KHAMENEI.ID– Ada banyak harapan yang lahir dalam hidup manusia. Sebagian tumbuh menjadi kenyataan, sebagian lain gugur di tengah jalan. Kita berharap ekonomi membaik, perang berakhir, keadilan ditegakkan, atau kehidupan menjadi lebih damai. Namun semua harapan itu selalu menyimpan kemungkinan gagal. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa impian manusia sering kali dikalahkan oleh kepentingan, kekuasaan, dan kelemahan dirinya sendiri.
Di tengah rapuhnya harapan-harapan itu, Islam menghadirkan satu harapan yang berbeda. Bukan sekadar optimisme psikologis, melainkan sebuah janji ilahi yang dipastikan akan terwujud. Itulah harapan akan kemunculan Imam Mahdi afs, Sang Penegak Keadilan Akhir Zaman.
Karena itu, peringatan pertengahan bulan Sya’ban bukan semata perayaan kelahiran seorang tokoh suci. Ia adalah perayaan terhadap masa depan. Sebuah pengingat bahwa sejarah manusia tidak akan berakhir dalam kekacauan, melainkan menuju titik ketika keadilan memperoleh kemenangan yang telah dijanjikan Allah.
Dalam salah satu doa yang masyhur, Ziarah Ali Yasin, terdapat ungkapan yang begitu kuat:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَعْدَ اللَّهِ الَّذِي ضَمِنَهُ
“Salam sejahtera bagimu, wahai janji Allah yang telah Dia jamin”
Doa itu dilanjutkan dengan kalimat yang semakin menegaskan maknanya:
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا الْعَلَمُ الْمَنْصُوبُ وَالْعِلْمُ الْمَصْبُوبُ وَالْغَوْثُ وَالرَّحْمَةُ الْوَاسِعَةُ وَعْدًا غَيْرَ مَكْذُوبٍ
“Salam bagimu, wahai panji yang ditegakkan, ilmu yang tercurah, penolong, rahmat yang luas, serta janji yang tidak akan pernah didustakan”
Di sini, Imam Mahdi afs tidak hanya digambarkan sebagai seorang pemimpin masa depan. Ia disebut sebagai “janji Allah”. Sebuah janji yang telah dijamin sendiri oleh Sang Pencipta. Jika manusia bisa mengingkari ucapannya, Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Gagasan ini memberi warna yang khas dalam pandangan Islam tentang masa depan. Harapan bukan dibangun di atas perkiraan politik, analisis ekonomi, atau kalkulasi kekuatan militer. Harapan bertumpu pada kepastian bahwa kehendak Allah akan mengalahkan seluruh bentuk kezaliman, betapapun panjang usia kezaliman itu.
Dalam konteks yang lebih luas, keyakinan tentang datangnya seorang penyelamat ternyata bukan hanya milik umat Islam. Hampir seluruh agama besar di dunia mengenal gagasan tentang hadirnya sosok yang akan membawa dunia menuju masa keadilan dan kedamaian. Ada kerinduan universal yang hidup dalam hati manusia: dunia ini tidak mungkin dibiarkan selamanya dikuasai oleh kebatilan.
Namun, tradisi Syiah memiliki kekhasan yang mendalam. Harapan itu bukan diarahkan kepada sosok yang samar atau hanya berupa simbol masa depan. Imam Mahdi afs diyakini sebagai pribadi yang nyata, hidup atas kehendak Allah, meskipun berada dalam masa gaib. Ia bukan sekadar konsep teologis, melainkan seorang imam yang dikenal identitasnya, dicintai, didoakan, dan menjadi tempat umat menambatkan harapan.
Di titik inilah hubungan antara seorang mukmin dengan Imam Mahdi afs menjadi sangat personal. Dalam berbagai doa, kaum beriman menyapanya, berbicara kepadanya, memohon kepada Allah melalui kedekatannya, serta meyakini bahwa salam dan doa itu tidak pernah sia-sia.
Salah satu pesan yang dinisbahkan kepada Imam Mahdi afs mengajarkan adab itu. Ketika hendak mendekat kepada Allah melalui para kekasih-Nya, umat diajarkan mengucapkan salam kepada keluarga Nabi saw, kemudian menyapa Imam afs dengan berbagai gelar yang mencerminkan misinya.
Ia dipanggil sebagai penyeru menuju Allah, penerjemah Kitab Allah, hujah Allah di muka bumi, sisa bukti-Nya yang masih ada, penolong manusia, sekaligus rahmat yang luas bagi seluruh alam. Setiap gelar bukan sekadar penghormatan, melainkan penegasan tentang peran yang akan dimainkan ketika saat yang dijanjikan itu tiba.
Menariknya, doa tersebut bahkan menyebut berbagai keadaan keseharian Imam afs: ketika duduk, berdiri, membaca Al-Qur’an, rukuk, sujud, bertakbir, berzikir, hingga ketika malam dan siang silih berganti. Seolah-olah doa itu ingin menghapus jarak antara langit dan bumi, antara masa gaib dan kehidupan sehari-hari umat yang menantinya.
Harapan pun berubah menjadi hubungan yang hidup.
Sayangnya, dalam kehidupan modern, manusia justru semakin akrab dengan pesimisme. Berita tentang perang, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, hingga krisis moral datang tanpa jeda. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi rasa putus asa juga tumbuh dengan kecepatan yang sama. Banyak orang mulai percaya bahwa dunia memang ditakdirkan semakin buruk.
Di sinilah keyakinan terhadap kemunculan Imam Mahdi afs memperoleh makna yang jauh melampaui perdebatan teologis. Ia menjadi energi spiritual yang menjaga manusia agar tidak menyerah kepada keadaan. Menanti bukan berarti berdiam diri. Menanti berarti memelihara keyakinan bahwa setiap upaya menegakkan keadilan, sekecil apa pun, merupakan bagian dari perjalanan menuju janji Allah.
Harapan yang sejati bukanlah menunggu keajaiban sambil berpangku tangan. Harapan adalah keberanian untuk tetap berbuat benar ketika dunia tampak berjalan ke arah yang salah.
Karena itu, menanti Imam Mahdi afs sesungguhnya juga berarti menyiapkan diri menjadi manusia yang layak menyambut hadirnya keadilan. Sebab bagaimana mungkin seseorang mengaku merindukan dunia yang adil jika ia sendiri masih akrab dengan ketidakjujuran, kezaliman, dan pengkhianatan dalam kehidupan sehari-hari?
Akhirnya, pertengahan Sya’ban mengajarkan satu pelajaran sederhana namun sangat dalam. Semua harapan manusia mungkin gagal. Semua rencana bisa berubah. Semua prediksi dapat meleset. Tetapi ada satu harapan yang tidak pernah kehilangan kepastiannya: janji Allah untuk menghadirkan keadilan melalui Imam Mahdi afs.
Selama janji itu tetap diyakini, selama itu pula umat manusia memiliki alasan untuk tidak menyerah kepada keputusasaan. Sebab sejarah, pada akhirnya, bukan sedang berjalan menuju kegelapan, melainkan menuju cahaya yang telah dijanjikan sejak awal.







