KHAMENEI.ID –
Tafsir Imam Ali Khamenei tentang hakikat hubungan manusia dengan Allah swt dalam Surah Al-Fatihah, ayat 5
Ketika seorang muslim mengucapkan إِيَّاكَ نَعْبُدُ—”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah” (QS. Al-Fatihah [1]: 5)—ia sedang mendefinisikan kembali siapa dirinya di hadapan Tuhan. Bukan sebagai anak, bukan sebagai mitra, bukan pula sebagai bagian dari Tuhan, melainkan sebagai hamba. Di mata sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar kurang akrab dibanding ungkapan “anak-anak Tuhan” yang dikenal dalam tradisi keagamaan lain. Namun justru di sinilah, menurut Imam Ali Khamenei (qs), terletak salah satu keunikan sekaligus kemurnian ajaran tauhid Islam.
Bagi Imam Khamenei, Al-Qur’an sengaja memilih konsep ‘ubudiyah atau penghambaan karena hanya konsep inilah yang mampu menggambarkan hubungan yang benar antara manusia yang terbatas dengan Allah Yang Mahasempurna. Hubungan itu bukan hubungan biologis, bukan hubungan genealogis, dan bukan pula hubungan yang menempatkan manusia memiliki unsur ketuhanan. Yang ada hanyalah hubungan antara Sang Pencipta dengan makhluk-Nya.
Karena itu, Islam secara tegas menolak segala bentuk pemahaman yang mengisyaratkan bahwa Allah memiliki keturunan atau berasal dari hubungan yang menyerupai makhluk. Prinsip tersebut dirumuskan dengan sangat ringkas dalam Surah Al-Ikhlas:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas [112]: 3).
Menurut Imam Ali Khamenei, ayat ini bukan sekadar penolakan terhadap satu istilah tertentu, melainkan penegasan tentang hakikat Allah sendiri. Jika Allah dipahami memiliki anak sebagaimana makhluk memiliki keturunan, maka secara logis Dia akan tunduk pada sifat-sifat makhluk: memiliki batas, mengalami proses, dan bergantung pada mekanisme yang berlaku bagi ciptaan. Padahal, Tuhan yang layak disembah adalah Dzat yang berada di atas seluruh keterbatasan itu.
“Manusia hanya dapat menyembah Zat yang melampaui seluruh batas dan kekurangan yang dikenal manusia.”
Inilah inti argumentasi yang dibangun Imam Ali Khamenei. Kesempurnaan Allah menuntut agar Dia sepenuhnya bebas dari segala sifat yang menunjukkan kebutuhan atau keterbatasan. Karena itu, hubungan manusia dengan Allah swt tidak dapat dipahami melalui analogi hubungan keluarga.
Dalam penafsirannya, Imam Khamenei juga menyinggung perkembangan historis gagasan tersebut. Menurut beliau, konsep hubungan ayah dan anak antara Tuhan dan manusia memiliki kemiripan dengan pola pikir keagamaan yang berkembang dalam tradisi politeisme kuno, khususnya di dunia Yunani dan Romawi, ketika dewa-dewa digambarkan memiliki silsilah keluarga, ayah, ibu, dan keturunan. Beliau memandang bahwa cara memahami Tuhan seperti itu tidak sejalan dengan tauhid murni yang diajarkan para nabi.
Pandangan tersebut merupakan bagian dari analisis teologis Imam Ali Khamenei dalam menjelaskan mengapa Al-Qur’an sangat menekankan transendensi Allah swt. Semakin Allah diserupakan dengan makhluk, semakin kabur pula batas antara Sang Pencipta dan ciptaan.
Namun, bagi Imam Ali Khamenei, persoalannya tidak berhenti pada perdebatan istilah. Yang lebih penting adalah dampak praktis dari cara manusia memahami hubungannya dengan Tuhan.
Beliau mengemukakan sebuah refleksi yang tajam. Ketika hubungan manusia dengan Allah swt tidak lagi dibangun di atas penghambaan yang tulus, manusia justru cenderung mencari “tuan-tuan” baru dalam kehidupannya. Menurut beliau, sejarah menunjukkan bahwa manusia yang menganggap dirinya dekat dengan Tuhan melalui status tertentu belum tentu terbebas dari penghambaan kepada hawa nafsu, kekuasaan, atau kepentingan duniawi.
Di sinilah konsep ‘ubudiyah dalam Islam memperoleh makna yang sangat dalam. Seorang hamba tidak mendekat kepada Allah karena merasa memiliki hubungan istimewa berdasarkan keturunan, bangsa, atau status sosial. Ia mendekat karena memilih untuk tunduk kepada kebenaran yang datang dari Allah.
Dengan demikian, kemuliaan manusia tidak lahir dari siapa dirinya, melainkan dari kepada siapa ia berserah diri.
Pandangan ini juga mengubah cara seorang muslim memandang tujuan hidupnya. Jika manusia hanyalah makhluk yang hidup untuk memenuhi keinginan pribadinya, maka seluruh kehidupannya akan berputar di sekitar kepentingan dirinya sendiri. Tetapi jika manusia adalah hamba Allah, maka hidupnya memperoleh arah yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi ambisi dunia.
Menurut Imam Ali Khamenei, inilah jalan yang membawa manusia menuju kesempurnaan. Penghambaan kepada Allah bukanlah penghapusan jati diri, melainkan proses penyempurnaan diri. Di dalamnya terdapat kepatuhan, kecintaan, penghormatan, dan kerinduan kepada Dzat Yang Mahasempurna. Penghambaan yang seperti inilah yang mengangkat manusia dari sekadar makhluk biologis menjadi makhluk spiritual yang memiliki tujuan.
Karena itu, ketika Surah Al-Fatihah mengajarkan kalimat إِيَّاكَ نَعْبُدُ, Al-Qur’an tidak sedang mengajarkan hubungan yang penuh ketakutan semata. Ayat ini sedang mengajarkan bentuk hubungan yang paling murni antara manusia dan Tuhannya: hubungan yang dibangun di atas pengakuan akan kebesaran Allah, kecintaan kepada-Nya, dan kesediaan untuk menjadikan kehendak-Nya sebagai arah kehidupan.
Namun, menurut Imam Khamenei, pengakuan itu belum selesai hanya dengan mengatakan, “Kami menyembah-Mu.” Kalimat tersebut masih menyimpan satu konsekuensi besar yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Sebab, mengakui diri sebagai hamba Allah berarti menolak menjadi hamba siapa pun selain Dia. Di sinilah إِيَّاكَ نَعْبُدُ berubah dari sekadar ungkapan ibadah menjadi deklarasi pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan—baik kepada hawa nafsu, kekuasaan, maupun sesama manusia.







