KHAMENEI.ID – Demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan merupakan tiga slogan yang paling sering dikaitkan dengan peradaban Barat modern. Nilai-nilai tersebut dipromosikan sebagai fondasi tatanan internasional dan sering dijadikan ukuran untuk menilai negara lain. Namun menurut Imam Ali Khamenei qs, sejarah memperlihatkan sebuah paradoks yang tidak bisa diabaikan: di saat slogan-slogan itu dikumandangkan paling lantang, praktik kolonialisme dan dominasi terhadap bangsa-bangsa lain justru mencapai puncaknya.
Bagi Imam Khamenei, kontradiksi inilah yang perlu dikaji secara jujur. Persoalannya bukan pada istilah demokrasi atau hak asasi manusia itu sendiri, melainkan pada bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan secara selektif demi kepentingan politik dan kekuasaan.
Dalam pandangan beliau, sistem liberal-demokrasi yang berkembang di Barat melahirkan negara-negara yang, dalam praktik politik internasionalnya, memiliki kecenderungan untuk mempertahankan dominasi global. Karena itu Imam Khamenei menggunakan istilah istikbar—yang dalam wacana Revolusi Islam merujuk pada sikap arogan, dominasi, dan kecenderungan menindas bangsa lain demi mempertahankan kekuasaan.
Menurut beliau, kecenderungan tersebut bukan sekadar penyimpangan sesaat, melainkan terlihat berulang dalam sejarah hubungan internasional modern.
Imam Khamenei mengajak untuk melihat kembali abad ke-19, masa ketika gagasan demokrasi liberal, kebebasan individu, dan hak asasi manusia berkembang pesat di Eropa. Pada periode yang sama, negara-negara Barat juga memperluas kolonialisme ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dengan kata lain, menurut beliau, dua fenomena itu berjalan berdampingan. Di satu sisi muncul pidato-pidato tentang kebebasan dan kemanusiaan, sementara di sisi lain berlangsung penjajahan, eksploitasi sumber daya, dan penguasaan terhadap bangsa-bangsa yang lebih lemah.
Bagi Imam Khamenei, fakta sejarah tersebut menunjukkan adanya jurang antara nilai-nilai yang diproklamasikan dan praktik politik yang dijalankan.
Salah salah satu contoh yang paling gamblang di era kita sekarang adalah tragedi kemanusiaan di Gaza. Menurut Imam Khamenei, perang tersebut memperlihatkan bagaimana prinsip-prinsip yang selama ini diklaim sebagai fondasi dunia modern diuji dalam situasi nyata.
Beliau menilai bahwa penderitaan besar yang dialami warga sipil Gaza—termasuk anak-anak, perempuan, orang lanjut usia, dan pasien rumah sakit—menjadi cermin bagaimana dunia internasional merespons ketika korban berasal dari pihak yang lemah.
Dalam pandangannya, ribuan korban jiwa, kehancuran permukiman, serta rusaknya infrastruktur sipil bukan hanya merupakan tragedi kemanusiaan, tetapi juga ujian terhadap kredibilitas sistem internasional yang mengatasnamakan perlindungan hak asasi manusia.
Imam Khamenei berpendapat bahwa respons banyak negara Barat terhadap perang Gaza memperlihatkan kontradiksi yang semakin jelas. Menurut beliau, alih-alih menggunakan pengaruh politiknya untuk menghentikan kekerasan, sejumlah pemerintah Barat justru menunjukkan dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada Israel. Dukungan tersebut, dalam pandangan beliau, membuat klaim universal tentang hak asasi manusia kehilangan konsistensinya ketika berhadapan dengan kepentingan geopolitik.
Karena itu beliau menyebut situasi tersebut sebagai gambaran dari “kegelapan moral” dunia modern. Yang dimaksud bukan kemajuan teknologi atau perkembangan ilmu pengetahuan, melainkan krisis etika dalam pengambilan keputusan politik internasional. Ketika penderitaan manusia tidak lagi diukur dengan standar yang sama, maka nilai-nilai universal berubah menjadi alat yang diterapkan secara selektif.
Bagi Imam Khamenei, persoalan utamanya bukan sekadar siapa yang memiliki kekuatan militer terbesar, tetapi siapa yang menentukan standar moral dunia. Jika prinsip keadilan hanya ditegakkan terhadap sebagian pihak dan diabaikan terhadap pihak lain, maka tatanan internasional akan kehilangan legitimasi moralnya.
Pandangan ini sekaligus menjadi kritik terhadap apa yang beliau anggap sebagai standar ganda dalam politik global. Negara-negara yang sering berbicara tentang demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia, menurut beliau, seharusnya menunjukkan komitmen yang sama ketika menghadapi tragedi kemanusiaan, tanpa membedakan siapa korbannya atau siapa pelakunya.
Meskipun demikian, kritik Imam Khamenei tidak berhenti pada penolakan terhadap kebijakan Barat semata. Beliau juga mengajak dunia Islam untuk membangun kekuatan internalnya sendiri agar tidak selalu berada dalam posisi sebagai objek dari percaturan politik internasional. Kemandirian politik, kemajuan ilmu pengetahuan, persatuan umat, serta keberanian mempertahankan prinsip-prinsip keadilan menjadi bagian dari solusi yang berulang kali beliau tekankan.
Dengan demikian, kritik Imam Khamenei terhadap liberalisme Barat bukan diarahkan kepada konsep kebebasan atau demokrasi sebagai nilai universal, melainkan kepada praktik politik yang, menurut pandangannya, sering kali tidak konsisten dengan nilai-nilai yang diklaimnya sendiri.
Pada akhirnya, pesan beliau mengajak pembaca untuk melihat hubungan internasional secara lebih kritis. Sebuah peradaban tidak cukup dinilai dari slogan-slogan yang dikumandangkannya, tetapi dari sejauh mana ia mampu menerapkan prinsip keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap hak hidup setiap manusia secara konsisten, tanpa membedakan kepentingan politik maupun identitas korbannya.







