menurut Imam Khamenei, memiliki peluang besar untuk mencatat sejarah. Mereka dapat menjadi generasi yang dikenal bukan karena hanya mengikuti pencapaian bangsa lain, tetapi karena berhasil membangun fondasi kemajuan ilmiah yang mandiri.
“Generasi muda hari ini dapat meraih kehormatan besar: menjadi generasi yang membawa negara menuju tahapan besar dalam kemajuan ilmu,” demikian semangat yang beliau tekankan.
Pesan ini menyentuh persoalan yang lebih luas: identitas sebuah bangsa dalam dunia modern. Dalam era ketika ilmu pengetahuan menjadi sumber kekuatan, ketergantungan ilmiah dapat menjadi bentuk ketergantungan baru. Sebaliknya, kemampuan menciptakan pengetahuan sendiri menjadi salah satu tanda kedaulatan.
Imam Khamenei kemudian menghubungkan persoalan ini dengan sejarah universitas. Menurut beliau, sejak awal pembentukannya, sistem universitas di beberapa negara berkembang pernah dibangun dengan orientasi yang membuat bangsa tersebut bergantung kepada Barat, bukan berdiri mandiri.
Beliau mengkritik pola pikir yang pernah berkembang, yang menganggap bahwa kemajuan hanya dapat dicapai dengan meniru Barat secara menyeluruh. Dalam ceramahnya, beliau menyebut pandangan semacam ini sebagai pendekatan yang membuat sebuah bangsa kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Namun, menurut beliau, ada perubahan besar yang terjadi. Lembaga yang dahulu dianggap sebagai bagian dari ketergantungan justru kini dapat menjadi tempat lahirnya kemandirian ilmiah.
“Universitas yang sama itu kini mengangkat bendera kemandirian ilmiah dan kemajuan ilmu yang mandiri,” demikian inti gagasan beliau.
Perubahan ini menjadi sebuah ironi sejarah: institusi yang dulu dianggap sebagai jalur ketergantungan dapat berubah menjadi pusat kebangkitan ketika masyarakat mulai memiliki visi baru terhadap ilmu.
Dalam konteks dunia hari ini, pesan tersebut terasa semakin relevan. Negara-negara berlomba membangun kecerdasan buatan, teknologi energi, bioteknologi, dan berbagai bidang strategis lainnya. Mereka yang mampu menguasai ilmu bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembentuk arah masa depan.
Karena itu, universitas tidak boleh hanya menjadi tempat menghasilkan lulusan yang siap masuk pasar kerja. Ia harus menjadi tempat lahirnya gagasan, inovasi, dan keberanian intelektual.
Pada akhirnya, gagasan Imam Khamenei tentang kemajuan ilmu membawa sebuah refleksi sederhana: sebuah bangsa tidak akan benar-benar maju jika hanya mengonsumsi pengetahuan yang dibuat orang lain. Kemajuan sejati lahir ketika sebuah masyarakat mampu berpikir, mencipta, dan memberikan kontribusi bagi peradaban.
Masa depan bukan hanya milik mereka yang memiliki sumber daya besar, tetapi juga mereka yang memiliki pikiran yang terus bergerak.







