KHAMENEI.ID – Di berbagai penjuru dunia Islam, konflik seolah tidak pernah benar-benar berhenti. Di satu tempat, umat Islam menjadi korban perang dan pendudukan. Di tempat lain, mereka justru saling memerangi atas nama mazhab. Dari Myanmar hingga Nigeria, dari Irak hingga Suriah, darah kaum Muslim kerap tertumpah, bukan hanya karena agresi dari luar, tetapi juga akibat pertikaian di antara sesama.
Di tengah kenyataan itu, Imam Khamenei mengingatkan bahwa kawasan ini sedang menjadi arena pertarungan dua kehendak yang saling bertolak belakang. Kehendak pertama adalah kehendak persatuan, sedangkan yang kedua adalah kehendak perpecahan.
Menurut beliau, seruan persatuan lahir dari orang-orang yang tulus menginginkan kebangkitan umat. Mereka mengajak kaum Muslim kembali kepada titik-titik persamaan yang jauh lebih banyak daripada perbedaannya. Sebaliknya, ada pihak-pihak yang terus meniupkan api permusuhan agar umat Islam tetap terpecah dan saling mencurigai.
Dalam pandangan Imam Khamenei, selama umat Islam terjebak dalam konflik internal, mereka akan terus kehilangan kehormatan dan kekuatannya.
Politik Lama yang Tidak Pernah Benar-Benar Berakhir
Imam Khamenei melihat bahwa politik “pecah belah” bukanlah strategi baru. Ia mengingatkan pada kebijakan kolonial yang dahulu dikenal dengan ungkapan “divide et impera” atau pecah belah lalu kuasai.
Menurut beliau, selama berabad-abad kekuatan kolonial memanfaatkan perbedaan etnis, mazhab, dan identitas untuk memperlemah bangsa-bangsa Muslim. Inggris, misalnya, disebut memiliki sejarah panjang dalam memainkan politik semacam itu, mulai dari anak benua India, Afghanistan, Iran, Irak, hingga Palestina.
Beliau menilai bahwa pembentukan berbagai konflik yang meninggalkan luka panjang di kawasan tidak dapat dilepaskan dari campur tangan kekuatan-kekuatan kolonial. Bahkan tragedi Palestina, menurut Imam Khamenei, merupakan salah satu warisan paling pahit dari kebijakan tersebut.
Karena itu, ketika negara-negara yang memiliki sejarah panjang intervensi justru menuduh pihak lain sebagai sumber ketidakstabilan kawasan, Imam Khamenei memandangnya sebagai ironi sejarah.
Persatuan Adalah Ancaman bagi Politik Dominasi
Mengapa kekuatan-kekuatan besar begitu khawatir terhadap persatuan umat Islam?
Jawaban Imam Khamenei sederhana: karena umat Islam yang bersatu akan menjadi kekuatan yang sulit didominasi.
Jika ratusan juta Muslim mampu bekerja sama berdasarkan kepentingan bersama, maka banyak proyek dominasi politik, ekonomi, maupun keamanan akan kehilangan pijakan. Oleh sebab itu, perpecahan terus dipelihara agar energi umat habis dalam konflik internal.
Beliau menegaskan bahwa seruan kepada persatuan bukan berarti menghapus keragaman mazhab atau identitas. Yang dimaksud adalah kemampuan hidup berdampingan, bekerja sama, dan menjadikan musuh bersama sebagai prioritas, bukan saling menyerang sesama Muslim.
Apa yang Dimaksud “Syiah Inggris”?
Salah satu istilah yang sering digunakan Imam Khamenei adalah “Syiah Inggris” (Shia-ye Engilisi) dan “Sunni Amerika” (Sunni-ye Amrikayi). Istilah ini kerap disalahpahami, seolah-olah merujuk kepada warga Syiah yang tinggal di Inggris atau Sunni yang tinggal di Amerika Serikat.
Imam Khamenei secara tegas menolak pemahaman tersebut.
