KHAMENEI.ID– Suatu bangsa tidak hanya dibangun oleh sumber daya alam, teknologi, atau besarnya investasi. Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar: cara masyarakat memandang kerja. Di sinilah ekonomi sesungguhnya bermula bukan di ruang rapat para pengambil kebijakan, melainkan dalam cara setiap orang menghargai usaha, produktivitas, dan waktu.
Ketika bekerja hanya dipahami sebagai jalan memperoleh penghasilan, semangat itu mudah memudar. Orang bekerja sekadar memenuhi kebutuhan hari ini, bukan membangun masa depan. Namun ketika kerja telah menjadi budaya, bahkan menjadi kebanggaan sosial, lahirlah masyarakat yang produktif, kreatif, dan tangguh menghadapi perubahan.
Di titik inilah pembangunan ekonomi tidak cukup berbicara tentang angka pertumbuhan, lapangan kerja, atau investasi. Yang lebih penting adalah membangun cara pandang kolektif bahwa bekerja merupakan kehormatan. Sebaliknya, kemalasan dan kebiasaan menggantungkan hidup kepada orang lain semestinya dipandang sebagai sesuatu yang tidak layak dipelihara.
Budaya semacam itu tidak lahir secara otomatis. Ia dibentuk oleh percakapan sehari-hari, oleh pendidikan keluarga, oleh media massa, oleh tokoh masyarakat, bahkan oleh cara negara menyampaikan pesan kepada rakyatnya. Ketika ruang publik terus-menerus mengangkat kisah orang-orang yang berkarya, mencipta nilai, dan bekerja keras, masyarakat perlahan belajar bahwa keberhasilan bukanlah hadiah, melainkan buah dari ketekunan.
Sebaliknya, jika kemalasan dianggap lumrah, sementara keberhasilan dipersepsikan sebagai hasil keberuntungan atau kedekatan dengan kekuasaan, maka etos kerja akan kehilangan pijakan moralnya. Sebuah bangsa yang terbiasa mencari jalan pintas lambat laun akan kehilangan daya saingnya sendiri.
Dalam tradisi Islam, penghargaan terhadap kerja memiliki landasan yang sangat kuat. Sebuah riwayat menceritakan bagaimana Rasulullah saw memandang pekerjaan sebagai bagian dari kemuliaan seseorang.
رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا نَظَرَ إِلَى الرَّجُلِ فَأَعْجَبَهُ قَالَ: لَهُ حِرْفَةٌ؟ فَإِنْ قَالُوا: لَا، قَالَ: سَقَطَ مِنْ عَيْنِي.
Artinya:
“Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw apabila melihat seseorang yang membuat beliau terkesan, beliau bertanya, ‘Apakah ia memiliki pekerjaan atau keahlian?’ Jika dijawab tidak, beliau bersabda, ‘Ia jatuh dari pandanganku”
Ungkapan “ia jatuh dari pandanganku” terdengar keras. Namun justru di situlah letak pesan moralnya. Rasulullah saw tidak sedang mengukur nilai manusia dari kekayaan atau status sosial, melainkan dari kesediaannya berusaha. Kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki, tetapi oleh kemauan untuk bekerja secara mandiri dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk bergantung kepada orang lain.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang masih relevan hingga hari ini. Di berbagai tempat, pengangguran sering kali dipahami semata sebagai akibat minimnya kesempatan kerja. Memang benar bahwa negara memiliki kewajiban menghadirkan iklim ekonomi yang sehat dan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Namun tanggung jawab tidak berhenti di sana.
Di sisi lain, masyarakat pun dituntut untuk memiliki semangat mencari peluang, meningkatkan keterampilan, dan berani menciptakan nilai baru. Tidak semua pekerjaan harus menunggu disediakan. Banyak pekerjaan lahir justru karena keberanian seseorang melihat kebutuhan yang belum terpenuhi.
Dalam konteks yang lebih luas, ekonomi tidak tumbuh hanya karena pemerintah bekerja keras. Ia berkembang ketika jutaan individu memiliki semangat yang sama untuk berkarya. Setiap usaha kecil, setiap keterampilan yang diasah, setiap produk yang diciptakan, merupakan batu bata yang menyusun bangunan ekonomi nasional.
Karena itu, penghargaan terhadap kerja seharusnya tidak hanya datang dari penghargaan finansial. Masyarakat juga perlu memberikan penghormatan sosial kepada mereka yang bekerja dengan jujur, apa pun profesinya. Petani, nelayan, guru, pengrajin, pedagang kecil, teknisi, hingga pekerja harian sesungguhnya sedang menjaga denyut kehidupan bersama. Tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan dengan cara yang halal dan memberi manfaat.
Sebaliknya, budaya yang mengagungkan hasil tanpa menghargai proses perlahan akan melahirkan generasi yang ingin berhasil tanpa berjerih payah. Mereka ingin menikmati buah tanpa menanam pohon, ingin menuai tanpa pernah menabur. Padahal sejarah hampir tidak pernah mencatat lahirnya peradaban besar dari masyarakat yang alergi terhadap kerja keras.
Media, lembaga pendidikan, dan para pemimpin memiliki peran penting dalam membangun narasi itu. Kisah tentang inovasi, ketekunan, kewirausahaan, serta perjuangan orang-orang biasa semestinya lebih sering hadir di ruang publik dibandingkan sensasi yang hanya menawarkan popularitas sesaat. Ketika masyarakat terus disuguhi teladan tentang nilai kerja, penghormatan terhadap produktivitas akan tumbuh secara alami.
Pada akhirnya, pembangunan ekonomi bukan semata persoalan anggaran atau kebijakan fiskal. Ia adalah proyek kebudayaan. Ia menuntut perubahan cara berpikir bahwa bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan menghadirkan manfaat, menciptakan nilai, dan menjaga martabat diri.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya, melainkan bangsa yang menjadikan kerja sebagai kehormatan, produktivitas sebagai kebiasaan, dan kontribusi sebagai identitas. Ketika budaya kerja telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari, kemajuan ekonomi bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan konsekuensi yang akan datang dengan sendirinya.







