KHAMENEI.ID– Ada satu ironi yang kerap luput kita sadari. Kita lebih sering menghitung nikmat yang belum dimiliki daripada bertanya: ke mana sebenarnya nikmat yang sudah ada ini kita arahkan? Padahal, dalam pandangan agama, persoalannya bukan sekadar berapa banyak anugerah yang diterima, melainkan apakah anugerah itu tetap menjadi nikmat atau justru berubah menjadi petaka karena cara kita menggunakannya.
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s mengingatkan melalui sebuah hadis yang singkat, tetapi mengguncang kesadaran:
طُوبَى لِمَنْ لَمْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا، طُوبَى لِلْمُتَحَابِّينَ فِي اللَّهِ
“Berbahagialah orang yang tidak mengubah nikmat Allah menjadi kekufuran (kedurhakaan). Berbahagialah orang-orang yang saling mencintai karena Allah”
Kalimat itu tidak berbicara tentang kehilangan nikmat. Yang dipersoalkan justru sesuatu yang lebih halus: mengubah nikmat menjadi bentuk pengingkaran terhadap Sang Pemberi. Di sinilah letak tragedi yang sering tidak disadari. Nikmat tidak selalu hilang; kadang ia tetap berada di tangan kita, tetapi nilainya telah berubah karena dipakai melawan tujuan yang dikehendaki Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, nikmat sering dipahami sebagai harta, kesehatan, atau umur panjang. Padahal, cakupannya jauh lebih luas. Kemampuan berbicara adalah nikmat. Pengetahuan adalah nikmat. Kepercayaan orang lain adalah nikmat. Bahkan kesempatan memimpin, sekecil apa pun lingkupnya, juga merupakan nikmat yang harus dipertanggungjawabkan.
Lidah, misalnya, dapat menjadi jembatan menuju kebaikan. Dengan kata-kata, seseorang mampu menguatkan hati yang patah, menyebarkan ilmu, mendamaikan perselisihan, dan menghidupkan harapan. Namun, lidah yang sama juga bisa digunakan untuk menyebarkan fitnah, kebencian, kebohongan, atau memutarbalikkan kebenaran. Yang berubah bukan nikmatnya, melainkan arah penggunaannya. Di situlah nikmat perlahan menjelma menjadi bentuk pengingkaran.
Di zaman media sosial, contoh ini terasa semakin dekat. Teknologi memberi setiap orang ruang berbicara tanpa batas. Satu unggahan dapat menjangkau ribuan, bahkan jutaan orang. Kemampuan menyampaikan pesan menjadi karunia yang luar biasa. Tetapi ketika ruang itu dipenuhi hasutan, penghinaan, manipulasi informasi, atau pencarian popularitas dengan mengorbankan martabat orang lain, nikmat yang sama berubah menjadi beban yang kelak harus dipertanggungjawabkan.
Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan ini tidak berhenti pada kemampuan berbicara.
Harta juga termasuk nikmat yang paling sering menguji manusia. Banyak orang mengira kekayaan adalah tujuan, padahal ia hanyalah alat. Dengan harta, seseorang dapat mengangkat kehidupan orang lain, memberi makan mereka yang kelaparan, membiayai pendidikan, membangun rumah ibadah, atau menolong keluarga yang sedang terpuruk. Semua itu membuat harta menjadi jalan menuju derajat yang lebih tinggi.
Sebaliknya, uang yang sama dapat dipakai untuk menyuburkan korupsi, membeli pengaruh, merusak moral, memperluas kemaksiatan, atau menindas sesama. Nilai hartanya tetap sama, tetapi maknanya berubah total. Ia bukan lagi nikmat, melainkan saksi atas pengkhianatan terhadap amanah Tuhan.
Dalam konteks yang lebih luas, jabatan dan kekuasaan juga termasuk nikmat yang amat besar. Tidak semua generasi memiliki kesempatan menentukan arah masyarakatnya. Ada masa ketika keputusan publik sepenuhnya berada di tangan mereka yang tidak memedulikan agama, keadilan, ataupun kepentingan rakyat. Namun ketika seseorang diberi amanah memimpin, baik sebagai pejabat negara, kepala sekolah, pemimpin perusahaan, ketua organisasi, bahkan kepala keluarga, ia sedang menerima salah satu nikmat terbesar.
Masalahnya bukan pada besarnya jabatan, melainkan bagaimana kekuasaan itu digunakan.
Kepemimpinan yang dipakai untuk melayani masyarakat, memperbaiki keadaan, membuka jalan keadilan, dan mengurangi penderitaan manusia merupakan bentuk syukur yang nyata. Sebaliknya, jabatan yang hanya menjadi alat memperkaya diri, mempertahankan kekuasaan, atau membiarkan ketidakadilan terus berlangsung adalah contoh nyata bagaimana nikmat berubah menjadi pengingkaran.
Di titik ini, syukur ternyata bukan sekadar ucapan alhamdulillah. Syukur adalah cara menggunakan setiap karunia sesuai dengan tujuan yang benar. Sebaliknya, kufur nikmat bukan semata-mata tidak berterima kasih, melainkan menyalahgunakan amanah yang telah dipercayakan Allah.
Karena itu, seseorang mungkin tampak hidup dalam limpahan nikmat, tetapi sesungguhnya sedang mengikis nilainya sedikit demi sedikit. Sebaliknya, orang yang memiliki sedikit harta, sedikit pengaruh, dan sedikit kemampuan bisa jadi justru termasuk orang-orang yang benar-benar mensyukuri nikmat, sebab apa yang ia miliki selalu diarahkan untuk menghadirkan manfaat.
Hadis Imam Ja’far ash-Shadiq a.s kemudian ditutup dengan kalimat yang seolah melengkapi pesan sebelumnya: “Berbahagialah orang-orang yang saling mencintai karena Allah.”
Mengapa cinta karena Allah disandingkan dengan menjaga nikmat? Sebab hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan pribadi sering kali mendorong seseorang menyalahgunakan nikmatnya. Persahabatan demi keuntungan, kekuasaan, atau popularitas mudah berubah menjadi persekongkolan dalam keburukan. Sebaliknya, persaudaraan yang berakar pada nilai-nilai ilahi akan saling mengingatkan ketika salah satu mulai tergelincir menggunakan nikmat ke arah yang keliru.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan mengumpulkan nikmat sebanyak-banyaknya. Yang akan dinilai bukan seberapa banyak yang kita miliki, melainkan apa yang kita lakukan dengan semua itu.
Mungkin itulah sebabnya hadis ini diawali dengan kata tuba sebuah ungkapan kebahagiaan yang mendalam, keberuntungan yang sejati. Bahagia bukanlah milik mereka yang memiliki karunia paling besar, melainkan mereka yang mampu menjaga agar setiap karunia tetap menjadi jalan menuju Allah, bukan berubah menjadi alasan untuk menjauh dari-Nya.
Sebab nikmat tidak selalu menyelamatkan manusia. Yang menyelamatkan adalah ketika nikmat itu tetap menjadi nikmat hingga akhir hayat.