Menurut beliau, yang dimaksud dengan Syiah Inggris bukanlah identitas kewarganegaraan atau tempat tinggal, melainkan sebuah pola pikir dan perilaku yang tanpa disadari melayani proyek perpecahan yang diinginkan musuh-musuh Islam.
Seseorang yang tinggal di negara Muslim sekalipun dapat termasuk dalam kategori ini apabila aktivitasnya terus-menerus memprovokasi permusuhan mazhab, menghina kelompok Muslim lain, membangun kebencian, dan menjadikan konflik internal sebagai agenda utama.
Dengan kata lain, “Inggris” dalam istilah tersebut merupakan simbol dari inspirasi politik pecah belah yang dahulu identik dengan strategi kolonial Inggris.
Sunni Amerika Bukan Berarti Semua Sunni
Demikian pula istilah “Sunni Amerika” bukanlah label bagi seluruh umat Sunni.
Yang dimaksud Imam Khamenei adalah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Sunni tetapi menjalankan agenda yang justru menguntungkan kekuatan hegemonik dunia. Mereka mengobarkan permusuhan terhadap sesama Muslim, mengkafirkan pihak lain, dan menebarkan kekerasan atas nama agama.
Beliau menyebut kelompok-kelompok seperti ISIS, jaringan takfiri, dan berbagai gerakan ekstrem yang mudah menghalalkan darah sesama Muslim sebagai contoh nyata dari pola tersebut.
Mereka mungkin menjalankan ibadah pribadi, mengenakan simbol-simbol agama, bahkan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. Namun dalam praktiknya, tindakan mereka justru memperlemah umat Islam dan membuka ruang bagi kepentingan pihak luar.
Karena itu, menurut Imam Khamenei, baik “Syiah Inggris” maupun “Sunni Amerika” sesungguhnya memiliki fungsi yang sama.
Dua Sisi Gunting yang Sama
Imam Khamenei menggambarkan kedua arus ekstrem itu sebagai dua bilah gunting.
Sekilas keduanya tampak saling bermusuhan. Yang satu mengatasnamakan Syiah, yang lain mengatasnamakan Sunni. Namun ketika dilihat dari hasil akhirnya, keduanya bekerja menuju tujuan yang sama: memperlemah persatuan umat Islam.
Mereka saling menyerang, saling menghina, dan saling mengkafirkan. Akibatnya, perhatian umat berpindah dari tantangan besar yang dihadapi dunia Islam menuju pertikaian internal yang tidak kunjung selesai.
Di situlah, menurut Imam Khamenei, musuh-musuh Islam memperoleh keuntungan paling besar.
Persatuan Bukan Menghapus Perbedaan
Imam Khamenei tidak pernah mengajak umat Islam meninggalkan keyakinan mazhab masing-masing. Yang beliau serukan adalah kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Perbedaan fikih dan mazhab telah ada selama berabad-abad. Namun perbedaan itu tidak boleh berubah menjadi permusuhan yang menghancurkan masa depan umat.
Persatuan yang dimaksud adalah membangun kerja sama di atas titik-titik persamaan: keimanan kepada Allah swt, kecintaan kepada Rasulullah saw., penghormatan kepada Al-Qur’an, serta komitmen membela kehormatan umat Islam.
Selama perbedaan dikelola dengan akhlak dan kebijaksanaan, ia akan menjadi kekayaan intelektual. Sebaliknya, ketika perbedaan dijadikan senjata politik dan kebencian, ia berubah menjadi pintu masuk bagi dominasi pihak luar.
Imam Khamenei mengingatkan bahwa pertarungan terbesar di dunia Islam hari ini bukanlah antara Syiah dan Sunni, melainkan antara kehendak untuk bersatu dan kehendak untuk memecah belah. Selama umat mampu mengenali jebakan tersebut dan menolak menjadi alat konflik, harapan untuk membangun kembali kemuliaan Islam akan tetap terbuka.







