KHAMENEI.ID – Di tengah zaman yang dipenuhi ledakan informasi, manusia sering menganggap seni sekadar pelengkap kehidupan. Ia ditempatkan di ruang hiburan, galeri, panggung pertunjukan, atau rak buku puisi. Ketika ekonomi memburuk atau politik memanas, seni kerap dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda. Padahal, menurut Imam Ali Khamenei qs, justru di situlah letak kekeliruan besar manusia modern.
Seni bukan aksesori peradaban. Seni adalah salah satu syarat keberadaan manusia itu sendiri.
Dalam berbagai ceramahnya, Imam Ali Khamenei berulang kali menegaskan bahwa seni merupakan fenomena yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Sebagaimana manusia membutuhkan ilmu, bahasa, dan akal, manusia juga membutuhkan seni. Sebab seni lahir dari sesuatu yang paling khas dalam diri manusia: imajinasi dan bakat.
Teknologi mungkin dapat dipelajari. Keterampilan dapat dilatih. Pengalaman dapat dikumpulkan. Namun karya seni yang sejati, menurut beliau, selalu bermula dari daya imajinasi yang hidup dan bakat yang dianugerahkan oleh Allah swt.
Karena itu, semua cabang seni—baik sastra, lukisan, musik, arsitektur, film, maupun bentuk ekspresi lainnya—memiliki akar yang sama. Medianya berbeda, tetapi sumbernya satu: kemampuan manusia menghadirkan makna melalui keindahan.
Di sinilah seni menjadi pembeda utama antara manusia dan sekadar makhluk yang mampu bertahan hidup.
Imam Khamenei kemudian memberikan perhatian khusus kepada puisi. Dalam pandangannya, puisi bukan hanya salah satu cabang sastra. Puisi adalah salah satu mukjizat penciptaan.
Pernyataan ini mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Bukankah puisi hanyalah rangkaian kata-kata?
Justru di situlah letak keajaibannya.
Manusia mampu mengubah gagasan, perasaan, pengalaman, bahkan dunia batinnya menjadi susunan kata yang kemudian mampu menggugah jutaan hati. Sebuah puisi dapat menghidupkan harapan, membangkitkan keberanian, mengabadikan cinta, atau bahkan mengubah arah sejarah.
“Kemampuan menyampaikan pikiran dan gambaran batin kepada orang lain melalui kata-kata adalah sebuah peristiwa yang sangat agung,” demikian inti pemikiran Imam Ali Khamenei.
Menurut beliau, manusia sering gagal menyadari keagungan kemampuan itu karena telah terbiasa menggunakannya setiap hari. Kita berbicara sejak kecil, membaca sejak sekolah, menulis hampir setiap hari. Kebiasaan itu membuat kita lupa bahwa kemampuan berbahasa sesungguhnya adalah salah satu mukjizat terbesar yang diberikan Allah swt kepada manusia.
Al-Qur’an sendiri memberikan penekanan yang sangat menarik mengenai hal ini. Setelah menyebut penciptaan manusia, Allah swt langsung menyebut kemampuan berbahasa sebagai karunia berikutnya:
الرَّحْمٰنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
“Yang Maha Pengasih. Dia telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Dia mengajarinya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman [55]: 1–4).
Bagi Imam Khamenei, urutan ayat ini bukanlah kebetulan. Kemampuan mengungkapkan makna melalui bahasa adalah anugerah Ilahi yang menjadikan manusia mampu membangun ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban.
Lalu mengapa puisi memperoleh kedudukan yang istimewa?
Jawabannya terletak pada unsur keindahan.
Tidak semua ucapan memiliki nilai estetika. Semua bentuk bahasa memang penting, tetapi puisi menghadirkan sesuatu yang lebih: keindahan yang menyatu dengan makna.
Ketika sebuah gagasan besar dibungkus dalam susunan kata yang indah, pesan itu tidak hanya dipahami oleh akal, tetapi juga menyentuh hati. Keindahan membuat kebenaran lebih mudah diterima, lebih lama diingat, dan lebih dalam membekas.
Inilah sebabnya puisi termasuk kategori seni.
Dalam pandangan Imam Khamenei, keindahan bukanlah hiasan yang menempel pada sebuah pesan. Keindahan justru menjadi kendaraan yang memperkuat pesan itu sendiri.
Karena memiliki dimensi estetis, puisi berubah menjadi media komunikasi yang sangat efektif.
Sejarah sebenarnya telah membuktikan hal tersebut. Banyak peradaban dikenang bukan hanya karena kemenangan militernya, melainkan karena syair-syairnya. Banyak revolusi tidak hanya bergerak melalui pidato politik, tetapi juga melalui lagu, puisi, novel, dan karya seni yang membangkitkan kesadaran masyarakat.
Seni bekerja dengan cara yang berbeda dari logika.
Logika meyakinkan pikiran.
Seni menggerakkan hati.
Ketika keduanya bertemu, lahirlah perubahan yang lebih mendalam.
Pandangan Imam Khamenei ini juga menjadi kritik halus terhadap cara sebagian masyarakat memandang seni. Seni sering dinilai hanya dari nilai komersialnya: berapa banyak penonton, berapa banyak penjualan, atau seberapa populer karya tersebut.
Padahal ukuran utama seni bukanlah popularitas semata, melainkan sejauh mana ia mampu mengangkat martabat manusia, menyampaikan gagasan besar, dan memperindah kebenaran.
Di era media sosial, ketika jutaan kata diproduksi setiap detik, justru semakin terasa betapa langkanya kata-kata yang benar-benar memiliki keindahan dan kedalaman. Informasi memang melimpah, tetapi makna sering kali menghilang.
Karena itu, seni memiliki tanggung jawab yang semakin besar. Ia tidak sekadar menghibur, tetapi juga memelihara sensitivitas manusia agar tidak kehilangan rasa, nurani, dan kemampuan merenung.
Pada akhirnya, pemikiran Imam Ali Khamenei mengajak kita melihat seni dari sudut pandang yang jauh lebih luas. Seni bukan aktivitas pinggiran, bukan pula kemewahan yang hanya dinikmati segelintir orang. Seni adalah bagian dari fitrah manusia. Melalui seni, manusia belajar merasakan, memahami, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang indah.
Dan mungkin di situlah letak rahasia mengapa puisi, lukisan, film, dan seluruh cabang seni selalu bertahan melewati zaman. Sebab selama manusia masih memiliki hati, ia akan selalu membutuhkan keindahan untuk menemukan jalan menuju makna.







