Persatuan Umat Islam: Ketika Berdiri Berdampingan Menjadi Kemuliaan Rasul

KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang kerap luput kita sadari ketika menyaksikan ribuan, bahkan jutaan, manusia berdiri sejajar dalam salat. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sederhana: tubuh-tubuh yang menghadap ke arah yang sama, bergerak serempak dalam rukuk dan sujud. Namun dalam pandangan Islam, peristiwa itu bukan sekadar ritual yang berulang setiap hari. Di baliknya tersimpan pesan yang jauh lebih dalam: persatuan umat adalah kehormatan, bukan hanya bagi kaum Muslim, melainkan juga bagi Rasulullah saw.

Di zaman ketika perbedaan pendapat dengan mudah berubah menjadi pertikaian, persatuan sering dipahami sebagai keseragaman. Padahal keduanya berbeda. Islam tidak menuntut semua orang memiliki pandangan yang sama dalam setiap persoalan, tetapi mengajarkan agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan yang membuka jalan bagi kelemahan bersama.

Di titik inilah makna kebersamaan memperoleh relevansinya. Musuh tidak selalu menang karena kekuatannya sendiri. Sering kali ia menjadi kuat karena melihat lawannya sibuk saling melemahkan. Bahkan sekadar saling menyerang lewat ucapan, saling mencurigai, atau mempertontonkan permusuhan di ruang publik dapat menjadi hadiah yang paling berharga bagi mereka yang memang berharap umat Islam tercerai-berai.

Sebaliknya, ketika umat mampu memperlihatkan kebersamaan, dunia membaca pesan yang berbeda. Kehadiran mereka tidak lagi dipandang sebagai kelompok-kelompok kecil yang saling bertolak belakang, melainkan sebagai sebuah peradaban yang memiliki harga diri.

Gagasan ini sesungguhnya telah lama diajarkan dalam doa Idulfitri yang dibaca setiap tahun. Di antara penggalannya terdapat kalimat yang sangat indah:

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَهْلُ الْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ … أَسْأَلُكَ بِحَقِّ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِي جَعَلْتَهُ لِلْمُسْلِمِينَ عِيدًا وَلِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ ذُخْرًا وَشَرَفًا وَكَرَامَةً وَمَزِيدًا

Artinya:

“Ya Allah, Engkaulah Pemilik keagungan dan kebesaran, (Pemilik kemurahan dan kekuasaan, Pemilik ampunan dan kasih sayang). Aku memohon kepada-Mu demi hari ini yang Engkau jadikan sebagai hari raya bagi kaum Muslimin, serta sebagai simpanan kemuliaan, kehormatan, dan penambah kemuliaan bagi Nabi Muhammad saw. Limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarganya, (masukkanlah aku ke dalam setiap kebaikan yang Engkau masukkan kepada Muhammad dan keluarganya, serta jauhkanlah aku dari setiap keburukan yang Engkau jauhkan dari mereka)”

Baca Juga  Syiah Inggris dan Sunni Amerika: Mengapa Imam Khamenei Menyebut Keduanya Dua Sisi Gunting yang Sama?

Menariknya, doa ini mengaitkan hari raya kaum Muslim dengan kemuliaan Rasulullah saw. Mengapa? Salah satu jawabannya tampak pada pemandangan shalat Id. Ketika jutaan orang berdiri rapat tanpa memandang status sosial, warna kulit, bahasa, atau asal bangsa, yang sedang dipertontonkan bukan sekadar ibadah individual. Mereka sedang menghadirkan citra umat yang utuh. Bahkan keberdekatan jasad-jasad dalam satu saf telah menjadi simbol kehormatan Nabi yang membawa risalah persaudaraan.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini melampaui masjid. Persatuan bukan hanya tampak ketika orang bersujud bersama, tetapi juga ketika mereka mampu menjaga adab dalam berbeda pendapat, menahan diri dari saling menjatuhkan, dan lebih memilih membangun daripada meruntuhkan.

Karena itu, ibadah-ibadah besar dalam Islam hampir selalu memiliki dimensi sosial yang kuat. Haji, misalnya, bukan sekadar perjalanan spiritual pribadi. Ia adalah pertemuan umat manusia dalam skala yang nyaris tak tertandingi. Berjuta-juta orang mengenakan pakaian yang sama, menghapus tanda-tanda status duniawi, lalu bergerak menuju tujuan yang sama. Pesan yang disampaikan kepada dunia sangat jelas: Islam memiliki kemampuan menyatukan manusia yang datang dari latar belakang paling beragam.

Fenomena serupa juga tampak dalam Arba’in. Jutaan peziarah berjalan menuju Karbala dari berbagai negara, bahasa, dan tradisi. Mereka datang dengan motivasi spiritual yang sama, lalu membentuk salah satu perkumpulan manusia terbesar di dunia. Yang menarik, perhatian terhadap peristiwa ini tidak hanya datang dari kalangan Muslim. Banyak pengamat internasional menjadikannya sebagai salah satu fenomena sosial-keagamaan paling luar biasa yang pernah terjadi. Dunia melihat kekuatan sebuah komunitas yang mampu bergerak bersama tanpa komando politik, tanpa paksaan ekonomi, melainkan digerakkan oleh keyakinan.

Namun jika ditarik lebih jauh, inti dari semua itu bukanlah soal angka. Bukan pula kebanggaan karena mampu mengumpulkan massa dalam jumlah besar. Yang lebih penting adalah pesan moral di baliknya: manusia memiliki kekuatan ketika mereka berdiri bersama dalam tujuan yang benar.

Baca Juga  Ali bin Abi Thalib as: Titik Temu yang Terlupakan dalam Persatuan Umat Islam

Sebaliknya, perpecahan yang dipelihara akan mengikis wibawa umat sedikit demi sedikit. Ketika para pemimpin saling menyerang, para cendekiawan saling merendahkan, atau kelompok-kelompok Islam lebih sibuk mencari kesalahan sesamanya daripada memperbaiki keadaan bersama, yang hilang bukan hanya rasa saling percaya. Kehormatan umat ikut terkikis di mata dunia.

Persatuan memang tidak berarti meniadakan kritik. Kritik tetap diperlukan sebagai jalan memperbaiki keadaan. Akan tetapi, kritik yang lahir dari kepedulian berbeda dengan permusuhan yang lahir dari ego. Yang pertama memperkuat bangunan bersama, sedangkan yang kedua justru merobohkan fondasinya.

Mungkin karena itulah Islam begitu menekankan pentingnya berjamaah. Shalat berjamaah mengajarkan bahwa seseorang tidak sedang berlomba menjadi yang paling menonjol. Ia belajar menyesuaikan langkah, mengikuti imam, dan menjaga keteraturan demi kemaslahatan bersama. Pelajaran sederhana yang sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial.

Pada akhirnya, persatuan umat Islam bukan sekadar slogan yang diulang dalam pidato atau spanduk peringatan hari besar. Ia adalah akhlak yang tampak dalam cara berbicara, cara berbeda pendapat, dan cara memandang sesama Muslim sebagai saudara, bukan lawan.

Barangkali, kehormatan Rasulullah saw tidak hanya dikenang melalui pujian yang kita lantunkan, tetapi juga melalui kemampuan kita menjaga warisan terbesar beliau: umat yang tetap mampu berdiri berdampingan, dalam satu saf, satu arah, dan satu cita-cita untuk menghadirkan rahmat bagi semesta.

Bagikan:
Terkait
Komentar