KHAMENEI.ID– Di zaman ketika satu kalimat dapat melintasi benua hanya dalam hitungan detik, manusia dihadapkan pada pilihan yang semakin menentukan: apakah kata-kata akan menjadi jembatan, atau justru berubah menjadi bara yang membakar sesama. Bagi dunia Islam, pertanyaan itu terasa semakin mendesak. Di tengah konflik, polarisasi, dan pertikaian yang tak kunjung reda, seruan menuju persatuan bukan lagi sekadar ajakan moral. Ia adalah kebutuhan yang menentukan masa depan.
Persatuan tidak lahir dari keseragaman. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan. Sejarah Islam sejak awal telah memperlihatkan keberagaman mazhab, budaya, bahasa, hingga tradisi intelektual. Namun, keberagaman itu tidak pernah dimaksudkan menjadi alasan untuk saling meniadakan.
Yang justru berbahaya adalah ketika perbedaan dipelihara menjadi kebencian.
Di titik inilah, setiap ucapan memperoleh bobot yang jauh lebih besar daripada sekadar rangkaian kata. Sebuah pidato, ceramah, unggahan media sosial, bahkan percakapan sehari-hari dapat menjadi energi yang mempererat persaudaraan atau sebaliknya, membuka luka yang sulit dipulihkan.
Imam Muhammad al-Jawad a.s pernah mengingatkan melalui sebuah hadis yang sangat menggugah:
مَنْ أَصْغَى إِلَى نَاطِقٍ فَقَدْ عَبَدَهُ، فَإِنْ كَانَ النَّاطِقُ عَنِ اللَّهِ فَقَدْ عَبَدَ اللَّهَ، وَإِنْ كَانَ النَّاطِقُ يَنْطِقُ عَنْ لِسَانِ إِبْلِيسَ فَقَدْ عَبَدَ إِبْلِيسَ
“Barang siapa mendengarkan seorang pembicara, maka seakan-akan ia telah mengabdinya. Jika pembicara itu berbicara atas nama Allah, maka ia telah mengabdi kepada Allah. Tetapi jika ia berbicara dengan lisan Iblis, maka ia telah mengabdi kepada Iblis.”
Hadis ini menghadirkan perspektif yang mengejutkan. Mendengar ternyata bukan tindakan yang netral. Apa yang kita pilih untuk didengar perlahan membentuk cara berpikir, menentukan sikap, bahkan mengarahkan jalan hidup kita.
Karena itu, tidak semua suara layak diikuti.
Ada suara yang menenangkan hati, mengajak manusia saling memahami, dan memperluas ruang persaudaraan. Ada pula suara yang hidup dari kemarahan, mengobarkan fanatisme, serta menjadikan kebencian sebagai bahan bakar pengaruhnya. Keduanya sama-sama lantang, tetapi berasal dari sumber yang berbeda.
Dalam konteks yang lebih luas, ukuran kebenaran sebuah seruan bukanlah seberapa keras ia diteriakkan atau seberapa banyak pengikutnya. Ukurannya adalah ke mana ia membawa manusia. Apakah mendekatkan mereka kepada kasih sayang, keadilan, dan persatuan, atau justru menyeret mereka ke jurang permusuhan yang tak berkesudahan.
Al-Qur’an memberikan peringatan yang tajam terhadap para pemimpin yang menyesatkan masyarakatnya.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekufuran, lalu membawa kaumnya menuju negeri kebinasaan? Itulah Jahanam yang mereka masuki, dan itulah seburuk-buruk tempat menetap.” (QS. Ibrahim: 28-29)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kesalahan pribadi, melainkan tentang dampak sosial dari sebuah kepemimpinan. Ada orang-orang yang bukan hanya tersesat, tetapi juga menyesatkan. Mereka menjadikan pengaruh yang dimiliki sebagai jalan untuk menggiring banyak orang menuju kehancuran.
Gambaran itu dipertegas lagi melalui kisah Fir’aun.
يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ ۖ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ
“Pada hari kiamat, ia berjalan di depan kaumnya, lalu membawa mereka masuk ke dalam api. Sungguh, itulah seburuk-buruk tempat yang didatangi.” (QS. Hud: 98)
Fir’aun tidak hanya menjadi simbol kesombongan. Ia juga melambangkan kepemimpinan yang memanfaatkan pengaruh untuk mengarahkan manusia kepada kehancuran bersama. Seorang pemimpin tidak pernah berjalan sendirian; ia selalu membawa orang-orang yang memilih mempercayainya.
Di era digital, makna kepemimpinan menjadi jauh lebih luas. Siapa pun yang memiliki pendengar, pembaca, atau pengikut sesungguhnya sedang memegang tanggung jawab moral. Seorang dai, penulis, tokoh masyarakat, influencer, bahkan pengguna media sosial biasa dapat menjadi penyebar kedamaian atau penyulut perpecahan.
Pilihan itu sering kali bermula dari hal-hal yang tampak sederhana: apakah kita menyebarkan informasi yang mempersatukan atau kabar yang memancing kebencian; apakah kita memilih dialog atau menciptakan prasangka; apakah kita memperbesar persamaan atau terus mengorek perbedaan.
Dunia Islam hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Persoalan kemiskinan, ketimpangan pendidikan, penjajahan, konflik kemanusiaan, hingga dominasi geopolitik global membutuhkan solidaritas yang kuat. Ironisnya, di saat kebutuhan akan persatuan semakin mendesak, sebagian energi justru habis untuk mempertajam sekat-sekat internal.
Padahal, musuh terbesar sebuah peradaban sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari retaknya kepercayaan di dalam tubuhnya sendiri.
Karena itu, setiap seruan yang mengajak umat Islam saling menghormati, menguatkan ukhuwah, dan membangun kerja sama sejatinya sedang menghidupkan nilai-nilai ilahiah. Sebaliknya, setiap upaya yang sengaja membangkitkan fanatisme buta, memperuncing konflik mazhab, atau memecah belah persaudaraan hanya akan menghadirkan kemenangan bagi mereka yang menginginkan umat terus terpecah.
Pada akhirnya, pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya, “Siapa yang berbicara?” melainkan juga, “Ke mana suara itu sedang membawa kita?”
Sebab setiap kata memiliki arah. Ia bisa menjadi cahaya yang menuntun langkah menuju persaudaraan, atau menjadi api yang menghanguskan masa depan bersama. Dan mungkin, ukuran paling sederhana untuk mengenali keduanya adalah ini: suara yang berasal dari Tuhan selalu memperluas ruang persatuan, sedangkan suara yang lahir dari hawa nafsu selalu menemukan alasan untuk memecah belah.







