KHAMENEI.ID – Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, universitas sering dipandang hanya sebagai tempat memperoleh gelar, pekerjaan, atau status sosial. Namun jauh lebih dalam dari itu, perguruan tinggi adalah medan pertarungan gagasan dan ide: apakah ilmu pengetahuan akan menjadi kekuatan untuk membangun bangsa, atau sekadar alat untuk mencetak manusia yang mengikuti kepentingan pihak lain.
Pandangan inilah yang disoroti oleh Imam Ali Khamenei qs dalam salah satu ceramahnya ketika membahas peran universitas, pendidikan, dan lahirnya generasi unggul. Menurut beliau, dalam perspektif Revolusi Islam, universitas bukan sekadar lembaga akademik, melainkan tempat pembinaan manusia unggul yang mampu memecahkan persoalan bangsa dan membawa negara menuju kemajuan.
“Revolusi memandang universitas sebagai tempat untuk mencetak para elite dan orang-orang unggul demi kemajuan negara serta penyelesaian masalah-masalah negara,” demikian gagasan utama yang disampaikan Imam Ali Khamenei qs. Universitas, dalam pandangan beliau, memiliki misi besar: melahirkan generasi yang memiliki kemampuan berpikir, kreativitas, dan keberanian untuk menjawab tantangan sejarah.
Bukan sekadar menghasilkan tenaga kerja, tetapi menciptakan pemimpin intelektual yang memahami kebutuhan masyarakat. Ilmu tidak berhenti di ruang kelas, laboratorium, atau perpustakaan. Ia harus kembali kepada kehidupan nyata: memperbaiki ekonomi, mengatasi ketertinggalan, membangun teknologi, dan menyelesaikan persoalan bangsa.
Menurut Imam Ali Khamenei, inilah perbedaan mendasar antara pandangan revolusioner terhadap universitas dan pandangan yang beliau sebut sebagai arus terbelakang serta anti-revolusi. Jika universitas dipahami hanya sebagai tempat mencetak “alat” untuk menjalankan kepentingan tertentu, maka pendidikan kehilangan ruh kemerdekaannya.
Beliau mengaitkan persoalan ini dengan sejarah panjang kolonialisme dan munculnya bentuk baru penjajahan yang disebut kolonialisme modern atau neo-kolonialisme. Menurut beliau, dunia pernah mengalami masa ketika negara-negara kuat melakukan penjajahan secara terbuka. Sejak sekitar abad ke-17, bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, dan kemudian kekuatan lainnya memperluas kekuasaan melalui pendudukan langsung terhadap wilayah-wilayah yang lebih lemah.
Penjajahan pada masa itu berlangsung melalui kekuatan militer, kekerasan, dan penguasaan sumber daya. Negara yang dijajah kehilangan kendali atas kekayaan dan arah politiknya. Namun setelah melewati beberapa abad, metode tersebut mulai dianggap tidak efektif. Dunia berubah, perlawanan bangsa-bangsa terjajah meningkat, dan muncul strategi baru yang lebih halus.
Di sinilah, menurut Imam Ali Khamenei qs, muncul konsep neo-kolonialisme: bukan lagi menguasai sebuah negara dengan tentara yang datang dari luar, tetapi dengan membentuk individu-individu dari dalam negara tersebut agar menjalankan agenda yang sebelumnya dilakukan oleh penjajah.
“Tujuannya adalah mendidik orang-orang di negara sasaran agar mereka melakukan pekerjaan yang sebelumnya ingin dilakukan oleh penjajah, mengucapkan hal yang ingin disampaikan penjajah, dan mengambil tindakan yang diinginkan penjajah,” demikian inti penjelasan beliau.
Dalam kerangka ini, pendidikan dan universitas menjadi salah satu arena penting. Bukan karena ilmu pengetahuan itu buruk, tetapi karena ilmu selalu berkaitan dengan arah dan tujuan. Siapa yang membentuk sistem pendidikan, nilai apa yang ditanamkan, dan untuk kepentingan siapa ilmu itu digunakan menjadi pertanyaan besar dalam perjalanan sebuah bangsa.
Imam Ali Khamenei menekankan bahwa sejarah kolonialisme dan neo-kolonialisme bukan sekadar teori politik, melainkan tema yang telah banyak dikaji oleh para peneliti dan ditulis dalam berbagai buku. Beliau mendorong generasi muda untuk membaca lebih banyak agar memahami bagaimana hubungan kekuasaan bekerja dalam sejarah dunia.
Keprihatinan beliau terhadap budaya membaca anak muda juga menjadi bagian penting dari pesan tersebut. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah tidak dapat dibangun hanya dari informasi singkat atau potongan berita. Generasi muda perlu mengenal bagaimana bangsa-bangsa dibentuk, bagaimana kekuasaan bekerja, dan bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjadi alat pembebasan.
Dalam konteks modern, gagasan ini kembali relevan. Dunia hari ini tidak hanya bersaing melalui senjata dan ekonomi, tetapi juga melalui teknologi, informasi, budaya, dan penguasaan pengetahuan. Bangsa yang tidak mampu menciptakan ilmu dan inovasi sendiri berisiko hanya menjadi konsumen dari sistem yang dibangun oleh pihak lain.
Karena itu, universitas menjadi lebih dari sekadar gedung tempat mahasiswa belajar. Ia adalah ruang tempat masa depan bangsa dirancang. Apakah ia melahirkan manusia yang mampu berpikir mandiri atau hanya mengikuti arus yang sudah ditentukan?
Pesan Imam Ali Khamenei pada akhirnya mengarah pada satu refleksi: kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak institusi pendidikan yang dimiliki, tetapi oleh visi yang menggerakkan pendidikan itu sendiri. Ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan menuju kemandirian ketika diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan membangun peradaban.
Universitas yang hidup bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi melahirkan generasi yang mampu membaca zamannya. Sebab dalam sejarah panjang manusia, mereka yang menguasai ilmu dan memiliki keberanian untuk menggunakannya sering kali menjadi penentu arah masa depan.







