KHAMENEI.ID– Setiap tahun jutaan manusia bergerak menuju satu titik yang sama: Karbala. Mereka datang dari berbagai kota, bangsa, bahasa, bahkan latar belakang kehidupan yang berbeda. Yang mereka pilih bukan perjalanan singkat dengan kenyamanan penuh, melainkan langkah demi langkah sepanjang puluhan kilometer. Tidak ada panggung hiburan, tidak ada hadiah di garis akhir. Yang ada hanya debu jalan, lelah yang dipeluk dengan ikhlas, dan keyakinan yang terus menghidupkan kaki untuk melangkah.
Fenomena ini sulit dijelaskan hanya dengan logika sosial. Di banyak tempat di dunia, mengumpulkan puluhan ribu orang dalam satu acara membutuhkan promosi besar-besaran, anggaran fantastis, serta mesin media yang bekerja tanpa henti. Itu pun belum tentu berhasil. Namun dalam Arbain, jutaan orang bergerak hampir tanpa komando. Dari Iran saja, jutaan peziarah rela menempuh perjalanan sekitar delapan puluh kilometer menuju Karbala. Belum lagi lautan manusia dari Irak dan berbagai negara lain yang memenuhi jalan yang sama.
Apa yang sesungguhnya menggerakkan mereka?
Jawaban yang paling mudah adalah cinta. Tetapi kata itu sering kali disalahpahami. Cinta kerap dibayangkan sebagai luapan emosi yang membutakan akal, sesuatu yang membuat seseorang kehilangan pertimbangan. Padahal, perjalanan Arbain justru memperlihatkan wajah cinta yang berbeda: cinta yang berpadu dengan kesadaran, keyakinan, dan pemahaman yang mendalam.
Inilah yang membuat Arbain menjadi lebih dari sekadar perjalanan spiritual. Ia adalah manifestasi dari mahabbah, cinta yang mengetahui arah. Para peziarah tidak sedang mencari sensasi. Mereka juga tidak mengejar pengalaman wisata religius. Mereka berjalan karena memahami makna yang sedang mereka dekati. Setiap langkah menjadi pengingat tentang pengorbanan, keadilan, kesetiaan, dan keberanian yang diwariskan Imam Husain a.s di padang Karbala.
Di titik ini, perjalanan fisik berubah menjadi perjalanan batin. Jalan yang panjang justru menjadi ruang untuk menata hati. Rasa letih tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan bagian dari proses mendekat kepada nilai-nilai yang diyakini.
Dalam khazanah doa Islam terdapat sebuah munajat yang menggambarkan hakikat cinta semacam ini.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُوصِلُنِي إِلَى قُرْبِكَ
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku cinta-Mu, cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada setiap amal yang dapat mendekatkanku kepada-Mu”
Munajat para pecinta itu bahkan diawali dengan ungkapan yang begitu menyentuh:
إِلَهِي مَنْ ذَا الَّذِي ذَاقَ حَلَاوَةَ مَحَبَّتِكَ فَرَامَ مِنْكَ بَدَلًا
“Ya Tuhanku, siapakah yang pernah merasakan manisnya cinta kepada-Mu, lalu memilih selain-Mu sebagai pengganti?”
Doa ini memperlihatkan bahwa cinta kepada Tuhan bukan sekadar perasaan yang menghangatkan hati. Ia adalah daya tarik yang mengubah pilihan hidup. Orang yang telah merasakan manisnya cinta ilahi tidak akan mudah terpikat oleh hal-hal yang fana. Cintanya melahirkan orientasi, bukan sekadar emosi.
Gagasan ini kemudian menyentuh makna terdalam dari Arbain. Jalan menuju Karbala bukan hanya jalan menuju sebuah kota, melainkan jalan menuju kedewasaan spiritual. Di sana cinta tidak mematikan akal, tetapi justru mempertajamnya. Semakin seseorang memahami pesan Karbala, semakin kuat pula dorongan untuk meneladani nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, jutaan langkah dalam Arbain sesungguhnya sedang membentuk satu bahasa universal. Bahasa yang tidak memerlukan penerjemah. Ketika seseorang memberikan air kepada peziarah yang tidak dikenalnya, ketika keluarga-keluarga membuka rumah mereka bagi orang asing, atau ketika ribuan relawan melayani tanpa mengharapkan imbalan, semua itu menjadi ungkapan cinta yang lahir dari kesadaran. Cinta yang tidak berhenti pada kata-kata, melainkan menjelma menjadi tindakan.
Dalam konteks yang lebih luas, dunia modern justru sedang mengalami krisis semacam ini. Kita hidup pada zaman ketika perhatian dapat dibeli, emosi dapat direkayasa, dan popularitas dapat diproduksi melalui algoritma. Banyak orang bergerak karena dorongan sesaat, bukan karena keyakinan yang matang. Akibatnya, semangat mudah menyala tetapi juga cepat padam.
Arbain menawarkan pelajaran yang berbeda. Ia menunjukkan bahwa kekuatan terbesar dalam sejarah bukan selalu lahir dari propaganda atau kekuasaan, melainkan dari keyakinan yang berakar dalam hati. Ketika cinta bertemu dengan pemahaman, lahirlah energi yang mampu menggerakkan jutaan manusia tanpa paksaan.
Barangkali di situlah letak keajaiban Arbain. Ia bukan sekadar peristiwa tahunan yang mencatat rekor jumlah peziarah. Ia adalah bukti bahwa manusia masih dapat dipersatukan oleh sesuatu yang lebih tinggi daripada kepentingan pribadi. Magnet yang menarik mereka bukanlah kenyamanan, melainkan makna.
Dan setiap langkah menuju Karbala seolah mengingatkan bahwa perjalanan terpenting dalam hidup bukanlah perjalanan menuju sebuah tempat, melainkan perjalanan menuju hati yang semakin mengenal Tuhannya. Ketika cinta kepada Allah melahirkan cinta kepada setiap amal yang mendekatkan diri kepada-Nya, maka jalan yang berdebu pun berubah menjadi jalan cahaya. Dari sanalah Arbain menemukan maknanya yang paling hakiki: bukan sekadar berjalan bersama jutaan manusia, melainkan berjalan dengan mata hati yang terbuka.







